HAANIYA.

HAANIYA.
Bonchap 5



Setelah dikaruniai dua orang putra lagi, Hani seakan menyerah untuk keinginannya memiliki anak perempuan.


Hani sadar sekeras apapun dia menginginkan sesuatu tapi jika tuhan belum mempercayakannya, dia tidak akan pernah mendapatkannya. Sebab anak itu rahasia tuhan, bukan sebuah karier atau jabatan, kita bisa mendapatkan dengan berusaha.


Wanita itu menguburkan keinginannya dengan fokus mengurus keempat putra, melipatkan perhatian dan kasih sayang untuk mereka.


Dan seiring berjalannya waktu ia bisa melupakan keinginannya untuk memiliki anak perempuan walaupun rasa ingin itu belum sepenuhnya hilang saat melihat keponakan-keponakannya yang cantik.


"Zavind." Suara teriak itu membuat Hani mengelus dadanya sabar.


Ia berhitung dalam hati dan," uuaahh mami." Kini gantian suara putra ketiganya itu yang terdengar.


Sungguh waktu berlalu dengan begitu cepat, rasanya baru kemarin Hani melahirkan mereka, tapi kini kedua anak itu sudah bisa berjalan dan kini akan menginjakkan kaki di sekolah Dasar.


Sementara Arend dan Al sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama, untuk Al sendiri anak itu tumbuh menjadi anak pendiam dan introvert berbeda dengan Arend yang ekstrovert.


Jahil dan suka iseng kedua adiknya."Uuaah Mami, kak Arend buang sepatu Zavi." Bocah laki-laki yang belum genap enam tahun itu menghampiri Hani sembari menenteng satu sepatutnya untuk mengadukan sang kakak."


Hani berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan putra ketiganya itu, mengusap pipinya." Udah jangan nangis nanti mami marahin kak Arend-nya." Ucap Hani. Dan tangisan bocah itu langsung redah.


Begitulah Zavind ia gampang menangisi saat di isengi dan gampang juga dibujuk, seperti sekarang ini.


Tak lama berselang terdengar suara langkah kaki mendekat. Arend muncul sembari cengengesan." Mi_"Ia mencium pipi Hani.


Pluk.


Hani menepuk lembut penuh pundak putra keduanya itu." Kamu ini suka banget buat adik kamu nangis." Tegur Hani dengan nada lembut begitu juga tutur katanya karena tidak ingin menyakiti hati putranya, sebisanya ia menjaga perasaan keempat anaknya.


Sementara Hani hanya bisa mengeleng kepalanya. "Selamat pagi Mi, zavind kenapa menangis." Al yang baru datang sembari menggenggam tangan Xavier mencium pipi Hani lalu tunduk untuk mencium kepala Adiknya ketiganya itu.


Mata Hani tertuju kepada Xavier, putra bungsunya itu selalu saja sudah rapi dan tidak pernah terdengar suara tangisannya.


Sebab Al bukan Arend, pria itu tidak pernah iseng kepada adiknya, ia juga sering membantu Xavier mandi dan mengenakan seragam, karena keduanya berada dalam satu kamar, berbeda dengan Arend dan Zavind. Setiap membantu adiknya pasti dibuat nangis dulu kalau nggak rasanya ada yang kurang dari hidupnya.


"Biasalah, apa lagi kalau bukan di isengi Arend." Jawab Hani, bersamaan dengan Arend yang datang sembari membawa salah satu sepatu zavind yang ia buang tadi lalu membantunya memakai sepatu itu.


"Selamat pagi." Narendra menghampiri anak dan istrinya, pria itu sudah rapi dengan Setelah kerjanya, ia menghampiri Hani mengecup pipinya lalu mengangkat tubuh zavind untuk ia gendong.


"Jagoan papa tadi kenapa nangis hmm." Tanya Narendra, mengambil tempat di meja makan usai meletakkan zavind pada kursinya begitupun dengan Xavier.


" Kak Arend nakal Pi." Adu nya.


" Arend."


"Maaf Pi. Cuma becanda aja." Sahut Arend dan Narendra pun memaklumi sikap jahil putranya itu, karena tidak hanya zavind, sepupu-sepupunya juga di jahilin sama dia.


"Bagaimana sekolah kalian?" Setiap hari Narendra selalu menanyakan hal ini, walaupun ia sibuk berkerja dia tidak lupa memberi perhatian kepada putra-putranya terlebih untuk Al dan Arend yang sudah beranjak remaja.


"Lancar Pi." Jawab Al, di benarkan Arend lewat anggukan kepalanya.


"Syukurlah! Katakan sama mami dan papi jika kalian memiliki kendala disekolah." Hani menyela pembicaraan mereka sambil menyiapkan sarapan di piring pria-prianya itu.


"Iya mi." Lagi-lagi Al yang menjawab, pria itu hanya dingin dan kaku diluar rumah, karena begitu dihadapan sang mommy sikapnya langsung berubah hangat.