HAANIYA.

HAANIYA.
Pembicaraan perjodohan.



Disaat Hani sedang mengecek bisnis-bisnisnya, setelah sekian lama ia tinggali, di rumah orang tuanya justru sedang membicarakan rencana perjodohannya dengan Narendra yang sempat tertunda, karena Hani hilang entah kemana.


Disana juga sudah ada tuan Sanjaya. karena pria paruh bayah itu yang justru mengingatkan anak-anaknya, untuk melanjutkan apa yang telah di rencanakan mereka bersama tuan Xavier.


" Om, apa ini nggak terlalu cepat! Hani aja baru kembali di tengah-tengah kita loh, nggak bisa gitu di tunda dulu sampai setahun. karena jujur saja aku masih sangat merindukan anak itu." Ucap Dian. saat tuan Sanjaya membahas soal rencana perjodohan Hani dan Narendra. Sore tadi, saat Luna dan yang lainnya akan pulang, tuan Sanjaya tiba-tiba datang, pria paruh itu ingin berjumpa dengan Hani. Tentu saja ia tidak bertemu dengan gadis itu! karena Hani dan Lita sudah lebih dulu pergi dari sana, keduanya terlalu asing berada di antara orang-orang itu. karena hanya Bunda Dian yang begitu excited dengan keberadaan mereka berdua. Akhirnya ia pun meminta, cucu-cucunya untuk pulang karena ada yang harus ia bicarakan dengan orang tua mereka. Dan disinilah mereka, sekarang. Ruang tamu keluar Xavier.


" Nak! kamu masih bisa bertemu dengan-nya dan sampai kapanpun dia akan menjadi anak kamu! hanya statusnya aja yang berbeda, selebihnya dia masih sama." Jelas tuan Sanjaya untuk menyakinkan keraguan Dian


" Tapi om_"


" Sudahlah nak! kamu tidak perlu khawatir semua akan baik-baik saja. Percaya sama om." Sambung tuan Sanjaya sebelum Dian sempat mengucapkan penolakannya.


" Yah, tapi Narendra kan belakangan ini dekat sama Nahla, apa kita nggak terlalu kejam memisahkan mereka." Ucap Jayden. Pria itu terlihat tidak begitu setuju serta dilema sendiri dengan lanjutnya perjodohan Hani dan Narendra. Karena di satu sisi Hani begitu berarti untuknya, di sisi lain Nahla juga tidak kalah berarti seperti Hani.


Tuan Sanjaya mengetuk-ngetuk kan jari telunjuknya pada pahanya sendiri sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, membenarkan apa yang di katakan oleh Jayden." Bukankah sejak awal, pertunangan ini tidak di tutup-tutupi dan telah diketahui oleh kalian semua! Ayah rasa apa yang sudah seharusnya menjadi milik Hani di kembalikan kepada-nya. Toh mereka hanya dekat dan belum menikah, lagian tidak ada salahnya jika menikahkan dua orang yang masih lajang." Tuan Sanjaya tetap bersikeras untuk meneruskan pertunangan ini.


" Ayah, bagaimana jika Narenda tidak mencintai Hani, bukankah itu hanya akan menyakiti Hani nantinya." Ucap Dina, membuat tuan Sanjaya tersenyum mengejek.


" Kamu tidak perlu takut akan hal itu nak! Dan lihatlah Luna, apa dia tidak bahagia! apa kamu ingat bagaimana dulu dia bisa melalui cobaan dalam rumah tangganya. Dan Ayah rasa Hani juga bisa lebih dari Luna karena wanita itu cerdas dan mandiri."


" Soal Narendra, biar menjadi urusan Ayah." Sahut tuan Sanjaya dengan begitu yakin-nya. " Maaf Xavier, aku sedikit egois! karena ingin cucu menantu yang terbaik untuk cucuku. Aku janji akan memperlakukan dia dengan baik." Ucap ayah Sanjaya dalam hatinya, sembari menatap Reval dan yang lainnya satu persatu. mereka semua terdiam dan terlihat begitu ragu. namun tak dapat mengatakan hal itu, apalagi tua Sanjaya berkata ini adalah keinginan terakhir mendiang tuan Xavier.


