HAANIYA.

HAANIYA.
Lepaskan!



Dan dari tempatnya Hani bisa melihat seseorang tengkurap tak berdaya dengan luka di sekujur tubuhnya, melihat hal itu, perut Hani semakin bergejolak ia kembali mengeluarkan isi perutnya lagi.


Sampai dia merasa sedikit lebih baik, barulah Hani mencoba untuk beranjak dari tempatnya, wanita itu melangkah maju menghampiri orang di seberangnya itu.


Dari tempatnya berdiri Hani dapat mengenali orang itu. Dia adalah Elga.


Entah masih bernafas atau tidak wanita itu! Hani terlalu takut untuk memastikannya.


Hani pun melangkah mundur dengan perlahan, Sebelum ia meluruhkan tubuhnya yang sudah lemas, kakinya terasa seperti jelly sehingga tidak mampu menopang berat tubuhnya, Hani kini terduduk di lantai.


Wanita itu tertunduk sembari meneteskan air matanya, karena sejauh ini dia sudah melihat bagaimana Regan menyiksa musuh-musuhnya.


Tapi baru kali ini dia melihat mereka menyiksa seorang wanita tanpa mengenal ampun seperti ini.


Entah dia yang terlalu naif atau lupa, jika Regan juga pernah menghujani peluru kepadanya dan hal itu tidak hanya sekali.


Namun dengan bodohnya dia terus kembali ke sisi pria Regan untuk menuntut balas dendam, padahal Keenan sendiri belum tentu menginginkan dia melakukan hal itu dari alam lain.


" Aaaeekkhh."


Jeritan yang berasal dari suara Irene membuat Hani tersadar dari lamunannya, wanita itu segera mengangkat wajahnya untuk melihat apa yang terjadi dengan Irene.


Di sana Irene sedang di paksa untuk mengakui sesuatu yang belum tentu, dia yang melakukannya.


" Katakan siapa bos kamu." Tanya pria yang memiliki tato cicak di rahangnya.


Bruk.


Perut Irene di tendang hingga membuat ia terbatuk-batuk seakan ada sesuatu yang ingin dia keluarkan dari mulutnya." Jawab, berapa kamu di bayar untuk menutup mulut jala-ngmu ini." Tanya rekan si tato, yang kepalanya se-licin perosotan anak TK.


Namun Irene tetap menutup rapat mulutnya. Hingga sih tato kehabisan kesabarannya menunggu Jawaban wanita itu.


Membuat Irene menjerit, suara jeritannya terdengar begitu memilukan. " Aku tidak berkerja untuk siapapun! Aku berani bersumpah, aku berkerja disini untuk membiayai perawatan ayahku yang sedang di rawat di sinatorium, karena menderita kanker." Jawab Irene begitu pelan, hampir tak terdengar.


" Kamu pikir dengan berbohong seperti itu, kami akan percaya. Dasar jala-ng! Sepertinya kamu harus di beri hukum yang lebih keras agar dapat berkata jujur." Sahut si botak yang tidak percaya dengan ucapan Irene barusan.


Pria itu menarik tubuh Irene hingga menempel pada dinding penjara, kemudian memborgol kedua tangannya dengan posisi berdiri.


Si kepala botak kemudian, mengambil cambuk yang tergantung di dinding penjara itu, lalu mengayunkan cambuk itu pada tubuh Irene berulang-ulang.


Membuat wanita itu hanya bisa menjerit dan memohon ampun. Hingga ia tidak sadarkan diri. Luka lebam dan darah mulai keluar dari pori-pori kulit Irene.


Membuat Hani memejamkan matanya tidak sanggup melihat semua itu lebih lama lagi.


Hani yang terlalu sok dengan kenyataan yang dia lihat di tambah mual-nya, sehingga dia tidak menyadari jika dua orang penjaga itu kini telah berbalik untuk menargetkan dirinya.


Kreektt.


Hani baru tersadar saat mendengar pintu jeruji besi itu terbuka dan sayangnya ia terlambat menyadari itu.


" Aaakkehh."


Jerit Hani, sembari berusaha melepaskan cengkraman tangan besar sih tato dari rambutnya.


" Jangan berteriak! Harusnya kamu tahu jika bermain-main dengan tuan Regan, konsekuensinya akan seperti ini," ucap sih tato itu sembari menyeret Hani ke dinding untuk melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan kepada Irene.


" Lepaskan, Lepaskan aku. Aku tidak salah! Aku tak tahu apa yang kalian maksud! Aku ada disini karena dia ajak, madam Jenny." Sahut Hani, wanita itu berusaha menahan rasa sakit di kepalanya seraya berjalan mengikuti pria yang masih menarik rambutnya tanpa mengenal ampun.


" Kita lihat saja! Apa kamu akan tetap menjawab seperti itu saat di paksa." Sahut sih botak dan ikut membantu rekannya ketika Hani mencoba untuk memberontak.