HAANIYA.

HAANIYA.
Marah tanpa alasan.



Narendra baru keluar ruangan kerjanya untuk makan siang, lima belas menit setelah Hani, Meninggalkan meja kerjanya, untuk makan siang bersama Lita.


"Haaniya kemana?" Tanya Narendra kepada Nahla, karena saat itu hanya ada wanita itu disana. Seluruh staf sekertaris telah menuju kantin atau keluar perusahaan untuk mencari makan siang, begitu juga dengan Hani.


"Istri kamu udah keluar dari setengah jam yang lalu." Jawab Nahla sengaja berbohong." Mentang-mentang istri bos seenaknya! Dia nggak mikir apa tanggapan karyawan lain jika terus bersikap seperti itu. Ternyata benar ya apa yang di katakan Lisa." Sambungnya, sengaja ingin memanas-manasi Narendra berharap pria itu terbakar emosinya dan memarahi Hani, seperti di hotel waktu itu.


Suasana semakin bertambah panas, Saat Kevin keluar dari ruangannya dan ikut menyalahkan Hani serta menunjuk lebam di rahangnya." Liat nih, ulah istri kamu! di kasih tahu, baik-baik malah aku-nya yang di hajar. Emang kamu udah paling cocok tuh sama Nahla, lemah-lembut, baik dan udah pasti sayang sama kamu! Nggak kaya wanita bar-bar itu." Ucap Kevin Sembari merangkul pundak Narendra."Udah nggak usah bahas dia, nggak penting juga kan, mending kita ke kantin yuk, udah lapar nih." Lanjutnya lagi sembari menepuk pelan perutnya sendiri. Namum Narendra justru mengeleng-geleng kepalanya! Pria itu terlanjur kesal kepada Kevin, yang sudah berani mengata-ngatai Hani di depannya.


" Nggak, sebaiknya kalian berdua aja yang pergi, aku belum lapar." Sahut Narendra, sembari melepaskan tangan Kevin dari pundaknya dengan sedikit karas, Tak ingin mendengar kedua orang itu semakin menjelekkan istrinya, Narendra pun berbalik meninggalkan mereka, masuk ke dalam ruang kerjanya.


Pria itu tidak makan siang dan memilih untuk meneruskan pekerjaannya saja, karena sudah beberapa kali ia menghubungi Hani, namun seperti biasa, Hani tidak menjawab teleponnya bahkan pesan yang ia kirim pun di abaikan.


...\=\=\=\=\=\=\=...


Usai makan siang, Kevin masuk kedalam ruangan kerja Narendra, sembari membawanya makan siang yang mereka pesan di kantin untuk sahabatnya itu. " Makan dulu Ren." Ucap Kevin Sembari meletakkan makanan itu di depan meja kerja sahabatnya, membuat Narendra yang tengah fokus dengan layar laptop di depannya, sesekali mengetik sesuatu disana. Kini mendongak menatap kepada Kevin. " Nahla sengaja memesan ini, karena khawatir kamu belum makan siang." Ucapnya lagi. Membuat Narendra menautkan alisnya tajam. Narendra tahu, Kevin berbicara seperti ini karena Nahla yang memintanya, tapi dia sedang tidak berselera makan sekarang.


"Aku belum lapar Vin, kamu bawa keluar saja makanan itu." Ucap Narendra. " Dan satu lagi Vin! Kamu masih sahabatku bukan?" Tanya Narendra membuat Kevin terkejut.


"Tentu saja aku masih sahabat kamu! Lagian apa yang membuat kamu ragu kepadaku?" Jawab Kevin seraya balik bertanya kepada Narenda. Pria itu menjawab dengan gelengan kepala. " Terus kenapa kamu bertanya seperti itu kepadaku, Ren?"


Kevin seakan tak puas dengan jawaban yang di berikan Narendra. " Aku kan hanya bertanya! Apa tidak boleh?" Kevin pun terdiam sesaat, Sebelum kembali membuka suaranya untuk pamit keluar ruangan itu.


