HAANIYA.

HAANIYA.
Maaf mah.



Setibanya di apartemen Hani langsung masuk dan berbaring di atas ranjangnya begitu saja tanpa melepas sepatu yang ia gunakan.


Hani menenggelamkan wajahnya pada bantal, memaksa dirinya untuk tidur, berharap saat terbangun nanti dia akan merasa jauh lebih baik.


Sementara Narendra tidak ingin mengusik kenyamanan Hani, ia membiarkan wanita itu berbaring setelah membantu Hani melepaskan sepatunya, kemudian meletakkan sepatu itu pada tempatnya.


"Azzam pergilah, jangan menggangguku." Ucap Hani tanpa membuka kedua matanya, saat merasa Narendra berbaring di belakangnya sembari memeluk-nya." Azzam, aku ingin sendiri." Ucapnya lagi.


" Baiklah, selamat beristirahat aku ada di ruangan kerja jika kamu membutuhkan sesuatu." Katanya, sembari beranjak dari ranjang itu, Setelah mencium kening Hani.


Selama mereka tinggal di apartemen, Narendra hanya sesekali pergi ke perusahaannya dan jika ada meeting yang mendesak dia harus hadir, selebihnya Narendra melakukan pekerjaannya dari rumah.


...\=\=\=\=\=\=\=...


Drrrtt... Drrrtt...


Narendra yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, harus menunda hal itu ketika ponselnya yang ada di atas meja kerjanya, bergetar panjang.


Narendra meraih benda pipih itu, kemudian menggeser icon berwarna hijau saat melihat nama Luna tertera pada layar ponselnya.


" Halo ma!"


' Bang kamu dan Hani dimana? Ini mama udah di rumah sakit sama mommy Melly kok kalian nggak keliatan. Kita udah hampir sejam loh disini?' Tanya Luna, wanita itu terdengar kesal kepada Narendra. Sebab dia khawatir Narendra gagal membujuk Hani ke rumah sakit.


" Maaf mah, Rendra lupa ngabarin mama! Aku dan Hani udah pulang, tadi kita nggak lama di rumah sakit." Jelas Narendra dan terdengar helaan nafas Luna dari seberang sana. " Maaf ya mah."


' Ya sudah nggak papa! Yang penting Hani udah check up ke dokter. Setengah jam lagi mama dan mommy Melly akan kesitu_'


" Mah_"


" Mah, Abang nggak larang mommy Melly buat ketemu Hani, tapi Hani-nya yang nggak mau_"


'Dan kamu sebagai suami, harusnya ngomong sama Hani, bukan turutin kemauannya, sudah mama dan mommy kesana.' Usai mengatakan hal itu, Luna langsung mengakhiri panggilan mereka secara sepihak.


Narendra pun tidak bisa melakukan apa-apa, pria hanya bisa berharap hubungan sang istri dan mertuanya segera membaik, karena dia ingin melihat istrinya bahagia di tengah-tengah Keluarga mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Setengah jam berlalu, bel apartemennya pun berbunyi, Narendra segera merapikan pekerjaannya, kemudian keluar untuk membuka pintu.


" Kamu ngapain sih? Lama banget buka pintunya." Ucap Luna begitu Narendra membukakan pintu untuk mama dan mama mertuanya itu.


" Mom, apa kabar?" Sapa Narendra sembari mencium punggung tangan Melly, Setelah mencium punggung tangan Luna.


" Mommy baik, seperti yang kamu lihat! Hani-nya mana?" Jawabnya, wanita itu juga Bali bertanya.


" Di kamar mah, lagi istirahat setelah kembali dari rumah sakit." Jawab Narendra, pria itu mengikuti langkah Luna dan Melly masuk kedalam apartemennya.


" Bolehkah mommy melihatnya? Mommy kangen banget sama Hani." Ucap Melly dengan wajah sendu-nya.


Wanita yang masih terlihat begitu cantik di usianya hampir setengah abad itu, akhir-akhir ini sering sekali menangis mengingat kesalahannya.


Dia sungguh menyesal telah menyia-nyiakan putrinya, hingga anaknya lebih suka berada jauh dari mereka.


Untuk itu Melly ingin menebus semua kesalahannya dengan meminta maaf dan meluangkan waktunya untuk Hani walaupun terlambat, setidaknya dia ingin mencoba memperbaiki semuanya.


Narendra yang tidak tega untuk menolak, hanya bisa mengangguk kepalanya mempersilakan sang mertua masuk ke dalam kamar mereka.