
"Jenny dimana wanita itu?"Tanya Asisten Regan dengan nada berbisik, disaat Regan dan Narendra sedang menikmati hidangan makan malam mereka. Posisi Keduanya saat ini berada tidak jauh dari tempat duduknya Regan dan Narendra.
" Dia sudah berada di dalam kamarnya, seperti yang tuan inginkan." Jawab Jenny sedikit berbohong, karena wanita paruh bayah itu tidak mungkin mengatakan jika saat ini Hani sedang tertidur.
Entahlah jenny sendiri ragu apa Hani benar tertidur atau pingsan, sebab mereka sudah beberapa kali mencoba untuk membangunkannya namun Hani tidak kunjung bangun.
Memikirkan hal itu, membuat jenny semakin cemas, dia takut terjadi sesuatu kepada Hani.
Lelaki itu mengangguk saja mendengar jawaban Jenny, kemudian mereka kembali fokus kepada Narendra dan Regan yang sedang menikmati hidangan makan malam mereka sambil bercengkrama dengan begitu hangatnya itu.
Lima belas menit berlalu narendra mulai merasa pusing, pria itu beberapa kali menggeleng kepalanya. untuk menghilangkan rasa pusing yang dia rasakan.
Dan Regan menyadari hal itu. "Ada apa?" tanya regan pria itu berpura-pura khawatir dengan keadaan Narendra.
"Tak apa! hanya saja kepala saya tiba-tiba pusing."Jawab Narendra membuat Regan tersenyum penuh kemenangan dan senyum itu hanya sesaat, tidak ada yang menyadari hal itu begitu pun dengan Narendra.
"Jika kamu masih merasakan pusing menginap-lah malam ini disini, aku akan meminta bibi untuk menyiapkan kamar untukmu." Tawar Regan, " Jenny siapkan kamar untuk tuan Narendra."Titahnya, padahal narendra sendiri belum memberikan jawaban iya atau tidak, atas tawarannya itu.
" Tidak perlu repot-repot aunty, aku langsung pulang saja." Tolak Narendra dengan Halus. " Terima kasih untuk makan malamnya tuan Regan." Lanjutnya, sembari beranjak dari tempat duduknya! Regan pun mau tak mau ikut berdiri.
Pria itu menatap tajam kepada asistennya itu, karena rencananya menjebak Narendra kembali gagal. " Mari aku antar." Ucap Regan, kemudian mengikuti langkah Narendra, sebab dia tidak mungkin memaksa Narendra atau menahannya lebih lama sebab tidak ingin rencananya di ketahui oleh pria itu.
Saat berjalan menuju pintu utama, Narendra beberapa kali hampir terjatuh. " Sebaiknya kamu beristirahat dulu! Paling tidak sampai kamu merasa lebih baik."
Tawar Regan lagi dan kali ini Narendra tidak dapat menolaknya lebih tepatnya terpaksa.
" Sial." Umpat Narendra dalam hatinya, begitu dia tahu dia telah masuk kedalam rencana pria itu. " Berdoa saja! Semoga besok kamu masih bisa melihat dunia ini." Ucapnya dalam hati Sebelum kesadarannya benar-benar menghilang.
Bruk.
Narendra langsung terjatuh. " Bawa dia ke kamar dan lakukan semuanya dengan baik, Jangan sampai gagal lagi." Titah Regan, pria itu lalu meninggalkan tubuh Narendra yang tergeletak di lantai begitu saja dan membiarkan asistennya melakukan sisanya.
Regan melangkah kearah lift yang akan mengantarnya menuju kamarnya yang berada di lantai tiga.
Sementara tubuh Narendra di angkat menuju kamar yang sama dimana Haaniya berada.
Jenny melangkah lebih dulu untuk membukakan pintu kamar untuk mereka.
Wanita paruh baya itu begitu bersyukur saat melihat Hani sedang duduk di tepi ranjang."Syukurlah kamu sudah bangun." Ucap Jenny.
Hani pun hanya tersenyum sembari mengangguk kepalanya." Sudah lebih baik?" Tanya wanita paruh baya itu lagi dan Hani kembali mengangguk kepalanya sebagai jawaban.
Bersamaan dengan dua orang bodyguard yang masuk kedalam kamar itu sembari membawa Narendra, diikuti oleh asistennya Regan di belakang mereka.
Narendra di baringkan di atas ranjang tepat di samping Hani, saat itu Hani dapat melihat melihat wajahnya dengan begitu jelas hingga membuatnya begitu terkejut." Apa kamu mengenalinya?" Tanya asistennya Regan.
" Tidak tuan." Jawab Hani dengan cepat Sebelum pria itu semakin curiga kepadanya.
" Sekarang lakukan tugasmu dengan baik sebelum dia sadar." Titah pria itu tidak ingin membahas lebih jauh tentang keterkejutan Hani. Setelah itu mereka pun meninggalkan Hani dan Narendra di ruangan itu.