
Setelah Narendra mengatakan segalanya. Hubungan keduanya tetap sama tidak ada perkembangan apa-apa. Perasaan Hani masih untuk Keenan, mau seburuk apapun Narendra menjelekkan Keenan, hal tidak dapat melunturkan rasa yang Hani punya.
Walaupun begitu, ia tetap menjalankan perannya sebagai istri yang baik dan tidak sudah dua bulan Hani menjalani peran itu.
Bahkan selama dua bulan ini banyak hal yang terjadi, seperti pemecatan Hani sebagai sekertaris Narendra karena ia mengetahui Rencana Regan dan Sialnya, ia baru mengetahui hal itu setelah menandatangani kontrak kerja saja.
Sehingga Narendra tidak punya pilihan selain merumahkan istrinya. Padahal pekerjaan Hani sangat bagus, cepat dan tepat waktu. Tapi mau bagaimana lagi. Dari istrinya di culik orang seperti Regan.
Narendra juga masih ingat dengan jelas, bagaimana marahnya Regan, saat pertemuan mereka di las Vegas waktu itu. Pria itu bahkan tidak malu untuk bertanya dimana Hani, karena saat itu yang ikut staf sekertaris lain. Bukan Nahla, Narendra sudah benar-benar menjauhi wanita itu.
Selain itu Kevin juga sudah siap jika di minta untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya malam itu. Tapi dia sendiri Ragu, apa Nahla mau dengannya.
Saat itu Narendra di temani Kai, pria itu belum juga mau pulang ke rumah. Karena sang kakek begitu keras kepala sama seperti dirinya. Tidak ada yang mau mengalah di antara cucu dan kakek itu.
"Malam ini aku akan keluar dengan Lita. Mungkin akan pulang terlambat." Ucap Hani, membuat Narendra yang sedang memasang dasi di lehernya, menghentikan aktivitasnya sejenak. Menatap sang istri dari pantulan cermin di hadapannya hingga wanita itu kini berdiri di depannya.
Hani dengan cekatan memasang dasi Narendra, kemudian merapikan kerak kemeja suaminya. " Ke club lagi?" Tanya Narendra Hani pun mengangguk kepalanya. " Ada masalah-kah disana?" Narendra terus bertanya.
" Ya sedikit!" Jawab Haaniya. Untuk menutupi hotel Grand Secret, Hani membiarkan club' miliknya di ketahui oleh Narendra, karena sejak Hari itu Narendra terus mencari tahu tentangnya. Hingga membuat Hacker andalannya sedikit kewalahan, menghadapi Kai. Karena pria itu begitu pandai menyabotase data orang lain. Ia bahkan bisa bermain-main dengan satelit negara lain tanpa di ketahui. Apalagi cuma Identitas Hani sebagai pemilik hotel grand secret. Itu sangat mudah untuknya itulah sebabnya ia sengaja membiarkan mereka mengetahui ke club itu.
" Masalah apa? Apa itu serius?" Narendra melingkarkan tangannya pada pinggang Hani, sedikit menunduk untuk mencium pundak istrinya itu.
" Hanya masalah kecil. Kamu tenang saja! Kita bertiga bisa mengatasinya."
"Baiklah, jangan sungkan untuk meminta bantuan ku jika kamu benar-benar membutuhkan." Hani menjawab dengan menganggukkan kepalanya, tangan wanita itu kini sudah melingkar pada leher Rendra.
" Bagaimana kerja sama kamu dan Regan?" Tanya Hani, sejak hari itu mereka berkomitmen untuk jujur kepada satu sama lain dan tidak akan menyembunyikan apapun lagi, Hani pun setuju tapi dia belum mengatakan tentang hotelnya. Hanya itu rahasia yang Hani simpan sampai waktu yang tepat dia akan menceritakan semuanya kepada keluarganya dan itu tidak sekarang.
" Sejauh ini semua berjalan lancar! Dan dia masih sering bertanya tentang kamu! Kamu merindukan, Hani tersenyum smirik. Mana mau,dia merindukan pria seperti Regan itu. Jikapun dia rindu, satu-satunya rindu yang dia punya adalah dendamnya. " Jangan pernah menganggap Remeh dia ya Sayang, karena kita tidak tahu apa yang sedang dia rencanakan, orang seperti Regan tidak mungkin akan datang tanpa persiapan.
