HAANIYA.

HAANIYA.
Mengenang mu!



Setibanya Hani di depan Area makan, Hani beberapa kali menarik nafas dalam-dalam. Sungguh nyesek dia harus kembali ketempat ini untuk mengunjungi tempat peristirahatan terakhir pria itu.


" Ayo Haaniya, kamu bisa! Sudah dua tahun kamu melewati ini semua, hari ini pun pasti kamu bisa seperti hari-hari sebelumnya." Ucapnya untuk meyakinkan dirinya sendiri. Seraya melangkah dengan perlahan, melewati setapak demi setapak hingga langkahnya terhenti di sebuah makam dengan nisan yang bertuliskan nama sang kekasih.


Nama yang sama dengan nama yang bertahta di hatinya sampai saat ini, belum tergeser sedikitpun, walaupun status dan raganya kini telah resmi menjadi milik seseorang. Tapi Hatinya masih ada disini, tertanam berasa jasad yang terkubur di dalam sana.


" Hai, Aku datang lagi. Kali ini aku tidak terburu-buru atau sembunyi-sembunyi, karena dia tidak ada disini." Ucap Haaniya. " Aku bawa buket mawar untuk kamu, warnanya putih sama seperti yang selalu kamu kasih ke aku. Karena di hati ini masih sama." Ucapnya lagi sembari meletakkan mawar itu di atas makam keenan, tak lupa ia juga memanjakan doa untuknya.


Setelah selesai Hani tidak langsung pergi dari tempat itu, dia masih berdiam diri di tempatnya! Mengingat kembali kejadian kelam malam itu. Malam dimana keenan yang sudah tidak berdaya dengan tubuh menggigil kedinginan serta peluru yang bersarang di tubuhnya, masih sempat-sempatnya di siksa oleh regan hingga kekasihnya itu merenggang nyawa di tangan pria itu. Ingin rasanya dia membunuh pria itu saat itu juga. Tapi dia sadar itu hanya akan membuat dia tertangkap dan pengorbanan Keenan sia-sia. Dan pada akhirnya Hani Hanya bisa melihat semua itu dari jauh dengan tangan terkepal. Wanita itu telah berjanji pada dirinya sendiri dia tidak akan pernah tenang sebelum dia membalas semua perbuatan Regan pada Keenan.


Setelah cukup lama termenung di makam keenan dan bernostalgia dengan rasa sakitnya, wanita itupun berpamitan untuk pulang walaupun dia tahu tidak akan ada yang menyahutinya tapi dia yakin, di alam yang berbeda Keenan bisa mendengarnya. " Aku pastikan aku tidak akan pernah datang dengan mawar merah ke makam ini." Ucapnya dalam Hati sembari melangkah meninggalkan makam itu dengan sesekali menengok kebelakang. Berharap saat menengok ia bisa melihat sosok yang dia rindukan tapi sampai makam itu menghilang dari pandangannya ia tidak melihat apa yang dia harapkan.


Saat berada di luar makam, Hani langsung masuk kedalam taksi yang sengaja ia minta untuk menunggunya, karena wanita itu tidak ingin membuang waktunya itu menunggu, sebisa mungkin dia harus memanfaatkan waktunya dengan baik saat berada disini, karena dia yakin regan pasti sudah tahu keberadaannya disini dari anak buahnya. Sebab Hani sempat melihat seorang pria berjas hitam bersembunyi di balik pohon dan dia yakin itu salah satu anak buah Regan.


Hani meminta sang supir untuk mengantarnya ke taman kota, yang pernah di datanginya bersama Keenan. Pria itu mungkin sangat sibuk dan berhati-hati tapi dalam setiap kesempatan dia selalu meluangkan waktu untuk bersama dengan Hani. Membuat wanita itu merasakan pacaran yang sesungguhnya, Seperti apa itu kencan, Dinner dan masih banyak lagi yang di lakukan Keenan di sela-sela waktu singkatnya.


Beberapa saat kemudian taksi itu sudah berhenti di depan area taman kota yang ingin dikunjungi Hani. Hani pun turun setelah berpesan kepada supir taksi untuk menunggunya lagi.


Air matanya kembali menetes saat melihat, sepasang kekasih tengah duduk di bawah pohon yang sama, dimana ia dan Keenan pernah duduk di situ. Bedanya saat ini sang wanita yang berbaring di rumput dengan paha kekasihnya yang ia jadikan bantal, Sementara dia dan Keenan, Keenan lah yang berbaring di rumput dan meletakkan kepalanya di atas paha Hani.


Hani juga ingat waktu itu, Keenan sempat mengungkit soal kematiannya dan bertanya apa Hani akan mengunjungi makamnya. Bukannya menjawab Hani justru marah tapi tapi pria itu seakan tahu cara membuat Hani tidak marah lagi. "Ini semua hanya perumpamaan honey! Lagian kita nggak tahu kedepannya akan seperti apa." Ucap Keenan waktu itu.


" Aku akan mengunjungi, sembari membawa buket bunga mawar putih, Agar kamu tahu walaupun kita sudah berbeda alam tapi cintaku masih setulus dan suci itu untuk kamu."Jawabnya dengan begitu yakinnya.


" Bagaimana kalau di hatimu sudah ada orang lain setelah aku pergi." Tanya Hani lagi.


" Aku akan membawa bunga mawar berwarna merah muda untuk menunjukkan jika sudah nama orang lain yang berdampingan dengan namamu di hatiku dan jika tempat kamu telah terganti aku akan membawa mawar merah. Dan kamu juga bisa melakukan itu kepadaku. "


" Aku berharap Hal itu tidak akan pernah terjadi pada kita." Ucap Hani,


" Aku pun begitu Honey."


Tapi kenyataannya kini dia sendiri. Wanita itu duduk di rumput, merapikan penampilannya sembari menghapus jejak basah yang terlanjur berada dipipi-nya kemudian mengeluarkan ponselnya untuk memotret dirinya sendiri. Setelah itu ia mengunggahnya di halaman sosial media dengan caption. 'Dulu kita berdua dan sekarang aku sendiri. Ditempat yang sama.' tentu saja hanya Lita dan Ela yang tahu akunnya itu dan hanya mereka serta beberapa teman kampus Hani yang mengetahui ia menjalin hubungan dengan Keenan, yang melihat postingan itu. Sebab akun itu di private Sehingga tidak dapat di Akses siapapun kecuali teman yang saling mengikuti. Profil akun itu sendiri hanya gambar sepasang tangan yang saling menggenggam.


Puas berada di taman itu, Hani kembali mengunjungi tempat-tempat lainnya yang pernah dia datangi bersama Keenan, karena hari itu dia khususkan untuk mengenang Keenan dan tempat terakhir yang dia datangi adalah jembatan di mana Keenan mengajaknya melompat bersama-bersama untuk menghindari Regan.


Waktu menunjukan pukul setengah Delapan malam saat dia sampai di bandara. Dan disana dia menyadari beberapa anak buah Regan yang terus mengikutinya, tapi wanita itu masih bersikap santai, karena jadwal pesawatnya masih ada dua jam lagi. Ia tidak boleh gegabah dan bersikap seolah tidak menyadari keberadaan mereka.


Toh mereka hanya bisa mengikuti dari jauh tanpa bisa menyentuhnya. Karena jika mereka ingin, mereka sudah melakukannya sejak tadi, saat dia di taman bukan hanya diam sambil mengikuti Seperti sekarang ini. Dan kalau pun tebakannya salah, Hani yakin mereka sedang menunggu perintah dari Regan.