
"Kakek sudah sembuh, hanya saja kakek sudah tidak bisa mencari pekerjaan lagi seperti dulu, untuk itu mama harap kamu tetap menanggung perawat kakek kamu dan kebutuhan kita, kamu tidak keberatan kan, sayang." Tanya Ria kepada putri satu-satunya itu, Karena hidup mereka benar-benar susah semenjak ayahnya sakit gagal ginjal. Dia yang saat itu baru keluar penjara begitu sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Bahkan untuk makan saja sulit, bersyukurnya mereka masih memiliki rumah dari penghasilan orangtuanya selama berkerja di rumah kediaman Xavier dan semua itu berkat belas kasih kakeknya Hani. Untung saja dia bertemu lagi dengan Lisa, sehingga kehidupan mereka menjadi lebih baik, karena Lisa,lah yang memberikan mereka uang, jika anaknya itu telah kehabisan uang maka dia akan mengajarkan Lisa berbohong untuk mendapatkan apa yang mereka apa yang dia inginkan. Bahkan tak jarang Lisa sering mengelapkan dana yayasan, jika di desak sang mama, tentu saja semua itu tanpa sepengetahuan Melly dan yang lainnya. " Sayang, kamu tahukan, mama belum bisa mendapatkan pekerjaan karena orang-orang tidak mau memperkerjakan mama yang seorang mantan napi ini. Mama dan kakek cuma bisa bergantung sama kamu untuk saat ini. Kamu tidak keberatan kan sayang dan sekarang mama sedang membutuhkan uang untuk kakek kamu." Sambung wanita itu lagi, sembari menggenggam erat tangan putrinya, tatapannya begitu seduh serta penuh harap pada Lisa, putrinya itu.
" Maaf mah, Lisa bukannya tidak mau membantu mama dan kakek. Tapi Lisa benar-benar sudah tidak punya tabungan lagi." jawabnya. " Tante Luna juga sudah mulai mencurigai aku mah, Sehingga Lisa sudah tidak di percaya lagi untuk mengelola bagian keuangan. Syukurnya Lisa masih di biarkan kerja disana." Lanjutnya memberitahu sang mama.
" Ya udah kamu ngomong sama Daddy kamu, biar di pindahkan ke perusahaan mereka. Mama yakin gaji di perusahaan Daddy kamu jauh lebih besar dari yayasan itu." Ria tidak kehabisan akal untuk mendatangkan pundi-pundi uang untuk keluarga. Wanita itu tidak pernah berubah, uang tetap menjadi yang nomor satu.
"Lisa sudah mengatakan itu, kepada Daddy dan mommy Melly, tapi Tante Dian menolaknya, Bukan hanya Tante Dian, Aiden pun tidak setuju, sehingga aku hanya bisa bekerja di yayasan saja." Ucap Lisa, membuat Ria nampak berpikir, sesuatu.
" Oh iya, kamu pernah bilang kalau kamu punya pacarkan?" Tanya Ria lagi, Lisa pun dengan cepat mengangguk kepalanya." Siapa nama pacar kamu?"
" Arga mah." Jawab Lisa dengan dahi yang berkerut," Ya udah kamu, telpon dia sekarang, terus minta uang sama dia_"
" Nggak-nggak Lisa nggak mau, malu ih masa Lisa harus minta uang sama mas Arga." Tolak Lisa dengan cepat, Sebelum mamanya selesai berbicara.
" Kenapa harus malu, kalau dia sayang pasti dia akan berikan apa yang kamu minta. Kamu coba aja dulu, kalau dia nggak mau berarti dia nggak serius sama kamu, cuma mau mainin kamu aja." Sebagai seorang ibu, harusnya wanita itu mengajarkan anaknya untuk menjadi lebih baik, tapi yang terjadi kepada ria juga sebaliknya. " Ayo cepat telpon pacar kamu." Desak wanita itu lagi.
Lisa pun tidak punya pilihan ia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya kemudian mendeal nomor Arga. " Aku harus minta berapa tanya Lisa," wanita itu hanya mengerakan bibirnya tanpa mengeluarkan suara karena panggilan itu sudah masuk tapi belum dijawab oleh.
