
" Ma, pa, Ela, Nay sudah. Hani nggak papa kok! cuma masak aja kan." Ucap Hani, membuat semua orang kini menatap kepadanya dengan ekspresi yang berbeda-beda.
Reval dan Luna yang bingung sekaligus tak percaya, Nayna dan Ela yang kagum serta Narendra yang merendahkan.
" Yakin bisa!" Tanya Narendra.
" Bisa nggak bisa sebagai seorang istri! aku harus berusaha untuk menyenangkan suami bukan." Sahut Hani.
" Terserah kamu! tapi sebelum kamu masuk dapur_" pria itu sengaja menjeda ucapannya, kemudian menatap kepada sang adik Nayna. " Nay, panggil semua pelayan untuk berkumpul disini dan jangan biarkan seorang pun yang masuk ke dapur sebelum dia selesai masak." Titah Narendra, membuat Luna dan Reval tak percaya dengan apa yang di lakukan putra mereka.
" Narendra, apa-apa kamu! kamu tuh sudah keterlaluan."
" Apanya yang keterlaluan sih Mah! aku cuma ingin menantu kebanggaan mama ini masak, salah kah? lagian kalau mama seyakin itu sama dia harusnya mama nggak perlu ragu dong."
" ANAK KURANG NGAJAR." Teriak Luna, hampir saja pisau yang sengaja di letakkan bersama garpu dan sendok itu, melayang kearah Narendra, jika tangan Reval terlambat sedikit saja menahan tangan istrinya itu.
" Ampun ibu ratu."Ucap Narendra, langsung mendapat tatapan tajam dari Reval.
Sementara itu Hani tidak begitu menghiraukan pertengkaran kecil antara ibu dan anak itu. wanita itu justru, Wanita itu justru berjalan ke belakang mengumpulkan semua pelayan dan meminta mereka untuk menunggu di ruang makan hingga ia selesai memasak.
Dan begitu mereka semua meninggalkan ia sendiri di dapur, Hani langsung memakai celemek dan mencuci tangannya! Kemudian membuka kulkas penyimpanan makanan untuk melihat apa yang bisa ia masak.
Setelah melihat isi persediaan bahan makanan yang banyak disana. Hani justru semakin bingung ingin memasak apa. Tapi bukan Hani namanya kalau menyerah pada keadaan. Wanita itu akhirnya menemukan pilihannya pada dua menu. sup dan Ayam bakar.
Hani pun mulai mengeluarkan Kentang, wortel, ayam, Daun bawah dan segala bahan yang di butuhkan untuk membuat dua menu itu. Setelah itu, ia pun mulai bergulat dengan peralatan dapur! tangannya bergerak dengan begitu lincahnya kesana-kemari untuk menyiapkan kedua menu itu dengan sesempurna mungkin. Bukan karena dia ingin pamer atau di puji oleh Narendra ! Hanya saja, Hani ingin membuktikan bahwa ia bisa lebih dari yang Narendra tahu.
Setelah cukup lama bergulat di dapur, akhirnya kedua menu itu siap. Hani pun menghidangkan di atas meja setelah menatapnya di mangkuk dan piring.
" Silahkan di cicip suamiku." Ucap Hani dengan senyum yang di buat-buat.
Tantu saja hal itu membuat Narendra bergidik ngeri dan berpikir yang tidak-tidak." Kamu tersenyum seperti itu, bukan karena kamu sudah mencampur obat pencahar di dalamnya." Tuduh Narendra, sembari mengadukan Sup itu dengan perasaan jijik, kemudian mendorong makanan itu menjauh darinya. Walaupun aroma makanan itu, begitu menggoda imannya untuk mencicipinya. Namun gengsi mengalah segalanya!" Aku lebih baik makan, makanan bibi dari pada makanan seperti itu! Bi bahwa makanan ini kebelakang, terus kasih makan kucing atau di buang aja." Lanjutnya, sembari menyuruh pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
" Jika kamu tidak ingin memakannya, biar aku saja yang makan. " Ela yang sejak tadi hanya diam, melihat sang kakak yang sudah sangat keterlaluan, menghampiri Narendra, Wanita itu hendak menari piring berisi makan buatan Hani, namun tangannya langsung di tepis oleh Narendra,
"Kalau kamu mau makan, masakan dia tinggal suruh dia masak aja lagi. Bukan kah makanan ini dia buat, buat aku! jadi bebas dong aku mau ngapain! termasuk di buang! itu hak akulah." Ujar Narendra, membuat mata Ela terbuka sendiri. apa Narendra ini masih Narendra yang sama, kenapa di begitu kekanak-kanakan dan nggak punya hati seperti ini.
