HAANIYA.

HAANIYA.
Bonchap 4



Jangan terlalu berharap untuk sesuatu yang belum dipastikan, karena l tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan dari pada keinginan itu sendiri.


Sebab sesuatu yang diharapkan terlalu berlebihan pasti akan mendapatkan kekecewaan.


Dan sejatinya semua yang ada di dunia ini adalah rahasia tuhan, jodoh, maut dan rejeki adalah rahasia tuhan yang hanya akan diberikan kepada mereka yang membutuhkan.


Sama halnya seperti Hani, ia begitu menginginkan seorang anak perempuan di kehamilan yang kedua ini.


Namun Hani harus menelan kekecewaan saat kedua bayi itu dilahirkan.


Tuhan mungkin mengabulkan keinginannya untuk hamil lagi setelah lima tahun menunggu, namun dia tidak mendapatkan sepenuhnya keinginannya, sebab kedua bayi itu berjenis kelamin laki-laki.


Sedikit kecewa sudah pasti sebab dia begitu berharap, bahkan saat dokter mengatakan mereka laki-laki saja, Hani masih saja berharap itu salah dan sekarang kedua bayi itu ada dihadapannya.


Wanita itu berdiri sembari melihat kedua bayinya terlelap dalam ranjang mereka.


"Jangan mengabaikan mereka honey! Mereka bagian dari kita berdua." Ucap Narendra, karena sejak tadi Hani hanya diam tanpa memutuskan pandangannya dari kedua malaikat kecil yang baru genap sehari di dunia ini.


"Aku tidak bermaksud mengabaikan mereka, aku hanya merasa sedikit bersalah kepada mereka berdua! Dokter sudah mengatakan jika mereka berjenis kelamin laki-laki, namun aku justru mempersiapkan semua keperluan dan kamar mereka untuk anak perempuan, bahkan hanya ada warna merah muda dan ungu muda dikamar itu." Air matanya kembali menetes.


Narendra melingkarkan tangannya pada pinggang wanita itu lalu membawanya dalam pelukannya.


Sungguh ia sangat tahu, sebesar apa keinginan istrinya untuk memiliki seorang anak perempuan dan setiap yang Hani lakukan mereka tidak ada mencegahnya termasuk Narendra.


Mereka melakukan semua itu, sengaja agar tidak membuat Hani kecewa namun pada akhirnya Hani tetap merasakannya.


"Sayang, aku akan mengubahnya! Dan akan aku pastikan, sebelum kalian bertiga pulang ke rumah, kamar dan keperluan mereka berdua sudah siap." Ucap Narendra sembari mengusap punggung istrinya penuh sayang. " Jangan bersedih lagi, mereka berdua pasti sudah sangat penasaran, sehangat apa dekapan mami mereka ini.


Ya karena setelah pemberian kolostrum, kedua bayi itu langsung digendong secara bergiliran, sementara Hani di biarkan beristirahat.


"Hmm, aku ingin mengendong dia." Hani mengurai pelukannya dengan Narendra begitu mendengar salah satu bayinya menangis." Hai sayang, maafkan mami ya." Ucapnya Setelah membawa tubuh salah bayi kembarnya kedalam pelukannya.


Bayi mungil itu langsung terdiam seakan tahu dekapan hangat mami. Bibirnya bergetar manyun kedepan sebelum terbuka untuk menguap lalu bergerak gelisah mencari sesuatu, Hani yang sudah berpengalaman dengan Arend dan Alrick langsung mencari posisi duduk yang aman, lalu membuka kancing baju bagian atasnya untuk menyusui bayi itu.


Kedua sudut bibir Narendra terukir senyuman di sana, wanitanya memang yang terbaik, selalu mengutamakan kepentingan anak-anaknya dengan memberikan memberikan mereka ASI seperti sekarang ini.


" Aku akan mengasuh mereka sendiri, seperti Al dan Arend, lagian ada mommy dan mama yang akan membantu." Ucapnya sebelum Narendra selesai dengan kata-katanya.


Dan pria itu mengangguk setuju." Ngomong-ngomong soal Al dan Arend, kedua anak itu mulai rewel ingin kesini dan melihat adik-adik mereka." Ucap Narendra memberitahu.


Namun Hani justru mengeleng kepalanya sebagai penolak." Nanti mereka juga akan bertemu di rumah, jangan bawah mereka ke sini, mereka masih terlalu kecil." Rumah sakit sudah pasti banyak orang sakit dan ruang bersalin itu dan Hani tidak ingin anak tertular sakit.


Narendra mengangguk kepada paham dengan Kekhawatiran istrinya."Oh iya, honey aku belum memberikan mereka nama."


Hani mengangkat pandangannya dari wajah putra ke empat nya, lalu menatap kepada Narendra dengan raut penuh sesal, karena dia hanya menyiapkan nama bayi perempuan.


Seakan tahu apa yang di pikirkan istrinya, narendra menarik lalu menghembus nafasnya berat. " Aku yang akan memberikan nama untuk mereka berdua." Ucapnya menenangkan hati sang istri.


"Maaf..."


"Jangan minta maaf, kamu tidak salah." Narendra mendekat lalu mengecup puncak kepala istrinya berulang-ulang.


"Kalau beloh, aku ingin anak ini bernama Xavier." Pintanya penuh harap.


Bukan tanpa sebab Hani memberikan putra keempatnya itu nama sang kakek, ia melakukan itu, karena mengagumi kehebatan sang kakek, seorang pria biasa tapi mampu membuat namanya di kenal dan ia berharap putranya juga akan sehebat kakeknya.


"Tentu Honey, Xavier Adam Sanjaya! Bagaimana mana menurut kamu." Tanya narendra sembari mengusap puncak kepala putranya bungsunya itu.


"Bagus, lalu dia?" Hani menatap kepada putra satunya lagi yang masih anteng tidurnya.


"Zavind Amaar Sanjaya." Ucap Narendra.


"Terima kasih Azzam. Aku mencintai kamu."


"Aku juga mencintaimu honey." Narendra lalu mencium bibir Hani,


" Tolong, kita yang ada disini bukan patung." Protes Kairan, karena sejak tadi bukan hanya mereka berdua yang ada diruang itu. Tapi begitulah Hani dan Narendra kalau sudah bermesraan, mereka akan lupa orang sekitar mereka.