HAANIYA.

HAANIYA.
Dilema.



Didalam Toilet pesawat itu, Haniya duduk di atas kloset yang tertutup, meletakkan tasnya di samping wastafel, kemudian mengeluarkan kotak obat dari dalam ranselnya, Sebab Haaniya selalu membawa kotak obat kemana pun Gadis itu pergi, hanya sekedar untuk berjaga-jaga, jika dia mendapatkan situasi seperti saat ini.


Setelah itu, Hani mengeluarkan cairan Alkohol, pisau Lipat dan beberapa benda yang ia butuhkan dari dalam kotak obat yang dia bawa. Hani sengaja menyelipkan pisau lipat berukuran kecil kedalam kotak obat itu sehingga tidak ada yang menemukan benda tajam itu saat ia melewati pemeriksan, bukan hanya pisau lipat, ia juga membawa korek api Zippo didalamnya.


Setelah dirasa cukup, wanita itu kemudian mengambil sapu tangannya, melipat sapu tangan itu dan memasukkannya ke dalam mulut untuk dia gigit. setelah itu Hani mengambil pisaunya, memanaskan ujungnya mengunakan korek api yang dia bawa Sebelum, menyiramnya dengan cairan Alkohol.


Begitu dia rasa yakin, Hani langsung mencap ujung pisau itu pada luka tembaknya, mengorek-ngorek luka itu untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di sana.


" Hmmmhhhmm." Wanita itu, mengerang tertahan sapu tangan di mulutnya. Karena sakit yang dia rasa sungguh tak tertahankan. Saking sakitnya, air matanya sampai menetes! Namun hal itu tidak membuat Hani berhenti. " Ayo Haaniya tahan sedikit lagi, kamu pernah merasakan sakit' yang lebih dari ini, kamu pasti bisa melewati rasa sakit ini sama seperti sebelumnya." Ucapnya dalam hati untuk menguatkan dirinya sendiri. Tak butuh waktu lama, peluru itupun berhasil keluar, dikuti darah segar yang mengalir dari lukanya, Hani pun segera menarik tissue untuk membersihkan darah itu, sebelum darahnya menetes mengotori lantai.


Setelah itu ia membersihkan lukanya Sebelum menutup luka itu berguna kasa steril dan plaster, walaupun darahnya masih keluar dari lukanya. Karena Hani tidak ingin di curigai, hanya karena terlalu lama mengunakan toilet, mengingat penumpang lain pun pasti ingin menggunakannya.


Setelah menutup lukanya, Hani bergegas menganti bajunya, membersihkan toilet itu seperti semula dan membuang tissue dan kasa bekas ke tempat pembuangan yang tersedia, begitu pun dengan pelurunya.


Wanita itu juga mengunakan sedikit perona bibir dan pipi, untuk menutupi wajah pucat nya. Setelah dirasa penampilannya tidak mencurigakan, wanita itu langsung keluar dari toilet itu dan berpapasan dengan pramugari yang sempat menanyainya tadi, bahkan pramugari itu sengaja menengok ke dalam toilet, namun sesaat kemudian ia menaikan bahunya saat tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, begitu Hani meninggalkan toilet itu.


Sementara Haaniya sendiri langsung kembali ke tempat duduknya, mencoba untuk memejamkan matanya, karena dia begitu meresahkan pusing. Bagaimana mana tidak pusing, ia baru saja kehilangan banyak darah karena mengeluarkan peluru dari pahanya sendiri.


Belum lagi rasa sakit dari luka tembaknya itu. Rasanya dia ingin pinsang saat ini juga! Tapi Hani mencoba untuk menahannya.


Dan saat itu dia membenci dirinya sendiri karena tidak bisa memberontak untuk keinginannya. Di terus berada di jalur yang mereka inginkan, Sampai dia lupa untuk bertanya pada dirinya sendiri apa dia menyukai semua yang dia lakukan saat ini, apa dia mencintai kesendiriannya. Jawabannya tentu tidak dan andai di bisa memilih dan memutar waktu, dia ingin menjadi Haaniya kecil tanpa ada keluarga yang utuh, dia tidak akan pernah mau bertanya dimana daddy-nya. Sebab kehidupan di Aussie waktu itu begitu membahagiakan, dimana perhatian Melly hanya tertuju kepadanya, dimana semua orang selalu menganggumi apa yang dia lakukan, bukan karena dia gila pujian, tidak Hani tidak seperti itu, karena jika dia seperti itu. Hotel Grand Secret yang begitu terkenal dengan cabang dimana-mana. Pasti sudah di ketahui siapa pemiliknya. Namun sampai detik ini tidak ada mengetahui pemilik hotel itu bahkan keluarganya sendiri.