" Bi, Ambil makanan itu dan buang! jangan sampai ada yang sakit perut." Pinta Hani, membuat semua orang kompak menatap kepadanya. Namun Hani tetep menunjukkan ekspresi datarnya.
Wanita itu kemudian meninggalkan ruangan makan dan kembali ke kamarnya, tanpa sempat menyentuh makan siangnya.
Sampainya di kamar, Hani langsung masuk kedalam kamar mandi. Karena saat ini otak dan Hatinya haru segara di dinginkan.
Hani, melepas pakaian yang menempel di tubuhnya, kemudian berdiri mematung di pancuran air shower! Cukup lama, Hani berada di dalam sana.
Dia baru keluar setelah perasaannya, sedikit lebih baik. " Ngapain lama banget di dalam? kamu pikir cuma kamu aja yang butuh Manda haaah." Ucap Narendra, sembari menatap Hani dari atas sampai ke bawah, begitu pun sebaliknya.
Membuat jangkung Narendra naik turun, karena saat ini wanita itu hanya mengunakan handuk yang ia lilitkan pada tubuh. Handuk itu sedikit kecil, hanya mampu menutup bagian atas tubuhnya hingga pangkal paha.
Menyadari tatapan Narendra yang seperti orang kehausan. Haaniya refleks memegang handuknya dengan begitu erat dan sedikit waspada kepada pria itu.
" Ngapain di pegang seperti itu! kamu pikir bernafsu sama kamu! Dih Mau kamu menggoda aku dengan telanjang sekali pun, aku nggak akan bernafsu sama kamu." Ucap Narendra lagi sembari menunjuk wajah Hani.
" Oh ya? syukurlah kalau begitu! lagian siapa juga yang ingin menggoda Anda tuan Azzam! percaya diri sekali." Kening Narendra langsung berkerut mendengar Hani memanggilnya Azzam bukan Narendra.
" Kenapa kamu memanggil aku seperti itu. berharap Aku akan jatuh hati. karena panggilan berbeda gitu. Dih jangan mimpi kamu." Hani memutar bola matanya malas, kenapa pria yang berada di hadapannya itu. begitu percaya diri sekali.
" Asal anda tahu ya! tuan Azzam yang terhormat! aku memanggil kamu seperti itu, bukan untuk membuat kamu terkesan, aku memanggil kamu seperti itu Karena Arti nama itu sama seperti kamu ini. terlalu percaya diri dan sok berkuasa." Ujar Hani, wanita itu kemudian mendorong pundak Narendra kemudian melewatinya begitu saja. Tanpa mempedulikan ocehan pria itu, Hani langsung bergegas masuk kedalam walk in closed untuk menganti pakaiannya. Jangan di Tanya kenapa pakaian Hani sudah berada di sana padahal baru sehari mereka menikah! jawabnya tentu saja, karena Luna dan Melly sudah memindahkan sebagian pakaiannya sejak jauh-jauh hari di bantu Ela tentunya.
Usai berpakaian dan mengeringkan rambutnya, Haaniya langsung berbaring di atas ranjang sembari menutup matanya, Layaknya orang yang tertidur pulas namun kenyataannya tidak seperti itu. Sebab Hani mengalami gangguan tidur semenjak di tinggal oleh Keenan. Jika di tanya kapan ia benar-benar terlelap. jawabnya sudah pasti saat ia bermimpi hal-hal manis sampai yang terpahit bersama Keenan.
Cukup Lama Hani memejamkan matanya dan saat ia benar-benar akan terlelap. Ada yang berbisik di telinganya. " Maaf." Disertai sebuah kecupan di dahinya! Hani merasakan Hal itu tapi keduanya begitu berat untuk terbuka dan melihat siapa orang itu.