HAANIYA.

HAANIYA.
Marah nggak jelas.



Tidak ada yang berubah dalam kebiasaan Hani setelah ia menikah, kecuali orang yang menemaninya tidur. Wanita itu masih sama sulit terlelap di malam hari, masih merasakan rindu kepada orang yang tidak akan pernah bisa ia miliki lagi. Dia juga masih merasakan kesepian dan selalu sendiri walaupun ada tangan yang saat ini melingkar di pinggangnya, memeluknya dengan begitu erat.


'Apa selamanya aku akan hidup seperti ini?'pertanyaan itu selalu menghiasi kerja otaknya. Tentu saja wanita itu tidak ingin selamanya seperti itu, namun dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya terbebas dari perasaan itu. berdamai dengan keadaan, mengikhlaskan semuanya, sudah ia lakukan tapi kenapa, kenapa ia masih terbelenggu di sana. Sebenarnya apa salah dia, kurang kah ia berbuat baik selama ini.


" Kenapa tidak tidur." Pertanyaan itu sontak membuatnya membuka mata dan mendapati pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Sedang menatapnya sembari menopang kepalanya mengunakan tangan kirinya." Kenapa tidak tidur? kamu lihat, sudah jam berapa ini."Pria itu kembali mengulang pertanyaan yang sama sembari menunjuk jam yang menempel pada dinding kamar mereka.


Pukul tiga lewat tujuh menit. " Aku memang sudah seperti ini, jika pertama kali menginap di tempat yang baru! butuh penyesuaian dulu." Sahut Hani, sembari memiringkan tubuhnya untuk memunggungi Narendra.


" Kamu yakin? bukan karena alasan lain! karena seingat aku, dulu kamu tidak pernah begini."Ujar Narendra lagi, Seraya berbisik di telinga Hani dengan sengaja menghembuskan nafasnya, hingga mengenai kulit leher wanita itu. membuatnya merasa geli, belum lagi tangan Narendra yang bergerak naik-turun mengusap lengannya untuk menggoda Hani.


" Tentu saja! memangnya kamu tahu apa tentang aku!" Ucap Hani sembari menepis tangan Narendra! bukannya dia ingin bermaksud kurang ngajar kepada suaminya itu, tapi jujur saja! untuk saat ini Hani belum siap di sentuh walaupun ia telah mengizinkan Narendra untuk melakukan hal itu.


" Katanya aku bebas melakukannya! baru di sentuh aja tangan aku udah di tepis, gimana sih! bisa konsisten nggak dengan omongannya! atau jangan-jangan yang kemarin itu kamu cuma mau sok aja, iya kan." Tuduhnya.


" Terserah! jangan ganggu aku!" Sahut Hani, wanita itupun menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya sampai kepala.


Namun beberapa detik kemudian, Narendra kembali menarik selimut itu kemudian berkata. "Bagaimana jika aku tidak mau! kamu mau marah." Hani hanya mampu mendengus di buatnya, sementara pria itu kembali berbisik di telinga Hani lagi. " Aku menginginkan Hak aku malam ini juga! apa kamu bisa memberinya." Tubuh Hani langsung menegang seketika. Tanpa banyak berkata wanita itu langsung beranjak dari ranjang dan bergegas meninggalkan ruangan itu masuk kedalam kamar mandi tak lupa untuk mengunci pintu kamar mandi itu agar Narendra tidak dapat menyusulnya.


" Hai Haaniya! apa yang kamu lakukan di dalam sana? jangan coba-coba untuk menghindari kewajiban kamu ya." Teriak Narenda sembari menggedor-gedor pintu kamar mandi, pria itu beberapa kali mencoba membukanya tapi sayang ia gagal. Narendra pun memutuskan untuk kembali ke ranjang menunggu Hani keluar. Tapi sayangnya sampai ia terlelap Hani tak kunjung keluar.