" Aku tahu."
"Istriku memang yang terbaik?" Puji Rendra. " Hari ini kamu belum memberikan aku ciuman selamat pagi sayang." Narendra mengingatkan Hani untuk ciuman, entah sejak kapan kebiasaan itu harus ia dapatkan Sebelum berangkat kerja, dan tanpa banyak bicara, Hani langsung menempelkan bibirnya pada bibir Suaminya itu sesaat. Ketika dia ingin menarik dirinya untuk menyudahi ciuman mereka, Rendra just menahan tengkuknya, sengaja memperdalam ciuman mereka dengan sedikit *****-an basah disana, bahkan pria itu tidak peduli, jika pada akhirnya, perbuatannya yang membuat ia tersiksa sendiri." Aku sudah tidak bisa menahan ini lebih lama lagi." Ucap Narendra dengan suara serak karena terbawah gairahnya yang sengaja ia bangkitkan sendiri."
Narendra kembali mencium bibir ranum istrinya itu, yang selalu terlihat begitu menggoda. Ciuman yang awalnya lembut menjadi semakin menuntut.
Sementara Hani sendiri tidak menolak, ia membiarkan Narendra berbuat sesukanya pada tubuhnya, sebab dia tahu itu hak Narendra mengingat statusnya sebagai istri pria itu.
Mungkin hal ini terlihat Aneh. Tapi banyak wanita diluar sana yang dapat melakukan hal ini tanpa cinta, ada yang terpaksa, ada yang ingin karena membutuhkan uang dan ada yang hanya sekedar membutuhkan kepuasan saja. Hani Seperti mereka dia membiarkan Narendra melakukan itu karena status dan kewajibannya saja.
Baju yang di gunakan Hani sudah terangkat keatas, hingga memperlihatkan bukti kembar wanita itu yang masih terbungkus kain penutup berwarna putih tulang. Membuat Gairah Narendra semakin meletup-letup pria itu bahkan telah meninggal satu tanda kepemilikannya di sana. Belum lagi sang adik di bawah sana yang mulai bangkit dari tidurnya.
Tok... Tok.. tok..
Sayang sekali, ketukkan di pintu kamarnya, membuat Narendra harus menyudahi itu semua. " Maaf non, den. Kalian di tunggu nyonya untuk sarapan." Ucap pelayan dari balik pintu kamar mereka.
" Sial." Umpat Narendra.
" Kita bisa melakukannya lain waktu." Ucap Hani untuk menenangkan suaminya. Sebab Hani tidak tahu jika pria yang sudah berada pada mode on, harus segera di tuntaskan jika tidak hal itu dapat menganggu aktivitas.
Tok.. tok... Tok...
" Non, Aden." Panggil Pelayan itu lagi, ketika tidak mendapatkan jawaban apapun dari Pasangan suami istri itu.
" Katakan, kepada nyonya mu, kita akan segera turun dan pergi dari rumah ini, menyebalkan sekali." Sahut Narendra, pria itu bahkan tidak segan-segan mengumpat di hadapan Hani, ia juga tidak peduli hal itu akan di dengar orang pelayan itu.
Narendra beranjak dari tempat turun dari Tubuh Hani, lalu turun dari ranjang itu. Ia harus menuntaskan keinginannya di kamar mandi lagi.
" Mau kemana! Mama sudah menunggu kita loh." Ucap Hani membuat langkah pria itu tertahan. Hani sendiri pun telah merapikan penampilannya yang sengaja di buat berantakan oleh suaminya itu.
" Kamu duluan saja, aku akan menyusul." Sahut Narendra. Namun Hani menolak dengan mengeleng-geleng kepalanya.
" Tidak bisa, kita harus turun bersama, masa kamu tega membuat mama menunggu lebih lama lagi." Sungguh pagi itu adalah penyiksaan untuknya.
" Kalian sungguh terlalu." Ucap Narendra dalam hatinya dan dia hanya bisa mengikuti langkah Hani saat wanita itu menarik pergelangan tangannya untuk ikut bersamanya.