
Usaha tidak akan mengkhianati hasil, mungkin itulah kalimat yang tepat untuk usaha yang Hani lakukan selama ini.
Kabar baik yang ia tunggu-tunggu Akhirnya datang juga walaupun dia harus siap dengan respon sang suami nantinya.
"Sekali lagi selamat ya, Bu." Ucap sang Dokter ikut bahagia dengan berita kehamilan wanita didepannya itu, setelah tiga tahun berusaha akhirnya ia bisa hamil lagi.
"Terima kasih dok." Balas Hani dengan kedua sudut bibirnya yang terus terangkat menggambarkan senyum kebahagiaannya. Saking bahagianya wanita itu sampai meneteskan air matanya.
Usaha yang ia lakukan untuk menaklukkan suaminya di Maldives satu bulan lalu tak sia-sia.
Wanita itu kembali menatap foto hasil USG di tangannya sembari mengusap perutnya yang masih sangat rata, "baik-baik ya kalian di dalam sana."
Ya di kehamilan kedua ini, wanita itu kembali hamil anak kembar dan dia sudah sangat tidak sabar menanti waktu kelahiran anak-anaknya yang masih terhitung sangat lama itu. Selain itu dia juga berharap semoga nanti ya lahir Anak perempuan.
Setelah memeriksa diri ke dokter dan mendapat kabar membahagiakan itu, Hani tidak langsung pulang ke rumah, wanita itu langsung menunjuk perusahaan suaminya untuk membagikan kebahagiaan ini dengan suaminya.
Setibanya di perusahaan, seperti biasa Hani langsung masuk tanpa mengetu pintu terlebih dulu dan ia mendapati suaminya itu sedang sibuk dengan tumpukan pekerjaannya.
Wanita itu kemudian menghampiri meja kerja suaminya, meletakkan tasnya di atas meja itu lalu menduduki kursi dihadapan suaminya sembil memangku kakinya.
"Kamu terlihat sangat bahagia hari ini honey, kamu tidak ingin membagikannya dengan suamimu ini?" Tanya Narendra, karena tanpa melihat siapa yang datang pun pria itu sudah dapat menembak dari parfum yang digunakan istrinya, serta kebiasaan istrinya yang suka masuk ke ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Tentu saja, aku harus membagikan berita bahagia ini dengan kamu, Azzam." Hani sengaja menjeda ucapannya." Tapi sepertinya kamu tidak akan menyukainya." Lanjutnya membuat kening pria itu berkerut.
" Apa." Tanya sembari mendongak untuk menatap wajah istrinya dengan serius.
"Aku hamil." Ucap wanita itu seraya menyodorkan amplop berisi hasil pemeriksaannya hari ini, membuat tubuh Narendra menegang dengan cepat dia meraih amplop itu dan untuk melihat hasilnya.
Dan seketika itu ia langsung mengerang marah. Sungguh itu bukan sebuah berita bahagia untuknya karena setelah ini dia tidak akan bisa tidur nyenyak, memikirkan keadaan istrinya. Bukan karena dia tidak menyukai kehadiran calon anak-anaknya. Jauh di lubuk hatinya dia pun bahagia.
Tapi perasaan cemas dan takut kembali menghantui, apalagi ingatannya akan saat itu membuat Narendra sangat takut.
"Tidak Haaniya, kamu tidak mengerti perasaan aku, kamu tahu tidak seberapa takutnya aku saat itu." Bentak Narendra sembari menghempaskan tangan Azzam saat Hani mencoba untuk menyakinkan dia bahwa dia akan baik-baik saja.
Hani yang terkejut dengan sikap Narendra langsung meraih tasnya dan meninggalkan ruangan pria itu.
Hani tidak suka Narendra membentaknya, terlepas dari alasan apapun, Hani tidak suka diperlakukan seperti itu.
" Honey." Teriak Narendra, lelaki itu meninggalkan pekerjaannya demi menyusul istrinya.
Namun Hani tidak peduli, wanita itu terus melangkah cepat menuju lift. Ia sakit hati dengan sikap Narendra, walaupun dia sudah tahu Narendra akan bersikap seperti ini saat tahu dia hamil. Namun entah kenapa Hani tetap merasa kecewa dengan sikap Narendra.
"Haaniya." Teriak Narendra saat pintu lift itu akan tertutup. Lelaki itu dengan cepat ikut masuk kedalam lift. "Honey maaf! Aku tidak bermaksud membentakmu." Ucap Narendra penuh sesal sembari mencoba untuk memeluk tubuh istrinya, namun wanita itu selalu menolaknya.
"Kenapa kamu harus se-marah itu? bukankah kamu sendiri yang mengizinkan aku melakukan apapun untuk mendapatkan keinginanku, lalu kenapa kamu harus bersikap seolah aku baru saja mencurangi mu." Sahut Hani tidak suka.
"Maaf, tolong maafkan aku! Tadi itu aku sangat takut sayang, aku benar-benar tidak siap jika kamu sampai kenapa-kenapa, Tolong mengerti aku."
"Terus kamu pikir aku nggak punya perasaan untuk di mengerti." Sahut Hani tidak mau kalah.
" Oke-oke aku salah, aku minta maaf."
" Aku nggak akan maafin kamu! Capek-capek aku buat kamu mabuk dan jadi wanita agresif selama kita di Maldives, giliran menghasilkan kamu langsung marah." Sunggutnya membuat Narendra membulatkan matanya tak percaya.
Pantas saja selama di Maldives, ia selalu merasa pusing dan sakit kepala di pagi hari, saat bangun tidur ternyata ada rencana besar di balik itu semua.
"Kamu benar-benar gila, tapi aku cinta banget." Ucap Narendra memeluk tubuh istrinya itu tanpa peduli dengan penolakannya.
"Lepas Azzam, aku sedang marah."
"Maafkan aku honey, aku mencintai kamu, mari kita menjaga calon adiknya Al dan Arend bersama-sama." Ucap Narendra pada akhirnya ia mengalah demi kebahagiaan wanita yang di cintai dan dia akan menjaga wanita itu dengan sebaik-baiknya, hingga calon anaknya lahir nanti, walaupun masih ada sedikit kekhawatiran di hatinya.