" Maaf om! aku tahu ini memang keinginan terakhir papa mertuaku, tapi bagaimana jika Hani menolak, jujur kami tidak bisa memaksanya." Ucap Ken, karena pria itu tahu jika Hani tidak menyukai Narendra, begitu pun sebaliknya dan akan seperti apa rumah tangga mereka nanti.


Tuan Xavier langsung tersenyum, karena sejak tadi pertanyaan inilah yang ia tunggu-tunggu. Bagaimana jika Hani tidak mau. " Melly, Xavier pernah berkata kepadaku. jika di dunia ini hanya ada dua pilihan, nyawanya, harta dan semua yang dia miliki dengan kamu. Maka anak itu akan memilih kamu! karena saking cintanya dia sama kamu." Ucap tuan Sanjaya, membuat Dian menitihkan air matanya. Karena dia sendiri pun tahu akan perasaan Hani kepada Melly namun wanita itu tidak menyadarinya. Hingga Hani sedang terluka pun ia tidak tahu. Andai saja Melly bisa sepe'ka dulu. Mungkin Hani tidak akan pernah menjauh sampai harus terluka sehebat itu. " Ayah tunggu kabar baik dari kalian, kapan tepatnya kita akan datang meminang Hani untuk Narendra. " Setelah mengatakan hal itu, tuan Xavier pun mengajak anak-anak dan menantunya pulang, meninggalkan Dion, Melly, Ken juga Dian untuk memikirkan Ucapannya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Dilain tempat dengan waktu yang sama, Kedua gadis itu sedikit shock karena mendapati mommy Mayang sedang bercinta di kamarnya. Sementara waktu saja masih pukul tujuh lewat beberapa menit, Rasanya tidak mungkin mommy menerima pelanggan seawal ini. Apalagi tadi mommy tidak mengunakan topeng, pria yang bersamanya juga tidak menggunakan topeng! namun kedua gadis itu tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena posisi pria itu yang duduk di ranjang sembari menenggelamkan wajahnya pada da-da mommy Mayang, sementara mommy sendiri berada di pangkuannya sambil naik turunkan pinggulnya, memunggungi mereka dan menghadap pria itu.


" Apes banget ya kita Han." Ucap Lita, keduanya kini tengah menunggu mommy di ruang kerjanya. " Nggak pernah ngerasain tapi tapi selalu ketemu adegan live-nya, dengan berbagai macam gaya pula." Sambung Lita lagi sembari bertepuk jidat dan menertawakan nasib mereka yang entah harus di bilang apes atau beruntung.


" Mau gimana sejak dulu kita udah hidup di lingkungan seperti ini dan ingat pesan mommy_"


" Jangan pernah mencobanya jika kalian belum memiliki suami, karena itu bisa membuat kalian ketagihan dan menginginkan lagi dan lagi." Ucap seseorang yang baru saja masuk keruang itu dan memotong ucapan Hani. Bukan, dia bukan mommy Mayang! Tapi dia adalah Naela. Entah apa yang di katakan wanita itu kepada Luna dan Reval hingga ia berada disini. " Tapi aku kenapa ya! semakin di larang, semakin pengen tahu seenak apa sih sampai mereka menjerit kesakitan tapi nggak pernah tobat, tetap aja minta di tusuk." Ucapnya sembari menghempaskan dirinya di antara Lita dan Hani, yang saat ini tengah duduk di sofa.


" Jangan tanyakan hal itu kepada kita berdua, karena kita pun belum pernah merasakannya. silahkan tanya kepada mereka yang berpengalaman." Sambar Lita, sembari menaikkan kedua kedua bahunya. Sementara Hani hanya memutar bola matanya malas, Sebab diantara mereka, cuma Naela yang omong-nya nggak pernah pakai saringan dan selalu mengandung unsur 21+. Mungkin karena umumnya lebih tua dua tahun, beberapa bulan dari mereka berdua.