HAANIYA.

HAANIYA.
Zivanna atau Haaniya.



Di kota yang terkenal akan Kasino dan dunia malamnya, Seorang pria melangkah dengan begitu gagahnya, memasuki sebuah gedung dimana pesta pernikahan anak-anak pebisnis di gelar begitu meriahnya.


Pria itu langsung menghampiri raja dan ratu sehari itu kemudian menjabat tangan mereka mengucapkan selamat kepada pasangan yang sedang berbahagia, sebagai formalitas! Sebelum berbalik dan pergi dari sana. Karena Pria itu kurang menyukai suara bising yang seperti itu. Terkecuali suara keributan yang dia buat atau desa-han jala-ng yang dia bayar! Dan jangan lupa satu lagi, suara umpatan yang keluar dari bibir indah Ivanna untuk dirinya.


Pria itu terus melangkah menjauh dengan begitu tergesa-gesa, sehingga ia tidak sengaja menabrak seorang wanita yang baru datang bersama suaminya. "Maaf tuan, aku tidak sengaja." Ucap Wanita itu, memohon maaf, padahal dialah yang hampir terjatuh dan mungkin saja akan terbaring cantik di lantai marmer itu, jika sang suami tak menahannya.


" Ah, tuan Regan tolong maafkan keteledoran istri saya." Suami dari wanita itu pun ikut meminta maaf kepada pria yang di panggil Regan itu.


Walaupun kesalahan sepenuhnya bukan dari istrinya! Tapi siapa yang berani menyalahkan pria kejam dan tak berhati itu, lebih baik mereka mencari aman dengan menjilatinya dari pada harus di kirim pulang ke pangkuan tuhan Sebelum waktunya.


" Tuan, kenapa anda sendiri? dimana istri anda?" Tanya wanita itu lagi, bukan bermaksud untuk mengejek.


" Sayang apa yang kamu lakukan! Tuan Regan belum menikah." Tegur sang suami." Jaga ucapan kamu." Pria itu kembali memperingati istrinya.


Sementara pria yang bernama Regan, hanya memijit pelipisnya saja! Kepalanya mulai berdenyut saat mendengar perdebatan pasangan di hadapannya, belum lagi suara bising dari tamu undangan lain. Rasanya Regan ingin mengeluarkan pistol dari saku jasnya dan membuat mereka bungkam untuk selama-lamanya karena terlalu berisik.


" Apa yang salah dengan ucapan aku! Lagian yang aku katakan itu benar, kamu tahu kan, aku seorang MUA! Dan aku pernah meriah wajah istrinya, aku bahkan punya fotonya.." Wanita itu terus berbicara, karena tidak terima di tuduh berbicara omong kosong oleh suaminya.


" Cukup." Bentak Regan, membuat kedua orang itu langsung terdiam, bukan hanya pasangan suami istri itu saja. Bahkan beberapa tamu undangan yang berdiri tidak jauh dari mereka pun ikut terdiam.


" Tadi kamu bilang apa?" Tanya Regan kepada wanita yang mengaku dirinya MUA itu.


" Ak-aku MUA yang di minta asisten anda untuk merias wajah nona Ivana." Jawab wanita itu sedikit gugup, Pasalnya tatapan Regan begitu tajam. seakan dapat mencabik-cabik tubuhnya, hanya dengan melihat saja.


" Kamu yakin dengan ucapan kamu? Kenapa kamu masih mengingat namanya! Aku sendiri saja lupa akan nama itu." Ucap Regan berbohong sengaja ingin menguji kebenaran dari ucapan wanita itu. Walaupun nama Ivanna sendiri saja sudah lebih dari cukup membuktikan semuanya! Kenapa begitu, ya Karena banyak yang tidak tahu hubungan mereka, pesta mereka saja di gelar dengan tertutup dan tidak ada satupun media yang tahu. " Sudahlah, aku tidak punya waktu untuk mendengar ceritamu, kamu bilang kamu punya fotonya, berikan kepadaku." Desak Regan sembari meminta anak buahnya menyerahkan ponselnya, agar wanita itu dapat melihat foto calon istrinya itu. Sedangkan dirinya kembali dan menunggu di mobil.


