
"Tidak Haaniya, jika itu penting mereka bisa menunggu sampai kita selesai." Tolak Narendra. Bukan tanpa sebab pria itu menolak permintaan Haaniya untuk mengangkat panggilan itu, sebab gairahnya benar-benar sudah di ubun-ubun, sekali pelepasan tidak akan cukup untuk membuat sesuatu di bawah sana lemes kembali.
Selain itu mereka juga belum masuk pada inti pemain bagaimana dia bisa puas. "Angkat atau tidak sama sekali? Ini jam berapa Azzam, jika seseorang menelpon di jam segini. Itu tandanya ada sesuatu yang mendesak dan tidak bisa ditunda angkat! Kamu masih punya kesempatan untuk melakukannya berkali-kali, karena kita masih memiliki waktu tiga bulan." Ucap Hani sambil menahan dada suaminya itu.
Entah mengapa ucapan Hani barusan membuat gairah Narendra yang sedang memuncak langsung redam seketika. Pria itu tidak menyangka Hani terus menghitung waktu kebersamaan mereka, padahal dia sudah berulang kali memohon dan minta maaf, berharap Hani mau berbesar hati melupakan kontrak pernikahan mereka dan menjalani pernikahan ini dengan sebagai mana mestinya sebuah pernikahan di jalanin.
" Haaniya, apakah kamu membenci?" Tanya Narendra, pria itu terus mengabaikan suara nyaring dari panggilan masuk di ponselnya.
Haniya menautkan alisnya tajam, seraya balik bertanya, " atas dasar apa aku membencimu."
" Entahlah, mungkin sikapku selama ini dan bagaimana aku mempermalukan kamu waktu itu. Aku minta maaf! Tapi bisakah kita lupakan perjanjian itu. " Jawab Narendra penuh permohonan. Namun Haaniya menanggapinya dengan santai.
Wanita itu melompat turun dari samping wastafel, meraih handuk kemudian melilitkannya di tubuhnya, setelah itu dia meraih jas Narendra yang tergeletak begitu saja di lantai, mencari letak ponsel suaminya itu. Begitu menemukan apa yang dia cari, Hani langsung menyerahkan benda persegi itu kepada Narendra. " Angkatlah, KAI yang menelepon." Ucap wanita itu. Sembari meletakan benda itu di tangan Narendra, kemudian melangkah keluar kamar mandi, meninggalkan Narendra di sana, tanpa menjawab pertanyaan pria itu.
" Aku tidak benci kepadamu, karena aku tidak tahu caranya membenci kalian! Kamu, mommy dan Lisa sekalipun. Aku tidak pernah membenci kalian. Hanya saja aku sudah terlanjur terbiasa hidup tanpa ikatan keluarga," gumam Hani dalam hatinya.
Sementara dibelakang sana, Narendra hanya bisa terdiam, sembari menatap punggung Hani.
Sebelum ponselnya kembali berdering lagi untuk kesekian kalinya dengan id penelepon yang sama Kairan.
"Aku akan membunuhmu jika yang kamu sampaikan ini tidak penting_"
"Maaf dengan siapa saya berbicara?" Tanya seseorang dari seberang sana memotong ucapan Narendra dan pria itu yakin itu bukanlah suara Kairan, sahabatnya.
"Siapa ini? Kenapa kamu mengunakan ponsel Kairan?" Tanya Narendra tak sabar.
"Maaf pak! Pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan tunggal bersama seorang wanita." Ucap sang penelpon dari seberang sana, membuat Narendra terkejut.
"Apa kenapa bisa?" Masih sempat-sempatnya dia bertanya, padahal sudah jelas dia meninggalkan pria itu dalam keadaan mabuk. Dan wanita yang bersamanya itu, apa mungkin itu Samna.
"Kami tidak tahu harus menghubungi siap, hanya nomor anda dan nomor wanita ini yang ada di daftar panggilan teleponnya." Ucap pria itu lagi dan membuat Narendra yakin jika itu adalah Samna.
"Baiklah, saya akan segera ke sana! Katakan dia dibawa ke rumah sakit mana?" Tanya Narendra pada akhirnya.
Dan orang itupun menyebut alamat rumah sakit dimana Kairan di bawah, setelah itu mereka sepakat untuk menutup panggilan itu.
