
" Bang jawab Nala, semuanya bohong kan." Tegas Nala sembari mengguncang lengan Narendra, menyadarkan pria itu dari lamunannya.
" Tidak Nahla, semua yang kamu dengar itu benar! Abang tidak pernah cinta sama Nahla, terserah Nahla mau percaya atau tidak itu urusan Nahla, tapi karena kebetulan kita berdua punya waktu seperti ini. Aku ingin hubungan kita berakhir sampai disini dan detik ini juga." Tegas Narendra, membuat kedua mata Nahla membulat seketika dengan mulut yang sedikit terbuka.
" Apa?" Teriaknya sedikit shock dengan apa yang baru saja dia dengar.
" Kita putus Nahla." Sahut Narenda dengan penekanan di setiap katanya.
" Nggak, aku nggak mau putus! Aku nggak mau putus! Bang tolong jangan putusin Nahla, kalau Abang masih ingin bermain-main dengan Hani, Nala nggak papa, Nahla akan tunggu sampai Abang bosan dengan dia dan balik lagi ke Nala, tapi tolong jangan putusin Nala, Nala nggak mau, Nala sayang sama bang Rendra, Nala cinta sama Abang." Rengek wanita itu, sembari memeluk erat tubuh Narenda.
Membuat pria itu risih sendiri. " Nala lepas, aku nggak bisa lagi sama kamu, aku udah punya Hani sekarang."Ucap Narendra sembari mencoba untuk melepaskan tangan Nala yang melingkar di pinggangnya.
" Nggak-nggak, Abang itu punya Nala, Abang cuma boleh sayang sama Nala." Teriaknya Histeris, ia bahkan tidak peduli jika suaranya akan terdengar sampai di luar, karena wanita itu belum siap untuk kehilangan Narendra.
" Nahla, stop jangan kaya anak kecil." Teriak Narendra, pria itu bahkan menyentak tubuh Nahla hingga pelukannya terlepas dan saat Nahla ingin kembali mendekatinya, Narendra tidak segan-segan untuk mendorong tubuhnya hingga Nahla terjatuh di lantai karena kehilangan keseimbangannya. " Keluar kamu dari ruangan saya, kamu bisa memilih ingin keluar dari ruangan saya atau keluar dari perusahaan ini."Ancam Narendra. Pria itu sudah muak dengan segala tingkah Nala.
Sementara Nahla yang mendengar ancaman Narendra langsung berdiri dari dan bergegas keluar dari ruangan itu sebelum Narendra benar-benar menendangnya dari perusahaan itu.
Walaupun dia tidak rela di putuskan begitu saja oleh Narendra, tapi dengan dia masih berada di perusahaan itu dia masih memiliki kesempatan untuk kembali dengan Narendra lagi.
"Aku nggak akan pernah terima semua ini bang, Abang itu milikku, hanya aku seorang, mungkin saat ini Abang masih terlena dengan wanita tak tahu malu itu. Nggak papa bang, Nala akan tunggu Abang bosan dan kita bisa sama-sama lagi kaya dulu." Ucap Nahla sembari mengusap air mata yang terus saja menetes dari kedua sudut matanya.
Sementara itu di belakang sana, begitu Nahla keluar, Narendra kembali melanjutkan perjalanannya. Seolah tidak terjadi apa-apa.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Sudah tiga hari Hani dan kedua sahabatnya di Bali! Selama tiga hari Lita dan Hani tidak pergi kemanapun, keduanya fokus untuk berkerja dan hanya kembali ke kamar untuk tidur. Kalau pun jam istirahat, mereka akan mengunakan waktu itu untuk makan.
Inilah kegilaan kedua wanita itu, jika mereka santai, santai banget, saking santainya sampai di kira pengangguran tapi kalau sudah serius untuk berkerja, orang yang gila kerja pun akan kalah dari mereka.
Kegigihan mereka inilah, membuat mereka berdua dapat menyelesaikan pekerjaan mereka dalam tiga hari. Walaupun pekerjaan mereka sudah selesai, baik Hani maupun Lita keduanya belum ingin kembali, sebab Lita masih ingin belajar, hingga Lita benar-benar bisa. sementara Ela sendiri, wanita itu sudah beberapa kali merengek untuk pulang karena dia juga memiliki pekerjaan bukan pengangguran kaya, seperti Hani.