Baru saja Regan masuk kedalam mobilnya, sebuah notip dari ponselnya, membuat Regan yang penasaran seperti apa wajah Ivanna-nya langsung memeriksa foto itu. " Ternyata seperti ini wajah kamu, tanpa kacamata, tanpa tai lalat serta kulit kusam dan gelap itu. Cantik." Puji pria itu kemudian mengirim gambar yang baru saja dia dapat kepada anak buahnya di bidang IT.


"Aku tidak akan biarkan kamu beristirahat di sana dengan tenang Ivanna, setelah kamu mengkhianati-ku demi lelaki brengsek itu." Teriak Regan sembari memukul kuat stir mobilnya. Mengingat bagaimana wanita itu memilih untuk melompat bersama Keenan, ia bahkan rela di tembok demi menolong pria, rasa menemukan mayat pria itu dan membakar hingga menjadi abu tidak cukup, untuk membuat perasaannya membaik hingga sekarang. " Sial, aku membutuhkan jala-ng." Umpat, pria itu, kemudian melajukan mobilnya, menuju tempat yang bisa dia dapatkan jala-ng bersih untuknya memuaskan dirinya.


Dan keesokan harinya dia langsung tahu wanita yang memiliki wajah seperti Ivanna itu berada dimana, walaupun kabar yang dia dapat dari anak buahnya, wanita itu baru saja melangsungkan pernikahannya. Namun Regan memutuskan untuk tetap datang, dia harus memastikan sendiri itu Ivanna-nya atau hanya kebetulan wajah mereka yang mirip, dan disinilah pria itu saat berdiri di tepi pantai sembari melihat mobil wanita itu bergerak menjauh. " Zivanna atau Haaniya, kamu adalah milikku, Aku harus mendapatkan kamu lagi." Kamu sini, ucap pria itu lagi, sembari memanggil anak buahnya untuk mendekat.


Saat merasa Jantungnya kembali berdetak seperti pertama kalinya, ia berjumpa dengan Ivanna, rasanya begitu sakit hingga membuat pria itu mempercayai itu Ivanna. Walaupun otaknya menolak keras hal itu.


"Lakukan cara apapun, sehingga perusahaan kita dapat bekerja sama dengan perusahaan tempatnya bekerja dan aku ingin di pertemuan itu dia harus ikut." Ucap pria itu kepada Anak buahnya yang baru saja dia panggil.


Setelah memberi Titah kepada anak buahnya, Regan langsung menuju club' malam, untuk bersenang-senang dan membiarkan anak buahnya yang bekerja.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Malam itu! Hani benar-benar tidak pulang, ia menghabiskan waktu bersama Lita dan Ela di club, ketiganya minum-minum! Hingga turun ke lantai dansa, bergabung dengan pengunjung club' lain, tanpa takut ada yang mengenali mereka, karena saat ini mereka tengah mengunakan topeng untuk menutup setengah wajah mereka.


Wanita itu bahkan tidak sadar, jika ponselnya di dalam tas, sudah berulang kali berdering. Setelah merasa lelah dan cukup untuk malam itu, ketiganya memutuskan untuk pulang. walaupun dengan keadaan yang sudah hampir setengah sadar namun ketiganya masih bisa mengendarai mobil menunju apartemen Hani.


"Kakak ipar! apa kamu tidak takut bang Rendra akan marah, saat tahu kalau berpenampilan seperti ini, mana mabuk."


" ciih jangan menyebut kakakmu itu! Aku hanya ingin sedikit bersenang-senang dengan kalian apa itu tidak boleh."


" Tentu saja boleh! lagian bang Rendra juga punya dunia mereka sendiri, sudah saatnya kamu juga menikmati dunia kamu dengan bersama kita, tentunya.


Ketiganya, kembali melanjutkan kegilaan mereka dengan bercanda dan tertawa bersama sepanjang perjalanan pulang.