HAANIYA.

HAANIYA.
Kemarahan Nayna.



" Sayang duduk disini, temani mertua kamu! Aku akan ke kamar untuk Menganti baju." Ucap Narendra setelah memastikan Hani telah pergi dari rumah itu.


"Ikut bang." Rengek Nahla yang tidak ingin di tinggal sendiri, saat dia melihat tatapan membunuh sekaligus jijik dari semua orang yang ada di ruangan itu.


Andai tatapan itu bisa melukai, mungkin saat ini tubuh Nahla sudah tercabik-cabik. " Ayolah sayang aku hanya sebentar tidak akan lama, aku janji " bujuknya dengan sedikit memaksakan tangan Nahla agar lepas dari lengannya.


Begitu tangan Nahla terlepas, Narendra langsung menuju kamarnya, meninggalkan wanita itu begitu saja, bahkan teriak Luna pun tidak ia hiraukan.


Setibanya di dalam kamar, Narendra masuk kedalam bathroom untuk membersihkan dirinya dari kuman-kuman yang menempel dia bahkan harus mengosok bekas sentuhan Nahla dengan sedikit lebih kuat.


Setelah selesai mandi, Narendra segera berganti pakaian, kemudian mengambil dompet, ponsel, serta kunci mobilnya lalu melangkah keluar sembari berbicara dengan ponselnya, seolah ada yang menelponnya namun nyatanya tidak ada sama sekali.


" Abang." Nahla yang melihat kedatangan Narendra langsung ingin menghampirinya tapi Narendra mengangkat telapak tangannya meminta dia berhenti kemudian menunjuk pada ponsel yang menempel di telinganya.


" Baiklah aku ke sana Sekarang." Ucapnya Entah pada Siapa kemudian pergi begitu saja, meninggalkan semua orang dengan kemarahan mereka dan Nahla pun harus siap menerima amukan itu.


Ketika tamparan yang di layangkan Luna mendarat dengan keras di pipinya. " Selama ini saya tidak pernah menegur kamu, karena kamu adalah putri sahabatku. Tapi apa yang kamu lakukan, itu sudah sangat keterlaluan Nahla, dimana hati nurani kamu sebagai seorang perempuan." Teriak Luna sembari menunjuk wajah Nahla.


Sementara Nayna yang melihat hal itu langsung menjambak rambut Nahla, membuat wanita itu menjerit kesakitan. " Dasar pelakor murahan, mati saja kamu." umpat Nayna kepada Nahla, dengan terus menarik rambutnya hingga Nahla jatuh terlentang di lantai.


Wanita kemudian menindih tubuh Nahla dengan duduk di atas perutnya, kemudian menampar kedua pipi wanita itu hingga teras panas dan perih Andai Rebal tidak segera mengangkat tubuh putri bungsunya itu, entah apa jadinya wajah Nahla.


" Lepasin Nay pa! Biar Nay kasih pelajaran wanita murahan itu."


" Tetap saja dia yang salah, kalau di nggak menyambutnya, nggak mungkin semua ini terjadi emang dasarnya wanita murahan, pelakor..." Dan masih banyak umpat yang Nahla berikan kepada wanita itu.


Bahkan Luna yang juga ingin memberikan pelajaran kepada Nahla, harus mengurungkan niatnya saat mendapat teguran dari tuan Sanjaya.


Nahla harus banyak berterima kasih kepada ibunya, karena jika bukan karena memikirkan Dina, mungkin Luna sudah mengotori tangannya dengan mengantar wanita itu menyusul Nico papanya.


\=\=\=\=\=\=\=


Sementara itu di tempat lain, Narendra melangkah masuk kedalam sebuah unit apartemen setelah memasukkan password-nya.


Hingga membuat pemilik apartemen itu menolehkan kepalanya pada tamu yang tak di undang itu.


Melihat siapa yang datang, pemilik apartemen itu langsung mengambil remote tv yang terletak di atas meja dan melemparkan remote itu kepada Narendra. Namun pria itu dengan sigap menangkapnya.


" Pergi dari sini atau aku akan membunuhmu." Ucapannya tidak main-main.


Namun Narendra justru tersenyum sambil membuka lebar kedua tangannya, seakan mempersilahkan orang itu untuk melakukan apapun pada dirinya.


...\=\=\=\=\=\=...


...Gantung ya?...