
"Hani! Kamu sudah bangun?" Tanya yang menyadari sahabatnya itu telah membuka kedua matanya.
Membuat semua orang yang ada di ruangan itu kompak melihat kepada Hani. Bahkan Melly yang hendak menyusul Lita pun mengurungkan niatnya dan menghampiri putrinya itu.
Hani sudah membuka kedua matanya sejak dia mendengar suara tamparan yang di lakukan Lisa kepada sahabatnya Lita.
Namun wanita itu hanya diam sembari menatap langit-langit, ruangan itu dengan air mata yang menetes di kedua sudut matanya.
Harusnya wanita itu senang berada di tengah-tengah keluarganya, tetapi entah mengapa dia justru merasa kecewa dan sesak di dadanya.
"Sayang_"
"Aku ingin sendiri." Ucapnya begitu pelan dan terdengar serak, Sebelum Dion sempat menyelesaikan ucapannya.
"Haani_"
"Aku bilang aku ingin sendiri." Ulangnya lagi. Tanpa menatap kearah arah mereka sedikitpun.
"Maaf! Aku nggak bermaksud mengusir kalian dari ruangan ini, tapi sebaiknya kalian turuti keinginannya untuk saat ini." Ucap Narendra, pria itu beranjak dari tempat duduknya, kemudian membuka pintu ruang rawat itu untuk mereka.
Dian yang mengerti suasana hati Hani serta kondisinya, langsung beranjak dari tempat duduknya tanpa banyak bicara.
Wanita itu menghampiri putrinya, kemudian mencium kening Hani." Jangan di jadikan beban ya sayang! Kalau kamu butuh sesuatu katakan, bunda akan selalu ada buat kamu." Pesan Dian dengan tangan yang terulur mengusap perut Hani.
Entah dengan cara apalagi, dia mengembalikan Haaniya-nya. Anak itu semakin jauh saja dari mereka.
" Baiklah mama akan keluar, kabari mama jika Hani butuh sesuatu." Ucap Luna. Wanita itu pun melangkah menyusul Dian, di ikuti Ela dan Reval. Sementara Melly dan Dion masih berada di ruangan itu bersama Narendra yang masih memegang pintu menunggu kedua mertuanya keluar.
Dion beranjak dari tempat duduknya, lalu mendekati Hani. Begitu dia berdiri tepat di samping ranjang putrinya, pria itupun mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Hani namun Hani justru menghindarinya, membuat kening Dion mengerut.
Pria yang masih terlihat tampan walaupun usianya kini sudah setengah abad itu, menatap dengan begitu intens wajah Putrinya.
"Sayang, kamu membenci Daddy?" Tanya Dion. Namun wanita itu itu memilih untuk membisu sembari membuang pandangannya ke samping. " Honey, keluarlah bersama menantu kita, aku akan berbicara berdua dengan gadis keras kepala ini." Titah Dion kepada istri dan menantunya.
Melly awalnya ragu meninggalkan Hani bersama Dion, akan tetapi setelah dia memikirkan semuanya, wanita itu pun mengangguk kepalanya seraya berkata."By Jangan memaksa jika dia tidak mau , Ayo Ren." Kemudian Melly mengajak menantunya itu, keluar dari ruangan itu.
Melly sendiri sudah bercerita kepada Dion, jika Hani menyesal bertemu dengannya. Bahkan semua yang dia dengar dari mulut Hani di kantin waktu itu, sudah Melly katakan kepada Dion tanpa ada yang dia lewatkan.
Dan hal itu membuat keduanya kepikiran, meraka tentunya ingin memperbaiki hubungan mereka. karena Mereka berdua tidak bermaksud untuk mengabaikan Hani atau membuatnya tersisih. Tapi keadaan dan kurangnya komunikasi diantara mereka, membuat semua ini terjadi dan semakin berlarut-larut.
Setelah Melly dan Narendra keluar. Dion memilih untuk duduk di tepi ranjang rawat putrinya itu, agar dia dapat melihat wajah Hani, walaupun Hani tidak ingin menatap wajahnya sama sekali.
"Maaf sayang! Jika selama hidupmu, Daddy dan mommy! Sudah membuat Hani terluka! Tapi dengan kamu yang diam seperti ini dan terus menghindar itu hanya akan semakin memperburuk hubungan kita sayang serta menyakiti diri kamu sendiri! Untuk itu kita harus bicara."