
Di sebuah pohon besar yang rindang seorang orang wanita duduk sambil bersandar pada batang pohon itu. sekiranya di penuhi rerumputan hijau dan sejauh matanya memandang ia tidak menemukan siapapun disana. Sungguh itu sebuah taman yang begitu indah, walaupun ia hanya sendiri namun ia betah berada di sana karena udara yang sejuk dan angin yang berhembus sepoi-sepoi, membuatnya tenang, tidak hanya itu, ia juga merasa sesak yang selama ini memenuhi dadanya hilang.
Saking nyamannya ia disana, wanita pun mengubah posisinya, yang tadinya duduk. kini berbaring di atas rerumputan itu, sembari menatap ranting pohon dimana bunga dan daun sama banyaknya.
Baru saja ia memejamkan matanya, tiba-tiba angin bertiup dengan begitu kencang, membuat pohon itu berguncang hingga bunga-bunganya berguguran di atas tubuhnya disertai sebuah bisikan yang teramat lembut. " Segala sesuatu ada alasannya Haaniya."
Kedua matanya langsung terbuka." Cuma mimpi." Gumam wanita itu, karena saat ini dia masih berada didalam kamarnya, lebih tepat kamar Suaminya.
Tok... tok.... tok..
" Mbak Hani, Nay boleh masuk."
Ketukan pintu di ikuti suara sang adik ipar, membuat kesadaran Hani langsung terkumpul semuanya, bayangan serta kata-kata itu, menghilang begitu saja. "Masuklah Nay." Sahutnya mempersilahkan sang adik ipar untuk masuk.
Gadis diluar sana, langsung membuka pintu kamar itu dan melangkah masuk kedalamnya, ia kemudian berjalan menghampiri Hani yang beranjak turun dari tempat tidurnya.
" Tadi mbak tidur ya? maaf ya Nay udah bangunin mbak." Ucap Gadis itu. karena merasa bersalah kepada kakak iparnya.
" Nggak kok Nay! Mbak udah bangun sebelum kamu mengetuk pintu, Cuma malas aja, turun dari ranjang." Jelas Hani, agar adiknya itu! tidak perlu merasa tidak enak hati kepadanya. " Oh iya, Nay cari kakak buat apa?" Tanya Hani.
" Iya, hampir saja Nay lupa." Wanita itu menepuk jidatnya sendiri, sembari duduk di tepi ranjang bersebelahan dengan Hani." Gini kak! tiga bulan lagi kak aku harus magang nih."
" Iya, terus hubungannya sama mbak apa?" Tanya Hani saat Nayna menjeda ucapannya.
"Iiihhhh, mbak dengerin dulu! jangan main potong aja ucap Nay." Ucapnya merajuk. Membuat Hani, mengeleng-geleng kepalanya. Bukannya dia yang menjeda ucapannya sendiri.
" Iya-iya mbak diam." Sahut Hani sembari tersenyum hangat kepada Adik iparnya itu.
" Pihak kampus menyarankan kita untuk memilih diantara, beberapa perusahaan besar dan hotel yang akan kita jadikan tempat magang! Dan Mbak tahu diantara jejeran perusahaan besar itu. pemimpinnya tu orang-orang nyebelin semua. Yang ada aku bukannya magang mala di kerjain." lanjutnya, membuat Hani mengerutkan keningnya bingung. " Tapi nggak penting-lah itu, Karena aku sudah memilih untuk magang di Hotel saja, cari suasana baru."
" Syukurlah kalau." Sahut Hani.
" Mbak belum selesai." Ujarnya dengan bibir bawah yang ia majukan, beberapa centimeter, membuat gadis itu terlihat semakin mengemaskan.
" Iya mbak diam nih." Hani pun kembali diam, membiarkan Nay meneruskan ucapannya.
Namun, semenit dua menit sampai lima menit! Nayna tak kunjung berbicara, wanita itu hanya menatap Hani dengan gelisah! Ada keraguan yang terpancar jelas dimatanya. "Katakan saja, jika mbak bisa, mbak akan membantu." Hani mencoba, meyakinkan gadis itu. walaupun dia sendiri ragu akan diamnya Nayna, karena sungkan meminta bantuannya.
" Benaran?" Hani mengangguk kepalanya."Mbak janji ya."Lagi-lagi Hani hanya mengangguk. Gadis itu kemudian memperbaiki posisi duduknya sembari menggenggam tangan Hani." Gini kak! Nay kan udah memutuskan bakal magang di hotel, nama hotelnya Grand Secret H! Terus kata mbak Ela, mbak kenal baik sama pemiliknya. Boleh nggak mbak, kalau mbak ngomong sama pemiliknya, biar Nanti pas waktu magang Nay dapat cabang yang di Bali, kan Nay bisa sekalian liburan. please ya mbak! ngomong sama pemiliknya." Ucapnya, membuat Hani menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembusnya, sebelum mengangguk mengiyakan permintaan Nayna.
