HAANIYA.

HAANIYA.
Bonchap 6



Haaniya tidak hanya disibukkan dengan mengurus anak dan suami saja, ia juga harus membagi waktu juga dengan bisnis hotelnya yang kini sudah mengurit sampai keluar negeri, walaupun ia masih dibantu oleh sahabat-sahabat tetap saja, seorang Haaniya kelelahan dan berakhir sakit seperti sekarang ini.


Tiga Hari sudah wanita itu hanya bisa berbaring di atas ranjangnya, kepalanya pusing dan seluruh tubuhnya terasa lemas.


Rasa pusing yang dia rasakan membuat ia beberapa kali mual dan muntah hingga membuatnya tidak berselera untuk makan.


Zavind dan Xavier selalu berbaring disampingnya menunggu sang mami." Mi, masih sakit." Tanya Zavind sembari mengusap punggung tangan mommy-nya sementara kedua kakaknya belum pulang sekolah.


"Nggak papa sayang, nanti juga mami sembuh." Ucap Hani begitu pelan tidak ingin membuat kedua putranya sedih.


"Kapan sembuhnya mi, dari kemarin mami ngomong gitu terus tapi nggak sembuh-sembuh." Kedua mata anak itu sudah berkabut karena cairan bening yang membendung di kelopak matanya.


"Zavi, Jangan ngomong gitu nanti mami sedih Lo." Tegur Xavier kepada saudara kembarnya itunya.


"Tapi aku nggak suka lihat mommy sakit Xavi," Ucapnya menyampaikan ketidak sukaan-nya.


Mendengar itu salah satu sudut bibir Hani tertarik keatas. Ia begitu merasa beruntung karena sangat dicintai anak-anaknya, walaupun mereka masih kecil tapi mereka begitu sangat pengertian dan sayang kepadanya.


"Mami juga nggak mau sakit sayang! Nggak enak, tapi gimana dong udah waktunya mami sakit." Sahut Hani berharap dengan begitu kedua putranya itu tenang.


"Tapi harus cepat sembuh ya." Pinta Zavind.


"Iya sayang. Mami pasti akan cepat sembuhnya." Anak itu mendekat kepada Hani lalu memeluk kepala-nya dari samping.


"Xavier juga sayang banget sama mami." Xavier tidak ingin kalah dengan saudara kembarnya.


"Iya-iya mami juga sayang sama Zavind dan Xavier." Hani hanya bisa mengusap puncak kepala anak-anaknya karena dia tidak bisa bangun dari tempat tidur kepalanya begitu pusing.


"Honey, ayo makan dulu aku sudah buatkan bubur." Ucap narendra, pria itu masuk kedalam kamar mereka sambil membawa nampan berisi mangkuk bubur dan segelas air putih untuk Hani.


"Kepala aku pusing, mual juga! Buburnya di taruh disitu dulu ya, nanti kalau sudah enakan aku makan." Sahut Hani, sembari memejamkan matanya.


"Nggak honey, kamu harus makan terus minum obat, biar ada tenaga atau kita ke rumah sakit aja." Ujar Narendra hanya direspon gelengan kepala.


"Honey_"


"Azzam, aku mohon aku baik-baik saja, aku cuma butuh istirahat, tolong ngerti aku." Kalau Hani sudah berbicara seperti ini Narendra bisa apa selain mengikuti.


Walaupun ia begitu sangat mengkhawatirkan kondisi Hani. Pasalnya sudah tiga hari ia terbaring lemah di atas tempat tidur mereka, nggak mau makan kalau dibujuk ke rumah sakit pasti dia akan sangat marah dan berujung panjang dan tidak mau berbicara dengannya.


"Ya sudah istirahatlah honey, panggil aku jika butuh sesuatu. Anak-anak saatnya makan siang, kalian nggak mau kan ikutan sakit sama seperti mami." Ajak Narendra lalu membawa kedua putranya keluar dari kamar itu, membiarkan Hani beristirahat agar wanita itu cepat pulih kembali.


Entah mengapa Narendra merasa sakit Hani ini bukan sakit biasa, mengingat gerak-geriknya yang aneh tapi Narendra harus mengeceknya terlebih dulu untuk memastikan dugaannya itu.