Awalnya Haaniya ingin menahannya, lebih lama. Tapi dia sadar hal itu akan menimbulkan masalah untuk Naela, sehingga pada akhirnya, wanita itu membolehkan Naela untuk pulang dengan syarat ia harus tetap mengirim pesan kepada Narendra dan nggak boleh balik dulu ke rumah sampai Hani pulang. Ela pun setuju dari pada di harus mati kebosanan di tinggal sendiri.
" Iya-iya bawel." Sahut Ela dengan judesnya. Pasalnya sudah berulang kali Hani mengingatkan dia akan hal ini.
"Takut banget aku nggak kabarin dia, lagian kenapa sih mau-mau aja nurut sama bang Rendra. Kamu kan nggak cinta sama dia! Sesekali jadi istri durhaka nggak papa lah. Kalau suaminya modelan kaya bang Rendra tuh, tuhan juga pasti ngerti." Hani hampir saja tertawa, mendengar saran sahabat sekaligus adik ipar laknatnya itu. Sejak awal dia yang paling protes soal kabar mengabari Narendra tiga jam sekali, bukan karena dia yang di tunjuk untuk melakukan hal itu, tapi wanita itu merasa Abangnya terlalu berlebihan dan terkesan dibuat-buat. Karena orang cinta pun nggak gitu-gitu amat.
" Ela, dia itu abang kamu loh! Nggak boleh kamu ngajarin Hani kaya gitu." Tegur Lita sembari mengeleng-geleng kepalanya.
" Mau Abang aku atau bukan, aku tetap akan protes jika di perlakukan seperti Haaniya ini." Selanya." Lagian kenapa sih kamu jadi penurut gini, udah cinta sama Abang aku." Tanya wanita itu lagi, sembari menatap kepada Hani.
"Aku mungkin merindukan kasih sayang dan perhatian orang-orang yang mencintai aku. Tapi aku bukanlah orang yang mudah jatuh cinta hanya karena hal kecil." Akunya kepada Ela, Karena Hani tahu, Ela tidak mungkin akan membicarakan hal ini kepada Narendra atau siapapun itu dan kalau pun dia bicara juga, Hani nggak masalah karena begitu adanya dia." Aku baik, aku nurut walaupun nggak suka itu semua hanya akan bertahan selama enam bulan sesuai perjanjian. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mengikuti kemauan mommy, menjadi istri yang baik selama enam, aku akan terus menerus sampai waktu selesai itu saja. "
" Han_"
" Lita kamu tahu kan aku sudah menguatkan hatiku untuk datang dan salam benak aku, aku bisa berada lebih lama di antara keluargaku tapi yang terjadi justru berbeda. Tolong jangan pernah membela siap pun karena hanya kalian berdua yang aku punya saat ini, jika kalian ingin berpaling juga nggak papa itu hak kalian." Sela Hani sebelum Lita selesai dengan ucapannya karena wanita tahu Lita. Tidak ingin dia membenci keluarganya sendiri.
"Kami tetap sahabatmu dalam selamanya akan seperti itu. Benarkan Ta." Lita mengangguk membenarkan ucapan Ela. " Tapi kamu harus ingat, jika kamu nggak Nyaman atau nggak suka sesuatu kamu harus menolaknya." Ela pun memeluk Hani dan Lita pun ikut-ikutan memeluk kedua sahabatnya itu.
Dalam pelukan Ela, Hani hanya mengangguk saja. Lagian hidupnya sudah terencana setelah, waktu pernikahannya selesai." Sana pergi, jangan lupa kabari Abang kamu itu." Ucap Hani, sembari mengurai perlukan mereka karena mendengar pengumuman keberangkatan pesawat yang akan di naik Ela.
" Ya udah aku pergi, bye?" Ucap Lita, wanita itu mencium pipi Hani dan Lita sebelum meninggalkan mereka berdua.
Lima menit setelah Lita pergi, Hani juga pamit kepada Lita." Kamu yakin ingin pergi sendiri?" Tanya Lita. Hani pun mengangguk sebagai jawaban." Hati-hati disana, langsung kembali setelah urusan kamu selesai." Pesan Lita.
"Iya, aku pergi ya."
" Dia
"Disana jangan banyak Nangis ya! Aku nggak ada buat hapus air mata kamu."
" Hmm." Hani hanya berdehem sebagai jawaban Sebelum wanita itu melangkah masuk kedalam pesawat dengan penerbangan internasional.