
Niat hati ingin menghindari, namun mereka justru di pertemukan di restoran itu. Hani pun tidak dapat menghindari, apalagi saat Narendra mengajak mereka untuk makan siang bersama di restoran itu.
Bahkan Narendra sengaja memesan, private room untuk mereka, berempat sambil menunggu kedatangan Naela yang masih di jalan, menuju restoran itu.
"Rendra, lepas tangan kamu." Bisik Hani, sambil menepis tangan Narendra, yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya saat mereka memasuki ruangan itu, bahkan saat dia ingin duduk bersama Lita, Rendra sudah lebih dulu menariknya untuk duduk di samping pria itu, sebelum ia sempat duduk di samping Lita." Kamu kenapa sih, kok tingkahnya aneh begitu." Tanya Hani, sembari melirik sinis kepada suaminya itu.
"Kok Aneh, memangnya salah kalau suami ingin duduk dekat-dekat dengan istrinya." Sahut Narendra sembari menegaskan kata suami istri.
Mendengar hal itu, Haaniya memaksa bibirnya untuk tersenyum, sekaligus menatap tajam Narendra." Hal itu hanya berlaku pada pasangan suami istri normal, bukan kita." Tegas Hani mengingatkan pria itu, kali saja dia lupa.
"Memangnya ada apa dengan kita! Bukan pernikahan kita normal, sama seperti mereka." Jawab Narendra membuat Haaniya kesal.
"Kamu lupa, pasangan suami istri normal itu! Menikah untuk selamanya, bukan seperti kita yang ada batas waktunya, bisa nggak sih! Kamu itu bersikap seperti biasanya, karena itu lebih baik untuk kita berdua. Please." Hani berbicara sembari menempelkan kedua telapak tangannya di depan dadanya. "Jangan berubah untuk alasan apapun, karena itu akan lebih memudahkan aku untuk bertahan sampai enam bulan ke depan." Lanjutnya, membuat Narendra terdiam sesaat.
"Mulai detik ini pernjanjian itu batal, mari kita hidup bersama dengan sebagai mana pasangan suami istri pada umumnya." Apalagi lagi ini, bukan kah dia sendiri yang mengatakan pernikahan ini hanya berjalan enam, terus kenapa semua berubah dalam hitungan hari, apa yang menyebabkan pria itu berubah. Pikir Hani, wanita itu sangat-sangat terkejut dengan perubahan sikap Narendra, yang di nilai terlalu cepat. Padahal dia sendiri tidak ada niat untuk meluluhkan hati pria itu. Dia hanya ingin bertahan selama enam bulan, kemudian meninggalkan semuanya. Tapi kenapa, kenapa jadi seperti ini! Apa ada yang ia lewatkan, hingga tak menyadari perubahan Sikap Narendra. " Aku adalah suami kamu! Mulai besok, kamu sudah akan bekerja di perusahaan aku, sebagai sekertaris aku dan satu lagi, kamu dilarang pergi tanpa izin dariku, tidak ada surat menyurat. Apapun itu ngomong ke aku! Bukan ke mertua kamu itu." Lanjutnya, masih dengan sikap bossy-nya.
"Narendra Azzam Sanjaya, dia itu istri kamu! Bukan pegawai di perusahaan kamu, yang seenak jidatnya kamu perintah-perintah." Sahut Kairan. Pria itu sudah sejak tadi ingin melerai perdebatan antara pasangan suami istri itu. "Brother, tidak begitu caranya menaklukkan seorang wanita." Lanjutnya lagi.
"Ciih dasar buaya, sok tahu kali." Sahut Lita, wanita itu tak ketinggalan untuk membuka suara.
"Stthhhsst, Diam kamu nggak di ajak." Ucap Kairan sembari meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya sendiri.
Dan saat Lita ingin menyahuti ucapan pria itu, pintu ruangan itu, tiba-tiba terbuka dari luar, oleh pelayan yang mengantar makanan pesanan mereka di ikuti Ela yang baru sampai.
"Loh, ngapain bang Rendra sama teh celup ada disini?" Tanya Ela saat menyadari keberadaan saudara kembarnya itu, bersama sahabatnya juga ada disana.
