HAANIYA.

HAANIYA.
Sikap berbeda.



Hani yang tengah terlelap, sedikit terganggu dengan suara bising di ruangan itu. Wanita itu ingat jika dia masih berada di rumah sakit, tapi suara tawa serta obrolan dengan volume yang tidak kecil itu, membuat tidur Haaniya terganggu.


Wanita itu perlahan membuka matanya dan yang dia lihat pertama kali adalah senyum Narendra.


Suaminya itu kini, sedang duduk di sisi ranjang tepat di sampingnya dengan tangan yang sengaja ia letakkan di sisi tubuh Hani, seakan tengah memeluk wanita itu. " Sudah bangun." Tanya Narendra begitu lembut, sembari mengusap pipinya.


Pria itu kini hanya fokus menatap wajah istrinya seorang." Maaf, aku sedikit le_" Ucap Hani tertahan sikap manis Narendra.


"Nggak papa sayang, aku ngerti kok! Lagian di sini sudah ada mereka untuk menjaga Kai, kalau kamu mau tidur, tidur aja lagi, nggak papa." Sahut Narendra, sembari melirik sekilas kepada para penganggu itu.


Hani pun mau tak mau mengikuti arah pandang Narendra. Sisanya Ada Samna yang duduk di samping Kai, wanita itu terlihat baik-baik saja, hanya dahinya yang terluka, Hani tahu itu karena ada kasa dan plester yang menutupi dahinya.


Sementara di sofa ada Lisa, saudari angkatnya itu yang paling besar tertawanya, dia bahkan duduk sambil bersandar pada dada bidang Arga. Selain itu Anda Nahla juga.


Entah kenapa, Hani merasa asing di ruangan itu, ia tadi masih nyaman saat hanya berdua dengan Narendra menjaga Kai,


Tapi sekarang ia seperti anak ilang berada di tengah-tengah pasangan coupel itu. Hani mengangguk samar pada pertanyaaan Narendra tadi.


" Kapan mereka mereka datang." Tanya Hani, hanya sekedar basa-basi aja.


" Sejam yang lalu kira-kira. " Sahut Narendra, pria itu terus saja memberikan perhatiannya kepada Hani, membuat Lisa dan Nahla yang melihatnya, semakin panas.


Kedua wanita itu, seperti kebakaran jenggot melihat, keromantisan Narendra pada Hani,.


" Cih, dimana-mana orang kalau jagain orang sakir tuh, di tanggung-in bukan sebaliknya." Ucap Nahla sedikit menyindir.


Wanita itu seakan tak ada bosannya mencari masalah dengan Hani, walaupun hal itu pada akhirnya hanya membawa rasa malu pada dirinya sendiri, tetap saja dia akan terus mencobanya lagi-lagi dan lagi.


Nahla ingin sekali saja ia merasakan kemenangan saat bersaing dengan Hani. Untuk itu ia kembali mencoba mengusik wanita itu seperti sekarang ini.


Namun Hani tidak menghiraukan wanita itu, Hani justru beranjak dari ranjang, kemudian melangkah melewati mereka begitu saja, sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Liat sendiri-kan! Sombong banget si Hani itu." Bisik Nahla, pada Lisa, yang berada di sampingnya." Kesel aku, udah jadi perusak hubungan orang, bertingkah pula." Lanjutnya. Dia sangat kesal kepada Hani.


Keduanya yang awalnya asing itu, kini semakin asing! Bagaikan orang yang tidak pernah mengenal sama sekali.


Sakit hati dan kecewa tentu saja! Tapi dia bisa apa? Memaksa Narendra atau menjebaknya, rasanya begitu sulit untuk dia lakukan.


Karena baru rencana saja, mereka seakan sudah bisa mengetahuinya, sungguh sangat menyebalkan. Sangat-sangat menyebalkan.


"Bang, udah sarapan belum? Kita sarapan di luar yuk." Ucap Nahla pada akhirnya, berharap Narendra mau menyambut ucapannya dengan baik. Namun pria itu hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Membuat Nahla kesal.


Kalau bisa, ia mungkin sudah menghentak-hentakan kakinya dengan kuat. Agar semua orang tahu jika ia sedang marah.


" Bang, di tanya sama Nahla tuh! Kok diam aja." Samna yang kasihan dengan perubahan raut wajah Nahla, menegur Narendra.


" Haahh apa?" Tanya Narendra.


" Nahla tanya Abang udah sarapan belum, kalau belum dia mau ngajak Abang buat sarapan bareng gitu." Sela Lisa, sembari menjelaskan maksud dari ucapan Nahla.


" Oh, maaf! Aku nunggu Hani aja! Kita mau sarapan di luar sekaligus pulang buat ganti baju, kebetulan kalian masih ada disini."Ucap Narendra, pria itu mengeluarkan ponsel dari saku jasnya untuk melihat, pekerjaan yang masih bisa ia periksa melalui ponselnya.


" Terus nanti baliknya jam berapa bang? Soalnya aku nggak bisa lama disini, masih ada urusan juga di tempat lain." Tanya Lisa lagi wanita itu begitu sok sibuk.


" Ntar lah liat nanti! Tang pasti kita berdua tetap balik." Jawab Narendra tanpa mengalihkan pandangannya dari benda persegi yang ia pegang.


Hingga bunyi pintu yang terbuka, kemudian tertutup lagi itu, membuat Narendra, mengangkat wajahnya, kemudian tersenyum kepada Hani. " Sayang sudah?" Tanya Narendra


" Hmmm." Hani menjawab dengan bergumam sambil menganggukkan kepala, membuat ketiga wanita di ruang itu kesal setengah mati.


Mereka dengan susah payah mengajak Narendra berbicara, tapi pria itu justru bersikap dingin kepada mereka. Giliran bersama Hani, pria itu justru di berikan Sikap dingin oleh Hani.


" Ya udah kita pergi sekarang yuk." Hani kembali mengangguk saja, setelah itu ia mengambil tas nya. Tak lupa untuk berpamitan kepada mereka yang ada di ruangan itu, sebelum melangkah keluar disusul oleh Narendra suaminya.