
Tepat pukul dua dini hari, Hani yang tengah terlelap langsung membuka kedua matanya begitu merasakan sakit di perut bagian bawah hingga pinggangnya. Rasa itu hanya sesaat tapi cukup mengejutkan dia dari tidurnya. Hani terduduk dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan.
"Honey, ada apa? Apa perut kamu sakit lagi?" Tanya Narendra yang ikut terbangun.
" Hmmm, rasanya tuh sakit banget Azzam tapi sekarang sudah rendah sakitnya." Jawabnya. Sembari mencoba untuk bersandar pada kepala ranjang di bantu oleh Narendra.
Beberapa hari terakhir ini Hani memang sering terbangun karena kontraksi palsu yang mulai sering dia rasakan. Tapi sejauh ini dia belum mendapatkan tanpa sesuai pesan yang dikatakan orang tuanya.
Kehamilan Hani ini tidak hanya membuat Melly, Luna dan Dian yang cemas! Dina pun ikut cemas karena suaminya yang selalu mendesaknya untuk melihat keadaan Hani. Bagi Jayden Hani masih tetap menjadi keponakan kesayangannya walaupun saat ini dia telah memiliki banyak keponakannya dan anak sendiri.
" Apa perlu kita ke rumah sakit sekarang honey?" Tanya Narendra, walaupun orang tuanya mengatakan kalau Hani akan baik-baik saja, tapi pria itu selalu khawatir, untuk itu setiap kali Hani merasakan kontraksi dia akan langsung menawarkan istrinya itu untuk pergi ke rumah sakit.
" Jangan dulu, aku juga belum mendapatkan tanda." Jawab Hani," Aku ingin ke toilet Azzam." Ucapnya lagi.
Narendra pun segera beranjak turun dari tempat tidur kemudian berjalan ke sisi ranjang dimana Hani duduk lalu membantunya turun.
Pria itu lalu memapah istrinya ke kamar mandi, ia ingin menunggu Hani di dalam sana tapi Hani justru menolaknya dan mengatakan akan memanggilnya begitu selesai.
"Honey_"
All Hani dengan yakinnya.
" Tidak honey aku akan tetap disini." Narendra bersikeras tapi Hani jauh lebih keras kepala. " Baiklah kamu menang dan aku tidak akan menutup pintunya." Narendra langsung keluar dari kamar mandi itu tanpa menutup pintunya. Pria itu mengawasi Hani dari tempatnya berdiri.
" Kita ke rumah sakit ya?" Narendra kembali menawarkan Hani itu ke rumah sakit karena dia tahu saat ini istrinya sedang menahan sakit.
" Tidak." Hani kembali menolak, kemudian berdiri sambil berpegangan pada kedua lengan Narendra tanpa sadar wanita itu mere-mas kedua lengan Narendra serta membenamkan kuku-kukunya di sana saat rasa sakit itu kembali ia rasakan. " Aku ingin buang air besar tapi tidak bisa, mungkin ini yang membuat perutku sakit." Jelasnya begitu rasa sakit itu kembali hilang.
" Kita ke rumah sakit sekarang." Tegas Narendra lalu memapah wanita itu keluar walaupun dengan sedikit memaksa karena Hani terus menolak. " Honey aku mohon, aku hanya ingin memastikan kalian baik-baik saja! Aku janji kita akan langsung pulang begitu dokter mengatakan kandunganmu baik-baik saja." Ucapnya sembari menatap Hani dengan perasaan khawatirnya. Hingga wanita itu pun mau di bawah ke rumah sakit tanpa memberi tahu keluar mereka.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Hani kembali merasakan kontraksi, untuk ketiga kalinya. Dan Narendra yakin ini waktu istrinya itu akan melahirkan untuk itu dia segera menghubungi dokter yang kandungan istrinya itu.
Jarum jam menunjukkan pukul Tiga lewat lima menit saat mereka tidak di rumah sakit bersamaan dengan dokter yang telah Narendra hubungi.
Dan wanita itu langsung di arahkan ke ruang bersalin untuk diperiksa." Sudah pembukaan ketiga." Ucap dokter yang memeriksa Hani, selain itu dokter juga menyarankan Hani untuk tidur miring ke kiri agar mempercepat proses pembukaan jika wanita itu masih sanggup dia bisa berjalan-jalan di ruangan itu.
Dan Hani memilih untuk berjalan karena tidur hanya akan membuatnya merasakan kesakitan tapi jika berjalan paling tidak dia punya pengalihan dari rasa sakitnya.
" Kamu sudah menelepon mommy?" Tanya Hani. Begitu Narendra selesai mengurus administrasi dan ruang rawat untuknya.
" Belum." Jawab Narendra, dia tidak sempat untuk mengabari keluarganya, karena harus mengurus semuanya sendiri.
" Hubungi mommy sekarang."Tanpa di suruh dua kali Narendra langsung mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Melly dan keluarganya.