HAANIYA.

HAANIYA.
Istri yang baik.



Luna tidak hanya sampai di situ permintaan Luna! karena wanita itu juga, meminta Hani dan Narendra untuk tinggal bersama mereka. Bukannya apa! dia tidak anak dan menantunya membuat rencana mereka sendiri dengan pisah ranjang dan segala *****-bengeknya, sebab Luna sudah tahu akan hal itu.


Dan disinilah mereka, di rumah Luna! pagi tadi setelah semua orang sepakat dan selesai sarapan, mereka langsung meninggalkan hotel dan pulang ke ruang masing-masing.


"Ini kamar kamar kalian." Ucap Luna saat mengantar Hani ke kamar Narendra, " Lakukan apapun yang ingin kamu lakukan di rumah ini dan jika kamu membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk meminta, mama pasti akan mengusahakan yang terbaik buat kamu." Lanjutnya, sembari mengusap punggung Hani.


" Terima kasih, ma." Sahut Hani, sembari tersenyum tulus kepada Luna.


" Sama-sama sayang! Istirahatlah.." Ucap Luna, sebelum meninggalkan Hani sendiri di dalam kamar itu.


Begitu Luna pergi, Hani langsung berjalan kearah balkon, wanita itu berdiri di sana sembari menatap taman belakang rumah itu, sesekali pandangannya beralih pada bangunan-bangunan rumah yang tak kalah mewahnya dari rumah ini. " Aku sudah berusaha sebaik yang aku bisa! tapi pada akhirnya takdir tetap membawa aku padamu." Ucap Hani. Ia masih memandang objek yang sama.


" Terus aku harus apa! memberi kamu penghargaan." Sahut Narendra dari belakang sana." Katakan kamu punya rencana apalagi setelah enam bulan ini." lanjutnya bertanya.


" Dari pada mengetahui rencana aku! apa tidak sebaiknya kamu cerita bagaimana hubunganmu dengan wanita itu di mulai! Siapa tahu dengan begitu aku juga bisa mendapatkan kesempatan yang sama." Ucap Hani, wanita itu sengaja tidak ingin menjawab pertanyaan Narenda.


Narendra tersenyum. " Haaniya, Haaniya! Kamu ingin menjadi seperti Nahla?" Tanya Narendra kemudian tertawa." Mau seperti apapun kamu berusaha untuk sama seperti dia! kenyataannya kamu dan Nahla itu berbeda."Tegas Narendra. Sikapnya masih sama Angguk.


" Siapa juga yang mau seperti dia." Balas Hani, Wanita itu kemudian berbalik menghampiri Narendra yang saat ini tengah bersandar pada kusen pintu, yang menghubungkan kamar dan balkon itu. Dengan kedua tangan yang ia lipatkan di dadanya. " Yang kamu katakan itu benar sekali. Istri kamu ini dengan kekasihmu itu sangat jauh berbeda." Lanjutnya, sembari merapikan kerah baju Narendra kemudian menunduk untuk mencium punggung tangannya. " Mohon bantuannya, untuk menjadi istri yang baik." Setelah itu Hani berjalan melewati Narendra.


" Kamu yakin bisa melakukannya?" Tanya Narendra, sengaja meremehkan Hani.


" Tentu saja! Bahkan aku ragu kalau kamu bisa memberikan perhatianmu kepada, walaupun hanya sekedar pura-pura." Jawab Hani, sekaligus membalas ucapan suaminya itu.


" Kamu menentang aku?" Hani tidak menjawab ucapan pria itu dan hanya menaikkan kedua bahunya saja.


Melihat respon Hani yang seperti itu, membuat Narendra tersenyum smirik. Pria itu melangkah mendekati Hani kemudian berkata lagi tepat di depan wajah Hani."Semoga kamu betah menjadi istri yang baik."


" Sia-alan."Umpat Hani, karena Narendra tiba-tiba mencium bibirnya." Kurang ngajar."Hani Hendak menampar pipi Narendra, karena pria itu sudah berani menciumnya. Tetapi Narendra dengan cepat menahan tangan Hani sebelum, telapak tangannya mendarat dengan mulus di pipi Narendra.


