HAANIYA.

HAANIYA.
Menemukan kamu.



"Kamu tidak boleh berbicara seperti itu Haaniya, kamu harus tetap waspada! kamu tahukan. seperti apa Regan itu. Dia bahkan tak segan-segan untuk menembak kamu! apa kamu lupa." Ucap Lita, yang tidak habis pikir dengan sikap Hani yang begitu tenang saat mendengar nama Regan.


" Aku tahu, aku masih ingat semuanya Lita! untuk itu aku harus bertemu dengan dia! kalian tidak perlu cemas, karena akan aku pasti kali ini aku yang akan mengirimkannya untuk menemani Keenan disana."Sahut Hani, Wanita itu menunjukkan ekspresi dingin dan datar tapi tatapannya terlihat jelas kebencian untuk pria itu.


" Sebelum kamu memulai semuanya, aku rasa kamu harus membicarakan semua ini dengan kakak aku." Ela yang sejak tadi diam, ikut menimpali ucapan mereka.


"Aku rasa itu tidak perlu! lagian ini masalah aku, tidak ada hubungannya dengan kakak kamu." sahut Hani, membuat Ela membulatkan kedua matanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Tidak ada hubungan katanya! tidak ada hubungan yang bagaimana, padahal sudah jelas dia adalah istri kakaknya, sudah pasti segala sesuatu yang terjadi kepadanya sudah menjadi tanggung jawab Narendra selaku suaminya. " Kamu salah Honey! kamu itu sudah menikah, apapun yang terjadi dengan kamu itu sudah menjadi tanggung jawab Narendra selaku suami kamu, kamu suka atau tidak kamu tetap harus menceritakan masalahmu kepadanya. " Belum Sempat Ela menyuarakan kebenaran, Dino sudah lebih dulu mengatakan apa yang ingin dia katakan kepada Sahabat itu." Kamu suka atau tidak suka ini kenyataannya! mau atau tidak mau kamu harus bergantung kepadanya, sekuat dan sehebat apapun kamu, kamu tetap seorang wanita yang membutuhkan pelindung dari seorang pria." Lanjutnya, sebelum Hani membuka mulutnya untuk protes.


" Baiklah, kalian menang! aku akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengannya apa kalian puas sekarang." Putus Hani, sembari menatap Dino dan Ela secara bergantian.


Sementara Lita yang melihatnya hanya tersenyum sembari mengeleng kepalanya. Karena dia tahu Haaniya paling malas jika bergantung kepada orang lain, karena selama ini dia terlalu sering menyelesaikan masalahnya sendiri hingga dia merasa tidak perlu bergantung kepada orang lain sekalipun itu keluarganya sendiri.


" Kami akan merasa puas kalau kamu sudah tidak di ganggu lagi oleh pria itu." Sahut Dino, langsung di benarkan oleh Ela dan Lita.


" Ciih, kalian terlalu lebay! sudah tidak ada yang perlu di bahas lagi kan. Aku harus kembali ke perusahaan Sekarang." Ucap Hani sambil, melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. " Ya udah aku pergi, sampai jumpa lagi, bye." Ucap Hani setelah mendapatkan gelengan kepala dari Dino.


Wanita itu turun seorang diri ke lobby, sebab Lita masih ingin berada di sana untuk berkerja, Sementara suster yang kebanyakan nganggur itu, belum berani pulang ke rumah, karena takut berurusan dengan sang kakak, yang mengetahui ia minum malam itu.


Hani melangkah masuk kedalam lift sembari asyik mengotak-atik ponselnya, hingga wanita itu tidak sadar siapa yang ada di dalam lift.


Pria itu terlihat tenang namun hal itu tidak membuat Haaniya ikut tenang dan bersantai. Setelah Hampir dua tahun tak berjumpa di pertemukan dalam situasi seperti itu, tidak pernah Hani duga sebelumnya. padahal belum ada sejam mereka membahas tentang pria itu dan kini tuhan sudah mempertemukan mereka berdua. Apa ini bisa di sebut berjodoh.


"Melompat dari jembatan ataupun tidak, itu soal pilihan, karena jika malam itu dia tidak datang, aku akan tetap melompat dari gedung itu dan membiarkan tubuhku menjadi bubur daging, ketimbang harus berbagi ranjang dengan pria breng-sek seperti kamu." Sahut Haaniya sembari menarik ponselnya dari Tangan Regan.


Mendengar penolakan lagi yang keluar dari bibi Hani membuat, Pria itu Geram. pria itu mendorong tubuh Hani hingga membentur dinding lift itu, kemudian menarik tengkuk serta mencengkeram rahangnya. " Harusnya Kamu bersyukur, waktu itu aku masih berbaik hati menawarkan pernikahan bukan langsung menyeret dan membuat kamu tunduk di bawah Selang-kanganku." Lanjutnya dengan tatapan yang seakan bisa menelanjangi Haaniya.


Wanita itu tertawa mengejek." Regan, Regan kamu masih sama! berpikir bisa menaklukkan wanita dengan Selang-kangamu, sayangnya kamu lupa tidak semua wanita seperti itu." Haaniya membalas tatapan Regan tidak kalah tajamnya dari pria itu. bahkan rasa sakit dari cengkeraman tangan pria itu tidak membuat Haaniya takut sedikitpun. " Dari pada menjadi Wanita mu, aku lebih berpikir bagaimana cara membunuh." Regan langsung tertawa terbahak-bahak.


" Kamu ingin membunuhku?"Bisik pria itu tepat di telinga Hani, ia bahkan dengan sengaja menjilati belakang telinga wanita itu untuk memancing gairah wanita itu.


Hani yang selalu waspada, langsung menarik rambut belakang pria itu, membuatnya hampir terhuyung sedikit kebelakang, Sebelum mendaratkan dengkulnya pada Aset berharga milik pria itu, bersamaan dengan bunyi lift yang telah sampai dan begitu pria itu berjongkok untuk menahan aset miliknya, Hani langsung bergegas keluar dari lift, berlari menuju parkiran, bersyukur ia membuat aturan, pengawal hanya bisa ikut sampai lobby saja, jika tidak sudah dapat Hani Pastikan dia tidak akan lolos dari pria itu.


Hani mengemudi mobilnya, dengan kecepatan tinggi menuju perusahaan milik keluarga suaminya. Jalan yang sedikit lengah membuat Ia sampai tepat waktu.


Sampainya di perusahaan, Hani langsung masuk keruang kerja Narendra, untuk melaporkan jika dia telah kembali, setelah itu ia kembali ke meja kerjanya. meneruskan pekerjaannya yang yang telah di letakkan di sana dan selalu pekerjaan dia yang paling banyak.


Hani tahu mereka sengaja melakukan itu karena dia baru di sini, tidak peduli jika dia istri bos sekali pun, mereka tetap membebaninya dengan banyak pekerjaan. tapi selalu saja pekerjaan dia yang selesai lebih dulu tanpa ada masalah. berbeda dengan beberapa staf sekertaris yang sampai beberapa kali harus masuk ruang kerja Narendra untuk mengulangi pekerjaan mereka begitu pun dengan Nahla.


" Izin istirahat sesuka hati, pulang tepat waktu, nggak pernah lembur! enak sekali jadi istri bos." Sindir Nahla, tapi wanita itu tidak menghiraukannya. moodnya sedang buruk karena baru saja terbebas dari pria gila yang selalu mengejar-ngejarnya. Ia tidak ingin moodnya semakin rusak dengan meladeni wanita di sampingnya itu.