HAANIYA.

HAANIYA.
Perjanjian lagi.



Lita memeluk-nya, sembari mengusap punggung Hani. " Aku takut rasa sayangku kepada mereka akan berubah." Ucapnya sembari terisak.


"Itu hanya ketakutan-mu saja! Karena aku yakin kamu akan menjadi ibu yang terbaik untuk mereka nanti." Ucap Lita sembari mengurai pelukan mereka, lalu mengusap air mata yang menetes dikedua pipi Hani.


"Mulai sekarang jangan pikirkan apapun, fokus kepada mereka berdua dan kamu harus ikhlas menerima apa yang pernah terjadi di dalam hidup kamu dulu. karena jika kamu hanya menangis, menyesali atau memohon pun tidak akan membuat waktu dapat berputar kembali, jalan satu-satunya kamu harus berdamai dengan keadaan. Ikhlas, maafkan dan nggak boleh marah pada diri sendiri atas apa yang kamu alami selama ini! ini untuk kebahagiaan kamu sendiri." Ucap Lita lagi.


Hani mengangguk kepalanya. Karena apa yang di katakan sahabatnya itu memang benar." Terima kasih." Ucap Hani begitu tulus.


" Sama-sama, aku sayang kamu dan aku mau kamu bahagia." Balas Lita, sembari mencium kedua pipi Hani.


"Aku juga sayang banget sama kamu, Ta." Hani pun memeluk Lita.


Interaksi kedua sahabat itu tak luput dari banyak mata di luar sana yang melihat mereka dari balik kaca pintu ruang rawat inap Hani.


Ceklek.


"Kalian berdua melewatkan aku." Ucap Ela sembari mencebik-kan bibir.


"Kemari-lah kalau kamu ingin bergabung, tak usah mengerutkan bibirmu seperti itu." Sahut Hani.


Membuat bibir Ela semakin maju dan mengerut saja . " Kalian sungguh menyebalkan." Ucap Ela


Wanita itupun menghampiri Hani kemudian mencium kedua pipinya seperti yang di lakukan Lita sebelumnya. "Jaga Keponakanku kita dengan baik! Kalau kamu membutuhkan sesuatu langsung katakan pada kita! Nggak peduli hujan badai, halilintar sekalipun kita berdua akan mendapatkannya untuk kalian. Benarkan Ta." Lanjutnya lagi sembari meminta dukungan Lita, namun gadis itu justru mengeleng kepalanya.


Bukan tanpa sebab Lita berkata seperti itu, pasalnya Ela selalu menghubunginya dan selalu curhat akan nasibnya yang belum juga di sentuh-sentuh oleh suaminya itu. Bahkan pernah dia meminta Lita untuk berkonsultasi Menggantikan dirinya, karena dia terlalu malu jika sampai ada mengetahui hal itu.


"Aku akan membunuhmu." Ela langsung melepaskan kedua tangannya dari pipi Hani, kemudian berpura-pura mencekik leher wanita itu. Membuat Lita dan Hani kompak tertawa.


Cukup lama ketiga gadis itu bercanda di dalam sana, sembari mengabaikan. Para orang tua, keluarga dan lelaki mereka.


"Kamu akan kembali bersama bang Rendra." Tanya Ela sembari mengusap apel untuk Hani, karena wanita itu menginginkannya.


Sementara Lita hanya memandang wajah Hani dan Ela secara bergantian menunggu jawaban ibu hamil itu.


"Entahlah aku harus memastikan sesuatu terlebih dulu." Jawab Hani sembari menikmati potong buah pir yang sebelumnya telah di kupas oleh adik iparnya.


" Kenapa? Kamu masih ragu dengan perasaan kamu sendiri padanya?" Giliran Lita yang bertanya.


Wanita itu mengeleng kepalanya. Perasaannya untuk Azzam tidak perlu di ragukan lagi hanya saja aku harus membuat perjanjian dengannya terlebih dulu. "Aku harus melakukan perjanjian baru terlebih dulu."Jawab Hani.


Membuat kedua sahabatnya kompak mende-sah pendek." Sampai kapan kalian akan seperti ini Haaniya." Tanya Ela.


" Aku bosan mendengar perjanjian lagi dan lagi tidak bisakah kalian menjalani pernikahan kalian dengan normal saja." Lita pun turut menimpali.