" Cih, katanya mau jadi istri yang baik! baru di cium aja ngamuk! kamu itu istri aku dan sebagai istri yang baik, jangankan di cium. lebih dari itupun aku berhak untuk melakukannya dan kamu nggak bisa menolak." Tegas Narendra. Ingin sekali Hani menghancurkan wajah sombong pria itu. Tapi Hani tetap menahan diri untuk tidak melakukan hal itu.


" Silahkan saja, toh itu hak kamu." Sahut Hani.


"Yakin!"


" Kenapa tidak." Balas Hani dengan begitu yakin-nya dan hal itu justru membuat Narendra berpikir yang tidak-tidak, tentang dirinya.


" Oh, iya! tentu saja kamu tidak akan menolak. Sudah biasa juga kan? aku orang ke berapa nih?" Tanya Narendra membuat Hani menautkan keningnya tajam. Kemarahan tergambar jelas dari tatapan matanya.


" Terserah aku juga tidak peduli dengan itu semua."


Hani mengangguk, wanita itu kemudian berkata." Ya kamu tidak akan peduli, karena yang aku tahu! seorang istri itu adalah cerminan dari Suaminya. Seperti apa dirimu maka istri kamu akan, seperti itu! lagian tuhan itu adil kok! Masa pria model-an kaya kamu gini, di kasih yang ori, Sadar diri dong." Ucap Hani sambil menunjuk Narendra kemudian menatapnya dari atas sampai ke bawah, begitupun sebaliknya. " Satu lagi yang harus kamu ingat Narendra Azzam Sanjaya! kamu masih mempunyai dua adik perempuan." lanjutnya.


" Jangan menyumpahi adik-adikku, ini tidak ada hubungannya dengan mereka! Masalah kamu itu dengan aku." Ucap Narendra sembari mencengkeram bahu Hani.


" Aku tidak menyumpahi mereka, aku hanya mengingatkan kamu." Tegas Hani,


" Ta_"


Tok... tok... tok..


Ketukan di pintu kamar itu, menghentikan perdebatan mereka." Tuan Rendra, mbak Hani di tunggu nyonya, untuk makan siang."


Hani langsung menepis, tangan Narenda kemudian berjalan kearah pintu kamar dan membukanya. " Ayo bi." Ucapannya, kepada pelayan wanita yang di tugaskan Luna untuk memanggil mereka. Setelah itu keduanya pun meninggalkan Narendra yang masih terdiam di tempatnya.


Sampainya di ruang makan, Hani duduk bersebelahan dengan Ela dan berharap dengan Nayna. karena meja makan yang mereka punya terdiri dari enam kursi, dimana Narendra akan saling berhadapan dengan papa Reval, sementara empat kursi di kiri kanan akan di isi oleh, Hani, Ela, Nayna dan Luna tentunya.


Berbeda dengan meja makan dikediaman Xavier dan Sanjaya. karena meja makan di sana didesain untuk banyak orang. mengingat anggota keluarga juga banyak.


" Bang Rendra mana mbak! kenapa nggak sekalian turun sama mbak?" Tanya Nayna.


" Bang Rendra_"


" Kamu udah lapar banget ya, sorry ya sayang." Ucap Narendra yang kini sudah berada diruang itu. seraya menghampiri Nayna dan mencium pipinya, sebelum pria itu mendaratkan bokongnya pada kursi yang telah di sediakan untuk dirinya.


Disaat semua orang telah berkumpul dan bersiap untuk memulai makan siang mereka, Narendra justru sengaja berbuat ulah dengan bertanya kepada Hani. " Kamu nggak mau siapin makan siang buat aku?" Hani tidak mempermasalahkan hal itu, ia pun mencoba bersabar dengan maksud ingin melayani makannya Narendra seperti yang di lakukan Luna kepada Reval, Akan tetapi Narendra menahan tangannya lagi dan kembali bertanya. " Makanan ini siapa yang masak?"


" Bibi yang masak."Jawab Luna. " Kenapa memangnya." Lanjutnya bertanya.


" Maaf ma! bukan apa-apa! Aku kan punya istri, kenapa harus bibi yang masak buat aku? terus gunanya dia jadi istri aku itu apa?"


" Narendra, Bang." Semua orang kompak menatap tajam pria itu.


" Kenapa? apa aku salah?"