HAANIYA.

HAANIYA.
Mau kemana?



"Mau apa kamu disini?" Tanya Hani, wajah wanita itu terlihat tidak bersahabat dan kapan saja bisa menghancurkan senyum menyebalkan pria yang ada di hadapannya itu. Ketika mereka sampai di taman belakang rumah itu.


"Aku pikir waktu itu kamu, melarikan diri karena tidak ada orang tua kamu dan aku juga belum melamar kamu dengan benar. Untuk itu aku ingin memperbaiki kesalahanku." Jawab Pria itu terdengar berbelit-belit, kemudian mengambil sesuatu dari saku jasnya.


Melihat hal itu Hani pun bersiap-siap dengan memasang kuda-kuda, jika pria itu ingin menyakitinya, walaupun dengan tangan kosong Hani siap untuk melawan, kalau perlu satu lawan satu, kalah menang urusan belakangan.


Tapi siapa sangka, apa yang dia khawatirkan hani tidak terjadi, karena Regan justru mengeluarkan kotak berudu berwarna navy, membukanya untuk memperlihatkan cincin dengan berlian berukuran besar kepada Hani dengan warna berlian yang senada dengan kotak itu.


" Maukah kamu menikah dengan ku, menjadi pendamping hidupku dan menua bersama." Ucapannya, kemudian berlutut dengan satu kaki di hadapan Hani.


Membuat wanita itu membeo seketika. Entah apa yang di pikirkan Regan hingga pria itu bertingkah sejauh ini. Karena Hani yakin, setelah mengetahui namanya, Regan pasti sudah mengetahui statusnya.


" Cukup Regan, berhenti bermain-main! Karena aku tidak punya waktu untuk meladeni kamu. " Tegas Hani, ingin sekali di menendang wajah pria itu dan mengeluarkan isi perutnya. Tapi mengingat dimana dia saat ini. Hani pun mencoba untuk bersabar.


"Honey, aku serius, apa kamu tidak bisa melihatnya." Sahut Regan membuat kesabaran Hani semakin menipis.


Wanita itu pun tersenyum simpul Kepada Regan, sembari menunjuk cincin yang melingkar di jari manisnya." Maaf aku sudah menikah?" Ucapnya.


" Aku tahu, tapi aku tidak perduli. Lagian aku yakin kamu tidak mencintai pria itu. Kalau kamu mau, aku bisa mempercepat status jandamu dengan mengirimnya kembali kepada sang pencipta, Seperti pria idiot yang sok pintar itu." Ujar Regan, membuat Hani seketika itu mengepalkan tangannya, karena dia tahu pria idiot yang di maksud Regan adalah Keenan.


Hani yang tidak tahan pun berjalan menghampiri Regan, memeluk Pria itu untuk mengelabuhi nya setelah dia menarik pistol yang Regan selipkan di punggungnya. Dan menodongkannya di pinggang Regan, begitu wanita itu ingin mundur, Regan melingkarkan tangannya di pinggang Hani dan menahannya.


Pria itu kemudian menunduk, semakin mendekatkan wajahnya pada telinga Hani. " Kamu memang tidak bisa di ajak bicara baik-baik ya honey. Kalau kamu ingin bermain kasar ayo kita bermain dan aku akan menargetkan Korban selanjutnya setelah pria idiot itu. Bagaimana kalau gadis yang bernama Hana itu, sepertinya_"


" Apa yang kamu inginkan?" Tanya Hani pada Akhirnya dengan nada berbisik hampir tak terdengar. Dia tidak ingin sesuatu terjadi kepada Adiknya.


"Baiklah, tapi aku butuh waktu?"


" Aku tahu, kamu punya waktu empat puluh hari dari sekarang, sesuai perjanjian pernikahan kalian. Lewat dari itu jangan salahkan aku, kalau gadis cantik itu tinggal Nama saja." Ancam Regan. Pria itu bahkan dengan berani menunduk untuk mencium pundak Hani, dengan sengaja meninggalkan jejak di sana." Hani sendiri tidak bisa menghindar dan pistol yang sejak tadi di tahan Hani kini sudah kembali kepada pemiliknya


" Baiklah kamu menang." Ucap Hani.


Regan pun melepaskannya dan pergi dari sana, Namun sebelum dia masuk kedalam rumah, pria itu sempat berbalik dan berkata. " Ingat Empat puluh hari, tinggalkan dia. " Teriaknya. Hingga Narendra yang sejak tadi melihat mereka dari balik pilar rumah itu, bisa mendengarnya dengan jelas apa yang mereka katakan.


Setelah itu Regan pun pergi, Setelah Regan pergi. Narendra memberanikan dirinya menghampiri Hani, pria itu terlihat marah tapi dia masih bisa, mengontrol dirinya dengan baik. " Sudah selesaikan, ayo kita pulang?" Ajaknya.


Mereka kemudian masuk kedalam rumah keluarga Xavier, lalu pamit untuk pulang. Dian dan Melly. Sempat menahan mereka namun keduanya menolak hal itu dengan halus.


Hingga akhirnya mereka berada di sini, di perjalanan pulang! Tapi bukan pulang ke rumah seperti yang biasanya mereka lalui.


" Mau kemana kita?" Tanya Hani namun Narendra tidak menjawabnya. " Azzam." Panggil Hani. Namun pria itu tetap membisu. Hingga mobil itu berbelok memasuki sebuah kawasan apartemen Elite. Di mana dengan keamanan tinggi dan tidak sembarang orang masuk ke sana.


Narendra memarkirkan mobilnya, setelah itu dia keluar dari mobil itu, namun Hani tidak bergerak dari tempatnya. Melihat rahang bareng yang mengeras serta tatapan tajamnya, membuat Hani takut.


" Mau keluar sendiri Atau di bantu?" Tanya Narendra.


Namun Hani yang cemas justru menggeleng kepalanya. Hingga membuat pria itu, menariknya mengangkat tubuh keluar dari mobil. Kemudian menggendong ala bridal style.


" Azzam turunkan aku! Apa-apaan sih kamu ini." Hani terus meronta dalam gendongan Narendra, tapi pria itu tetap tenang.