Hani hanya ingin sedikit saja apresiasi dari Melly, Hani ingin di puji mommy lagi, sama seperti dirinya berada di Aussie, dimana ia menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Keinginan dia begitu sederhana, dia ingin di lihat lagi oleh mommy-nya. Bahkan Hani sanggup melakukan apapun untuk Melly, ia bahkan rela menikahi Narendra di saat luka hatinya masih menganga lebar, karena takut kehilangan mommy-nya dia takut di benci Melly. Hingga Hani membenci dirinya sendiri yang terlalu egois karena menginginkan sesuatu dari Melly di saat Dian sudah berusaha memberikan segalanya bahkan lebih dari itu tapi Hani selalu merasa kurang. Apa mungkin ini semua karena dia kurang bersyukur. Sampai dia tidak puas hanya dengan kasih sayang kakek, Dian dan Ken serta sahabat-sahabatnya.


Entahlah mengingat hal itu hanya akan membuatnya sakit sendiri." Honey, belajarlah menerima kenyataan tanpa harus membenci kenyataan. Karena dengan begitu kamu tidak akan terlalu tersakiti." Pria itu sudah tidak ada tapi setiap ucapannya selalu teringat dalam benak Hani, disaat dia lemah dengan keadaannya saat ini. Membuat Hani teringat akan ucapannya waktu itu. " Kamu tahukan seberapa bahayanya pekerjaan aku. Dan aku ingin kamu tahu Honey, disaat ragaku sudah tidak bisa bersama kamu lagi, kamu harus ingat satu hal, cintaku akan selalu menjagamu, sebagaimana aku menjagamu selama ini." Mungkinkah ini yang di maksud Keenan. Setiap dia terluka dan sedih seperti ini, otaknya selalu mengulang semua yang pernah di ucapkan dan dilakukan pria itu padanya.


" Kamu mengajarkan aku cara mencintai, kamu juga mengajarkan aku untuk mengerti, kamu mengajarkan aku untuk menerima semuanya, kamu mengajarkan aku untuk tetap bertahan dan masih banyak hal yang kamu ajarkan kepadaku, tapi kenapa kamu lupa untuk mengajarkan aku melupakanmu." Ucap Hani dalam Hani, sambil meremas baju bagian dadanya. hingga tak terasa cairan bening itu menetes dari kedua sudut matanya tanpa bisa ia cegah. Sesakit itukah, mencintai tanpa bisa di miliki.


Hani yang lelah bergulat dengan pikiran dan rasa sakitnya, akhirnya terlelap. Hingga ia dapat melupakan apa yang dia rasakan saat ini.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Sementara itu, disisi lain Lisa melangkah dengan anggun memasuki restoran mewah untuk menemui seseorang disana. Orang itu selalu mengajaknya bertemu beberapa tahu belakang ini. " Hai sayang, bagaimana mana kabarmu." Ucap orang itu sembari beranjak dari tempat duduknya untuk sekedar berpelukan dan cium pipi kanan kiri dengan Lisa. Kemudian keduanya kembali duduk.


" Kabar aku baik! Seperti yang mama lihat." Ucapnya." Kabar mama sendiri gimana? Apa kakek sudah sembuh?" Tanya wanita itu kepada orang yang dia panggil mama, siapa lagi kalau bukan Ria.


Wanita itu sudah lama keluar dari penjara, tapi dia sengaja tidak memperlihatkan wajahnya di depan dion maupun Melly. Sehingga putrinya bisa tetap hidup enak di tengah-tengah keluarga itu. Dan jika kalian berpikir, saat Dion datang ke rumah Ria bersama polisi untuk mengambil Lisa karena gadis itu ingin ikut, maka pikiran itu salah, karena yang sebenarnya. Ria lah yang mendesak Lisa untuk ikut dengan Dion. Tidak hanya itu, ia juga mencuci otak anaknya itu dengan mengatakan dialah anak Dion, tapi karena Hani dan mamanya dia terpaksa di buang oleh Daddy-nya sendiri, karena terlanjur tergoda dengan Melly dan Hani, untuk itu Lisa harus tetap berada di sisi ayahnya. Untuk menjaga sang ayah dengan menjadi anak baik dan mencari kesempatan untuk membalas rasa mereka.