Begitu selesai berbicara dengan orang yang mengabarinya tentang kecelakaan KAI, Narendra langsung menghubungi kakeknya kairan untuk memberitahu perihal kecelakaan Kairan.
" Ada apa?" Tanya Hani.
" Kai kecelakaan." Jawab Narendra, sembari menghampiri Hani yang sedang duduk di atas ranjang, menunggunya.
"Baiklah, aku siap-siap dulu, kamu juga! Aku sudah menyiapkan pakaian kamu di sana?" Tunjuk Hani, pada paper bag, berisi pakaian ganti suaminya itu. Yang ia letakkan di atas meja rias.
" Terima kasih." Ucap Narendra, pria itu masih sempat-sempatnya mengambil kesempatan mencium bibir Haaniya. "Maaf." Ucapannya lagi. Entah kata maaf itu untuk apa, namun Narendra tetap saja ingin mengucapkan kata maaf itu.
Pria itu sungguh-sungguh minta maaf kepada Hani, Narendra sudah berjanji kepada dirinya, setelah memastikan KAI, baik-baik saja! Dia akan meluruskan hubungannya dengan Hani, dia ingin memulai semuanya tanpa perjanjian apapun, dia ingin Hani benar-benar memaafkan dirinya.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Waktu menunjukkan pukul tiga pagi saat Hani dan Narendra tiba di rumah sakit, dimana Kairan di rawat, di sana kakek Kairan sudah ada, pria paruh baya itu terlihat begitu sedih melihat keadaan cucunya.
" Kek! Bagaimana keadaan kai?" Tanya Rendra begitu ia berdiri tepat di samping pria paruh baya itu. " Oh iya kenali kek, istri Aku Haaniya." Ucap Narendra lagi, ketika melihat tatapan kakek Kairan kini tertuju kepada Haaniya. Umur pria itu sudah hampir mendekati kepala delapan, membuatnya gampang sakit-sakitan tapi walaupun begitu, kakek Kairan itu terlihat sepuluh tahun lebih muda dari usianya. Saat pernikahan Hani dan rendra ia tidak sempat hadir karena kondisi kesehatannya yang menurun.
" Salam kenal kek, aku Haaniya." Ujar Haaniya, wanita itu sedikit membungkuk, meraih tangan kakeknya kairan kemudian, mencium punggung tangannya.
Sikapnya yang begitu hormat kepada orang yang lebih tua, membuat kakeknya kai tersenyum. " Dia lebih baik dari wanita yang kemarin, jangan di sia-siakan atau kamu akan menyesal." Ucapannya sembari menatap penuh harap kepada Narendra.
Lelaki paruh baya, yang sudah banyak makan asam garam kehidupan itu. Tentu dapat menilai seseorang dari kepribadian mereka. Tapi anak muda jaman sekarang hanya melihat dari penampilan dan selebar apa mereka membuka kedua kaki mereka. Sama seperti cucunya, itulah sebabnya pria paruh bayah itu tidak pernah merestui hubungan Kai dan Samna.
"Kai sudah melewati masa kritisnya, tapi menurut dokter yang menanganinya, kemungkinan besar, kedepannya kai tidak akan bisa berjalan lagi." Ucap sang kakek. Membuat Narendra dan Hani begitu terkejut.
" Kakek bagaimana bisa ini terjadi?" Tanya Narendra, pria itu tidak menyangka hal ini akan terjadi kepada Kairan.
Sementara Hani tidak dapat berkata-kata, membayangkan Kai, harus melewati sisa hidupnya di atas kursi roda.
"Mau bagaimana lagi, ini sudah terjadi, menyesal pun tidak ada gunanya, suka atau tidak suka Kairan harus menerimanya dan kakek berharap Samna juga mau menerima kondisi Kai yang sekarang." Ucap pria paruh bayah itu lagi.
" Jika Samna menerimanya! Apa kakek akan merestui hubungan mereka?" Tanya Narendra, karena pria itu tahu, jika kai sudah sangat ingin menikahi Samna. Namun semua itu masih terhalang restu kakeknya.
...\=\=\=\=\=\=...
...Kira-kira Kai jodohnya siapa?🤔🤔...