
" Menurut kamu Kak Arga salah memilih pendamping dan kamu takutkan Lisa akan memanfaatkan posisi dia yang sekarang?" Hani pun dengan cepat mengangguk kepalanya.
Narendra tersenyum seraya mencubit pipi istrinya, kemudian menarik tengkuk wanita itu dengan perlahan lalu mendaratkan bibirnya di sana." Kamu tidak perlu khawatir akan hal itu, Honey! Karena kita masih ada di belakang kak Arga untuk membantunya sekaligus mengawasi mereka." Lanjutnya Setelah melepaskan tautan bibir mereka.
Hani belum memberikan jawaban apapun, wanita itu masih terdiam sembari menatap kedalam manik coklat suaminya. "Kenapa?" Tanya Narendra.
"Kenapa kamu tidak memberitahu Kak Arga tentang rencana mereka?"
Bukan tanpa Sebab Hani balik bertanya, pasalnya! Pembicaraan Lisa dan mamanya di cafe waktu itu, di rekam salah satu teman sekolah Hani yang kebetulan juga mengenal Lisa dan mengetahui hubungan mereka.
Teman Hani itu, menemui Ela untuk memberitahu hal ini, karena dia tidak tahu di mana Hani.
Video itu di tunjukkan kepada Ela dan Ela menunjukkannya pada Hani juga Narendra.
Ela berencana untuk menunjukkan kepada orang tuanya termasuk Arga juga tapi Narendra menahan mereka.
"Aku hanya tak ingin menyakiti kak Arga dan membuat hubungan baik kita renggang hanya karena wanita. Honey, Kita berdoa saja semoga kak Arga bisa melihat sisi lain Lisa, karena saat ini dia masih begitu mencintai Lisa." Ucap Narendra berharap Hani mengerti.
Sebab, walaupun keduanya terlahir dari ibu yang berbeda namun rasa sayang Narendra kepada Arga tulus rasa seorang adik kepada kakaknya begitu pun dengan kedua adik perempuannya.
Dan Luna sendiri tidak pernah membedakan antara Narendra dan Arga. Dia juga sayang kepada Arga sama seperti kepada Narendra terlepas dari hubungan dia dan Anita dulu seperti apa, itu masalah mereka tidak ada sangkut pautnya dengan anak-anak mereka.
" Itu bukan cinta tapi kasian!" Seru Hani.
" Ya mungkin kamu benar Honey, tapi kak Arga peduli sama dia karena menganggap mereka berdua sama! Sudahlah kita jangan membahas mereka lagi." Ucap Narendra mengakhiri pembicaraan mereka tentang Arga dan Lisa. " Kamu mau makan, Honey! Biar aku pesan." Tanya Narendra.
" Terserah, aku mau tidur."Jawabnya.
Narendra pun beranjak dari tempat duduknya sembari mengendong Hani, karena wanita itu masih berada di atas pangkuannya.
Tangan Hani melingkar pada leher Narendra sembari menenggelamkan wajahnya disana dengan kaki yang melingkar pada pinggang pria itu agar tidak terjatuh.
Setibanya di kamar Narendra langsung membaringkan tubuh Hani di atas ranjang king size miliknya. " Istirahatlah, honey. Aku akan keluar sebentar untuk membeli makanan." Ucapnya sembari mencium bibir dan kening istrinya.
" Iya, aku tidak akan lama." Sahut Narendra namun wanita itu tidak menyahutnya, sebab dia telah tertidur pulas, Membuat Narendra mengeleng-geleng kepalanya. Baru menyentuh batal saja ia sudah lelap.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Satu jam berlalu, Narendra melangkah masuk kedalam apartemennya sembari membawa beberapa kantong belanja. Ada buat dan susu hamil yang di sukai Hani serta makan siang yang dia beli untuk mereka berdua di sebuah restoran mewah yang tidak jauh dari kawasan apartemennya.
Pria itu meletakkan kantong belanja itu kemudian mengambil piring di lemari juga nampan untuk menata makan-makan itu di atas.
Tak lupa ia juga membuat susu Hamil untuk Hani dan mengupasnya buah, lalu meletakkannya di atas piring setelah ia memotong-motong buah-buahan segar itu.
Drrrtt... Drrrtt...
Ponsel di sakunya bergetar membuat Narendra menghentikan kegiatannya untuk melihat siapa yang menghubunginya.
" Halo ma." Ucap Narendra, panggilan itu berasal dari Luna sang mama.
" Kamu lagi apa bang?" Tanya Luna.
" Lagi nyiapin makan siang buat Hani mah." Jawab Narendra.
" Bang jam berapa ini." Narendra pun menarik ponselnya yang ia tempelkan pada daun telinganya, untuk melihat jam yang tertera pada layar ponselnya.
" Maaf mah!" Ucap Narendra sedikit merasa bersalah, karena sekarang waktu telah menunjuk pukul satu Lewat delapan menit.
" Ya sudah, cepat sedikit jangan buat menantu dan cucu-cucuku menunggu, mama telpon kamu hanya ingin tahu, apakah kalian berdua juga ingin ikut ke Bali. Lusa kakakmu akan menikah." Tanya Luna.
" Maaf mah! Tolong sampaikan maaf ku yang sebesar-besarnya untuk kak Arga, aku dan Hani tidak bisa datang. Mama tahu sendiri Hani baru keluar dari rumah sakit." Sahut Narendra
Dan Luna di seberang sana pun mengerti, walaupun mereka memiliki jetpri, namun kenyamanan wanita hamil itu yang di utamakan untuk saat ini.
Setelah selesai berbicara dengan mamanya di telpon Narendra kembali menyimpan benda pipi itu ke tempat semula, ia kemudian membawa nampan berisi makanan Hani ke kamar mereka.