"Ela sayang, siapa yang kamu sebut teh celup?" Tanya Kairan sembari memasang senyum termanisnya untuk Naela.
" Ela, Lita cukup! Kalau terus kalian ladeni dia kapan selesainya. Kita disini mau makanan, bukan berantem kaya gini." Tegas Hani, dan seketika ruangan itu menjadi hening.
Ela pun mengambil tempat di samping Lita, setelah itu mereka berlima menikmati makan siang mereka dalam diam. Suruh ruang yang sudah dingin karena pendingin ruangan semakin bertambah dingin dengan suasana mereka saat ini.
Begitu selesai makan siang, Narendra memanggil pelayan untuk membayar bill mereka. Setelah itu mereka pun meninggalkan restoran. " Kamu pulang bareng aku, tegas Narendra sembari menarik tangan Hani untuk masuk kedalam mobilnya, sementara Ela, kebagian jatah untuk mengantar Kairan, ke perusahaan Sanjaya, untuk mengambil mobilnya yang masih berada disana. Awalnya Ela ingin menolak, tapi Kairan sudah lebih dulu merebut kunci mobil dari tangannya, hingga mau tak mau, ia pun harus semobil dengan Kairan. Sementara Lita, tentu saja wanita itu balik mengunakan mobil Hani.
Selama perjalanan pulang ke rumah, Hani hanya diam, seraya menatap gedung-gedung, pencakar langit yang mereka lewati dari balik kaca jendela mobil itu.
"Aku serius tentang ucapan aku tadi." Ucap Narendra, untuk memecah keheningan diantara mereka. Namun hal itu tidak membuat Hani terusik sedikitpun seakan ia tidak mendengar apa yang di katakan Narendra."Haaniya, kamu dengarkan apa yang aku katakan! Dan satu lagi, walaupun kamu kerja, kamu tetap harus mengurusi semua keperluanku di rumah, mulai dari makanan sampai pakaian yang harus aku pakai." Lanjutnya lagi.
"Aku tahu, kamu tidak perlu mengingatkan aku! Aku pasti akan melakukan hal itu. Tapi soal pekerjaan, maaf aku tidak bisa."
"Itu bukan pertanyaan Haaniya, tapi itu perintah Dan kamu tidak membutuhkan jawaban kamu. "
"Kamu memaksa aku?"tanya Haaniya tak habis pikir dengan apa yang di katakan Narendra.
"Terserah kamu, mau berpikir seperti apa." Sahut pria itu sembari menaikkan kedua bahunya.
Kalau sudah seperti ini, Hani bisa apa! Dia ingin melawan, tapi rasanya terlalu malas untuk melakukan hal itu, bukan karena dia tidak berani, hanya saja Hani ingin semua berakhir dengan sebagai mana mestinya seperti yang telah mereka sepakati, tapi jika semua sudah seperti ini, dia sendiri tidak yakin dengan hal itu.
Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, akhirnya mobil Narendra, memasuki kediaman orang tua. Dan begitu mobil itu berhenti, Hani langsung bergegas turun tanpa menunggu Narendra. Karena wanita itu masih kesal dengan keputusan yang diambil Narendra, Tanpa menanyakan pendapatnya terlebih dulu.
Saat melewati ruang keluarga, Hani sempat untuk menyapa mama mertuanya dan mommy-nya, yang kebetulan saat itu sedang berkunjung ke rumah Luna. Tidak seperti biasanya, Hani hanya menyapa, kemudian pamit menunju kamar mereka tanpa ingin berbasa-basi terlebih dahulu dengan Melly.
Bukannya Hani ingin bermaksud menjadi anak kurang ngajar atau apapun itu, tapi hatinya masih terlalu sakit, karena ucapan Melly yang mengancamnya waktu itu, masih sangat membekas di hatinya. Dia hanya manusia biasa tak salahkan jika dia marah! Tak salah kan jika dia merasa kecewa! Walaupun kekecewaan itu kepada wanita yang telah mengantarkannya ke dunia ini.