" Terima kasih mbak! mbak Hani memang yang terbaik." Ucap wanita, sembari melempar dirinya kepada Hani dan mencium kakak iparnya itu, saking senangnya.
" Sekali lagi terima kasih ya mbak! Nayna mau bujuk mama dari sekarang ah, biar bisa di izinin nanti." Ucapnya sembari melangkah keluar meninggalkan Haaniya seorang diri.
Begitu Nayna pergi! Hani kembali teringat akan mimpinya tadi, Wanita itu hafal betul suara bisikan itu. suara itu sama persis seperti suara Keenan. Sayang kenapa kembali memanggilnya Haaniya, sama seperti mereka pertama bertemu dulu. Tidak Lagi Honey, seperti saat mereka akan berpisah.
Apa pria itu sudah bahagia disana, karena ia telah kembali kepada keluarganya! apa pria itu tidak sedikitpun sedih, karena dia kini telah menikahi pria lain.
Memikirkan semua itu membuat kepala Hani sakit begitu pula dengan Hatinya, ingin sekali dia menangis tapi Hani tidak ingin ada yang melihat sisi rapuhnya dia termasuk Narendra, suaminya.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Di sebuah cafe, terlihat lima orang pria! sedang duduk bersama menikmati kopi pesanan mereka sembari bercengkrama. Mereka adalah Narendra, Arga, Nino, Kevin dan Kairan.
Berkumpul menikmati pemandangan sengaja di cafe itu. sudah menjadi kebiasaan mereka sejak duduk di bangku SMA dan sampai saat ini mereka masih suka melakukan hal itu.
" Habis nikah! makin ceria aja tuh muka." Goda Kevin. Sementara Narendra yang di goda hanya tersenyum samar. Bagaimana ia tidak bahagia, pria itu punya main baru dirumahnya. Tentu saja, cerah hidupnya apalagi saat mengerjai Hani.
"Jelas aja dia Senang kalian nggak tahu aja apa yang di lakukan Rendra_" Ucap Kai terhenti saat. Saat Narendra yang tiba-tiba menendang kakinya. " Hahaha, Narendra, Narendra, berlian di titipkan ke preman. ya Gitu."
" KAIRAN." Sentak Narendra membuat pria itu terdiam.
" Ada apa sih? kalian menyembunyikan sesuatu." Tanya Nino. Kai dan Rendra pun kompak mengeleng-geleng kepala mereka." Terus kenapa kamu memotong ucapan Kai." Tanya Nino lagi, pria itu terlihat begitu ingin tahu.
" Dia nggak suka bualan aku, Padahal-kan cuma bercanda. Sensitif banget sekarang. kayaknya dia kurang vitamin dari Nahla." Sahut Kairan membuat mereka percaya saja.
" Bukan kurang! tapi bakalan kekurangan, selama enam bulan kedelapan. Karena ia dan Nala dilarang ketemu." Jelas Arga.
" Enam bulan apaan! tuh sih Nahla, Amna sama Lisa! sedang berjalan kesini." Ucap Kevin, Sembari menunjuk tiga orang wanita yang baru saja melewati pintu masuk dan berjalan kearah mereka.
Mereka pun kompak menatap kepada tiga wanita itu. " Hai bang_"
" Aku balik duluan ya." Tiba-tiba Narendra langsung pamit, membuat Nahla yang hendak menyapanya pun menghentikan ucapannya.
Tanpa menunggu, Sahut dari teman-temannya Narendra sudah berdiri dan hendak melangkah keluar. namun lengannya langsung di tahan oleh Nahla. " Aku tahu, Bang Rendra hanya menuruti permintaan Tante Luna, tapi banga Rendra udah janji loh sama Nala tidak akan menyentuh wanita itu." Ucap Nala, mengingat! sementara Narendra hanya diam, tak menolak ataupun mengiyakan.
" Jangan menyentuhnya! yang benar saja. Kucing di kasih ikan asin aja diembat, masa salmon diangguri. ngelawak Kali." Sahut Kairan lagi. Pria itu memang sedikit menyebalkan.
" Udah ya aku balik dulu." Narendra langsung melepaskan tangan Nala, kemudian meninggalkan cafe itu tanpa menengok kebelakang.