" Lima puluh juta. Jawab ria dengan memberikan isyarat bibirnya. " Hampir saja Ria berteriak jika ia tidak langsung membekap mulutnya sendiri mengunakan telapak tangannya.
" Hallo sayang, ada apa? Tumben Kamu telpon, kangen ya." Sahut Arga dari seberang sana dengan sedikit menggoda kekasihnya itu.
Membuat Lisa tersipu, karena arga selalu menggodanya seperti ini, di saat mereka berbicara berdua, entah itu melalui telepon atau saat bertemu. Sementara di hadapannya, Ria terus mendesak Lisa untuk mengatakan tujuannya dan jangan terlalu lama berbasa-basi. Dengan memberi isyarat kepadanya melalui gerakan bibir dan tangannya.
" Kamu tahu aja yank! Yank, kamu tahu nggak, kamu itu selalu ngangenin buat aku." Sahut Lisa, membuat Ria memutar bola matanya malas. " Oh Iya mas, aku bisa minta sesuatu nggak sama kamu?" Tanya Lisa, saat melihat wajah sang yang mulai tak bersahabat. Jika di lihat-lihat, sifat Lisa itu agak mirip dengan Hani, keduanya sama tidak bisa menolak wanita yang telah melahirkan mereka. Tapi selebihnya, Hani tentu lebih unggul dari segi manapun dan dia tidak seperti Lisa yang tidak tahu berterima kasih. Sudah di berikan hidup enak, dicintai layaknya anak kandung, di berikan pendidikan dengan fasilitas yang nomor satu, tapi pada akhirnya wanita tetap melempar kotoran kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya sungguh miris dan tidak tahu diri sekali.
"Aku butuh uang, cuma lima puluh juga aja! Kamu ada nggak yank." Jawab Lisa.
Mendengar hal itu, Arga langsung terdiam namun terdengar helaan nafas berat pria itu dari seberang sana. " Nanti aku kirim, aku lanjut kerja lagi ya." Ucap Arga tanpa banyak bertanya kemudian mengakhiri panggilan itu begitu saja tanpa menunggu sahutan dari Lisa.
" Ma dia mau ma." Ucap Lisa penuh kegirangan, sambil menggenggam tangan mamanya.
" Benarkah." Lisa mengangguk kemudian menunjuk notip m-bankingnya. Kepada sang mama.
" Sayang, kamu dengar ucapan mama baik-baik." Lisa kembali mengangguk kepalanya. "Kamu harus membujuknya untuk segera menikahi kamu, karena dengan begitu kamu tidak perlu berkerja keras lagi, mama yakin! Setelah Luna mengantikan posisi kamu di yayasan, cepat atau lambat mereka akan mengetahui uang-uang yang pernah kamu ambil. Kamu harus segera menikahi pacar kamu itu untuk memperkuat posisi kamu, kamu nggak mau kan kehilangan semua yang kamu miliki saat ini. Karena mama yakin, begitu semuanya terbongkar, mommy dan Daddy mu itu pasti akan mengusir mu."
" Tapi ma_"
" Udah kamu nggak usah banyak berpikir dan turuti saja ucapan mama. Mama melakukan ini untuk kebaikan kamu." Sela Ria, wanita itu tentu tidak ingin kehilangan tambang uangnya yang baru begitu saja.
" Ya udah ma. Nanti aku ngomong sama mas Arga."
" Jangan cuma ngomong kalau bisa desak dia! Ya udah kirim uang itu ke mama, mama harus pergi karena kakek kamu pasti membutuhkan mama." Sahutnya sembari meminta untuk yang baru saja di kirim Arga. Lisa pun tidak banyak membantah dan langsung mengirim uang itu kepada Mamanya.
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan Ria pun meninggalkan Lisa begitu saja. Dan tak lama setelah itu, Lisa pun meninggalkan restauran itu. Tanpa mereka sadari, pembicaraan mereka telah di rekam oleh seseorang yang membelakangi mereka.
" Hani harus tahu hal ini." Gumam orang itu. Sembari melihat punggung Lisa yang telah menghilang di balik pintu keluar restoran.