
Begitu mereka meninggalkan ruang rawat Kairan, honey mengajak Narendra untuk sarapan di kantin terlebih dahulu sebelum mereka meninggalkan rumah sakit itu.
"Sayang, jangan di kantin lah! Kita sarapan di restoran aja." Ucap Narendra, namun istrinya itu tidak mengindahkan ucapannya dia terus saja melangkah kakinya menuju kantin rumah sakit.
Mau tak mau suka tak suka Rendra pun hanya bisa mengikuti langkah kaki Hani, pria itu melangkah masuk ke dalam kantin dengan ogah-ogahan kemudian mendaratkan bokongnya pada kursi pojokan tepat dihadapan Hani yang sudah lebih dulu duduk di sana. "Zam Mau pesan apa?"tanya Hani sembari menyedorkan kertas menu kepada suaminya.
Wanita itu bukannya tidak tahu bahwa Narendra tidak suka makan di situ, tapi dia memang sengaja tidak menghiraukan protes dari suaminya, sekaligus ingin mengajarkan suaminya itu untuk makan di tempat-tempat seperti ini. Kalau bisa dia akan membawa Narendra makan di pinggir jalan. Untuk menghilangkan gaya elit suaminya itu walaupun mereka termasuk dari kalangan mampu tapi tidak ada salahnya jika ikut merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang sedikit kurang beruntung seperti meraka.
" Kamu aja yang pesan aku nanti aja."tolak Narendra, bukannya apa dia memang tidak pernah makan di tempat-tempat seperti ini sekalipun, itu di rumah sakit oma-nya sendiri yang terkenal dengan kebersihannya, kedisiplinannya serta fasilitas yang dikhususkan untuk kalangan atas seperti mereka.
Hani menaikkan salah satu alisnya sembari melirik suaminya itu. "Kenapa nggak suka, di sini bersih kok aku yakin aman dan nggak akan membuat kamu sakit perut." Ucapnya sedikit menyindir.
" Aku bukannya takut sakit atau apa, tapi memang sedari aku kecil, aku nggak pernah makan di tempat seperti ini, kamu ngerti nggak sih sayang." Sahur Narendra terdengar jumawah di telinga Hani.
" Aku juga pesan menu yang sama." Ucap Narendra begitu Hani selesai menyebutkan pesan mereka. Membuat Hani mengerutkan keningnya, bukannya tadi dia menolak. Pikir Hani sambil menggeleng-gelengkan kepalanya."Jangan menatapku seperti itu, aku hanya ingin mengikuti apa yang di sukai istriku." Ucapnya sembari mengulurkan tangannya untuk mengusap sudut mata hani yang sedikit basah.
"Menangis-lah karena itu akan membuat suasana hatimu lebih baik, ketimbang kamu tersenyum hanya untuk menutupi rasa yang akan semakin menyiksa mu. Menangis tidak akan membuatmu kalah, senyum juga tidak akan membuat kamu menang. Karena yang menang melawan perasaannya sendiri adalah orang yang berani menunjukkan apa yang dia rasa, bukan untuk di kasihani atau apapun itu. Karena terkadang kita juga harus jujur dengan apa yang kita rasakan." Ucap Narendra, membuat Air mata Hani semakin deras.
Hani mengangkat wajahnya, saat tatapan keduanya bertemu dan terkunci. " Kemari-lah." Pintanya, sembari membuka kedua tangannya lebar-lebar kepada Hani.
Tanpa banyak bertanya, Hani langsung beranjak dari tempat duduknya, kemudian menghampiri pria itu, duduk di pangkuannya sembari menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Narendra. Menangis sepuasnya tanpa mengeluarkan suara.
Sementara Narendra hanya diam sembari mengusap punggung istrinya itu. "Tetaplah bersamaku sayang, akan aku kembalikan semua kebahagiaan kamu." Ucap Narendra tapi tidak ada sahutan dari Hani.
Narendra pun tidak bisa memaksa, ia membiarkan Hani, Hingga tangisan wanitanya itu reda.