Haaniya yang memang tidak bisa tidur, menghabiskan waktunya menunggu pagi di dalam kamar mandi itu. Dia baru keluar kamar mandi saat yakin di luar sana Narendra telah tertidur.


Setelah itu, ia bergegas membersihkan dirinya, berganti pakaian dan meninggalkan rumah itu setelah berpamitan kepada Luna, wanita itu juga tak lupa meninggalkan pesan untuk Narendra. ' Maaf tidak meminta izin langsung darimu, istrimu ini harus mulai mencari pekerjaan, sampai bertemu malam nanti."Isi pesan yang di tinggalkan Hani.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Entah apa yang membuat pria itu kesal, sejak menginjakkan kakinya di kantor ia terus saja marah-marah tidak jelas. Bahkan Nahla pun tidak lepas dari kemarahan pria itu, Seperti sekarang ini. " Kamu sebenarnya bisa kerja nggak sih? kalau nggak bisa mending kamu tulis surat pengunduran diri kamu! karena di luar sana masih banyak orang yang mau menempatkan posisi kamu dan aku yakin kinerja kerja mereka sudah pasti lebih baik dari kamu. Masa buat laporan kaya gini aja nggak bisa! ada aja masalahnya." Ucap Narendra panjang kali lebar kepada wanita yang masih berstatus kekasihnya itu. entahlah benar atau tidak status itu.


" Bang kok gitu sih! biasanya juga Nala buatnya kaya gini."


" Diam kamu! kamu bisa membedakan tempat tidak! ini kantor jangan mencampuri urusan kantor dengan urusan pribadi paham kamu." Bentak Narendra membuat Air mata yang sejak tadi Nahla tahan jatuh begitu saja membasahi pipinya." Perbaiki laporannya! satu jam lagi saya sudah melihatnya di meja saya. Ingat jangan sampai salah lagi." lanjutnya, sembari melempar laporan itu kepada Nahla. Setelah itu ia kembali mendaratkan bokongnya pada kursi kebesarannya dan memutar kursi itu, sehingga kini ia memunggungi Nahla.


Sementara Nahla sendiri, tidak dapat berkata-kata! wanita itu hanya bisa menangis dalam diam sambil memungut hasil pekerjaannya, kemudiaan melangkah keluar dari ruangan itu dengan tangan yang terkepal. " Awas kamu Haaniya," Gumamnya, entah apa salah Haaniya dalam hal ini.


Arga yang melihat Nahla menangis saat keluar dari ruangan kerja Narendra. Menghampirinya kemudian bertanya apa yang terjadi dengannya sehingga ia menangis.


" Aku di marahi sama bang Rendra kak! Padahal biasanya, setia aku buat laporan. Bang Rendra nggak pernah se-marah ini sekalipun kesalahannya fatal! tapi sekarang dia berani memarahi dan membentak aku, dia bahkan meminta aku untuk menulis surat pengunduran diri kalau memang tak sanggup untuk berkerja. Kak ini semua pasti karena wanita itu, aku takut! bagaimana kalau bang Rendra nggak mau balik lagi ke aku setelah enam bulan nanti." Ucapnya panjang kali lebar, sembari memeluk Arga.


"Sudah kamu jangan pikirin macam-macam. Mungkin saja bang Rendra lelah. Nanti biar kakak coba bicara sama dia! Udah, kamu jangan nangis lagi. Nanti cantikmu hilang loh." Sahut Arga, sembari mengusap jejak basah yang tertinggal pada pipi Nahla. " Sekarang kamu kembali ke meja kamu! kakak mau temui Rendra dulu." Nahla pun mengangguk kepalanya.


Setelah mendapatkan anggukan dari Nahla, pria itupun masuk ke dalam ruang kerja adiknya. " Kamu kenapa sih! kok sampai marahin Nahla segitunya! ada masalah kah?" Tanya Arga sembari mendaratkan bokongnya pada kursi yang telah tersedia di sana dan menghadap langsung dengan Narendra tanpa di persilahkan terlebih dulu.