HAANIYA.

HAANIYA.
Apa yang terjadi?



Setibanya di rumah sakit Hani langsung di tangani oleh dokter jaga yang sedang bertugas saat itu, sementara Narendra menunggu di depan ruang UGD dengan perasaan harap-harap cemas.


Tak lama kemudian Kai menghampirinya, pria itu baru sampai di rumah sakit karena dia menunggu di jemput supir pribadinya. sementara Narendra dan Hani sudah lebih dulu mengunakan mobil ambulans ke rumah sakit.


" Sepertinya kamu mulai terbiasa dengan peranmu itu." Sindir Narendra karena pria itu sudah kembali mengunakan kursi rodanya. " Bagaimana hubungan kalian." lanjutnya


" Aku tidak punya pilihan! Kamu tahu itu." Narendra menaikkan kedua bahunya, acuh." hubungan kami entahlah." ucap pria itu lagi, tak tahu harus menjelaskan hubungan mereka yang seperti apa.


Dan Narendra pun tidak ingin bertanya lebih jauh lagi."Oh iya kamu sudah memberitahu yang lain?" Tanya Narendra.


"Belum! Hanya Ela yang tahu dan mungkin Ela sudah memberi tahu sahabat mereka yang satunya lagi! Siapa namanya?" Jawab Kai sembari menanyakan nama Lita karena jujur dia lupa nama gadis itu.


" Lita."


" Ya Lita! Kita tunggu saja, kalau benar Ela sudah memberi tahu dia mungkin sebentar lagi mereka akan datang." Ucap KAI, karena dia sudah mengirim alamat rumah sakit tempat Hani di rawat kepada Ela.


"Kita tunggu saja." Kai pun mengangguk.


Baru sepuluh menit yang lalu keduanya membahas tentang Ela dan Lita, kini kedua gadis itu sudah berada di samping mereka.


" Apa yang terjadi? Hani baik-baik saja kan." Tanya Lita dengan nafas ngos-ngosan karena berlari dari parkiran sampai di depan ruang UGD itu.


Wanita itu baru saja di jemput oleh Ela dari bandara karena selama ini dia tinggal di Bali untuk mengurus hotel Hani yang ada di sana dan dia langsung mengambil penerbangan ke Jakarta begitu Ela mengabarinya semalam.


" Belum tahu, dokter masih menanganinya, tadi dia cuma mengadu sakit perut." Jawab Narendra seadanya.


" Apa! Kenapa kamu memberitahu mereka secepat itu." Sentak Narendra, pria itu terlihat panik sendiri.


"Kenapa sih, memangnya salah ya aku memberitahu mereka? Mereka juga khawatir dan memikirkan Hani." Tanya Ela yang bingung dengan kepanikan Narendra.


Narendra begitu panik karena topeng kulit wajah yang di gunakan Hani, belum di lepas. Dia tak ingin ada masalah baru atau banyak pertanyaan dari keluarga mereka kenapa Hani begini dan begitu, hanya karena masalah ini.


Untuk saat ini Narendra ingin istrinya tenang tanpa banyak pertanyaan. Karena bagi Narendra dengan Hani kembali kepadanya sudah lebih dari cukup, yang harus dia lakukan selanjutnya memastikan keamanan serta kenyamanan wanita itu.


" Aku juga tahu hal itu, tapi kalau mau lakukan sesuatu itu tanya dulu." Bentak Narendra kepada adiknya itu.


" Ren_" tegur kai yang tidak suka Narendra membentak istrinya.


Namun pria itu tidak peduli ia justru menarik tangan Lita sedikit menjauh kemudian berbisik sesuatu di telinga wanita itu.


Lita terlihat mengangguk kepalanya, kemudian wanita itu berjalan kearah ruangan UGD, mengetuk pintu itu beberapa kali hingga perawat yang berada di dalam membukanya.


Cukup lama Lita berdebat dengan perawat itu, di depan pintu hingga akhirnya ia di izinkan untuk masuk. Melihat hal itu Narendra sedikit dapat bernafas lega.


Beberapa saat kemudian perawat itu kembali keluar untuk memanggil Narendra, karena dokter ingin berbicara dengannya.


Saat berhadapan dengan dokter, Narendra terlihat begitu tegang namun ekspresi dokter wanita itu justru terlihat datar hingga Narendra semakin khawatir kepada Hani.


" Bagaimana keadaan istri saya dok! Istri saya baik-baik saja kan dok?" Tanya Narendra namun sang dokter justru mengeleng kepalanya.