"Vin," Panggil Narendra, Sebelum tangan Kevin meraih handel pintu dan menghentikan langkah pria itu.


"Ya."


"Jika kamu tidak bisa berdiri dibelakang istriku dan mendukung dia dalam hubungan kami, cukup diam saja! Jangan pernah menjelekkannya, untuk alasan apapun. Jangan lupa jika aku pernah menolak puluhan wanita yang datang, termasuk Lisa. Semua itu hanya untuk satu wanita! Silahkan kembali berkerja. Jika dia sudah kembali, tolong minta dia keruang saya." Ucap Narendra begitu dingin dan ambigu, membuat Kevin terkejut seketika. Dia tahu hal itu dan dia sering melihatnya menolak wanita-wanita yang terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi menunjukkan perasaan mereka kepada Narendra, saat sekolah maupun kuliah dulu. Tapi dia tidak tahu wanita itu siapa.


Mengingat nama Hana yang selalu Narendra tekan sebagai adik, membuat Kevin kembali menengok kepada Narendra, seakan ia baru saja menemukan sesuatu tapi enggan untuk memastikannya.


Pria itu kemudian melanjutkan langkahnya, meninggalkan ruangan itu, walaupun ia masih sangat penasaran dengan semuanya.


Beberapa menit setelah Kevin pergi, pintu ruang kerja Narendra kembali di ketuk dari luar, pria itu pun mempersilahkan orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk. " Dari mana kamu?" Tanya Narendra. Tatapannya begitu serius.


"Aku habis makan siang sama Lita! Lagian aku keluar juga udah waktunya makan siang. Kenapa kamu bersikap seperti ini. Memangnya aku salah apa lagi kali ini." Tanya Haaniya. Ya orang yang baru masuk keruang kerja Narendra itu adalah Hani.


"Kamu masih bisa menjawab seperti itu. Haaniya, kamu itu sudah menikah harusnya yang kamu utamain itu aku suami kamu, bukan orang lain."


"Lita bukan orang lain, dia adalah sahabat aku." Sahut Hani tak suka saat Narendra menyebut Lita sebagai orang lain.


"Aku nggak peduli tapi sebagai seorang istri harusnya kamu penting itu aku, suami kamu. Tahu tanggung jawab nggak sebagai istri." Entah apa yang merasukinya hingga ia terus marah-marah kepada Hani nggak jelas gini." Kamu tahu aku sampai tidak makan siang karena kamu."


Hani mengerutkan keningnya. "Memangnya aku kenapa? Kamu tinggal ke kantin atau ke ke restoran untuk makan siang. Kenapa jadi marah-marah ke aku, lagian ini perusahaan bukan rumah." Keduanya terus saja berdebat.


"Yang bilang ini rumah itu siapa."


" Terus?"


"Haaniya, harusnya kamu tahu! Saat kita berdua bersama, kamu tetap harus melakukan tugas kamu sebagai istri. Tapi jika kamu keberatan kamu boleh kembali bekerja. Maaf karena sudah marah-marah tanpa alasan ke kamu." Ucapnya, hari ini pria itu terlihat begitu sensitif. " Tolong bawa makan itu sekalian kepada Nahla, tapi dia menitipkannya kepada kevin untuk di berikan kepada ku." lanjutnya sembari menunjuk makan yang di bahwa Kevin. sekaligus menjelaskan dari siapa makanan itu.


Dan Hani pun mengambil makanan itu kemudian di bawah keluar, kemudian di letakkan di atas meja kerja Nahla. " Besok-besok, nggak usah repot-repot siapin makanan buat suami saya lagi. karena saya masih sanggup untuk melakukannya.


Wanita itu pun melangkah ke arah lift, ia harus ke kantin untuk mencari makan siang buat Narendra. walaupun ia kesal kepada pria itu. namun ia tetap melakukan tugasnya sebagai istri.