
Melly menyadari semua itu, tapi entah mengapa dia justru membiarkan semuanya terus berlarut-larut hingga jarak itu terlampau sangat jauh untuk di satukan kembali.
" Sayang, maafkan mama! Harusnya mama mengutamakan perasaan kamu, bukan dia yang tidak memiliki hubungan apapun dengan maaf sayang, maaf!" Ucapannya terus berulang, seakan tak ada bosannya ia mengutarakan kata maaf kepada putri sulungnya sembari mengusap foto Hani.
Wajah gadis itu terlihat ceria di foto! Namun keceriaan itu sudah tidak ada pada dirinya lagi. Setiap tatapannya menyiratkan luka yang dia rasa tapi sekali lagi Melly tau namun kembali bersikap seolah tak tahu apapun.
Dia seorang ibu, dia yang berjuang untuk kehidupan mereka! Dia tahu bagaimana gadis kecil itu. Tapi semua yang kesibukan serta tipu muslihat yang dia lihat dengan matanya, membuatnya tanpa sadar menutup mata Hatinya untuk sang putri yang begitu merindukan pelukan, sandaran serta uluran tangannya.
" Ya Tuhan kenapa aku bisa se-egois ini untuk putriku, masih pantaskah aku di sebut sebagai seorang ibu." Ucapannya dengan nafas yang sedikit tercekat, di karenakan, tangisannya yang semakin menjadi.
Hingga sampai di telinga Aiden, saat pria itu melintas di depan kamar orang tuanya. Pintu kamar itu tidak tertutup sepenuhnya, itulah mengapa Aiden masih bisa mendengar tangisan Melly.
Pria itu memilih masuk untuk melihat keadaan mommy-nya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Sengaja dia melakukan hal itu karena khawatir kepada sang mommy.
" Mom, kenapa menangis?" Tanya pemuda itu, sembari duduk di samping Melly kemudian memeluknya dari samping.
Di tanya seperti itu dari Aiden, bukannya redah, tangisannya Melly justru semakin menjadi.
Membuat Aiden semakin khawatir kepada mommy," mom ada apa? Siapa yang berani' membuat mommy menangis seperti ini, katakan mommy." Desaknya namun Melly tak kunjung menjawab, wanita itu, terus saja menangis.
Dan Aiden pun tidak dapat memaksanya, pemuda itu membiarkan mommy-nya menangis sepuasnya dengan tangan yang bergerak mengusap punggung Melly.
Nyatanya tidak Hanya Haaniya, karena Haiden sangat menyayangi Melly. Terlepas dari sesibuk apa wanita itu hingga mengabaikan keberadaan mereka, keduanya tidak dapat membenci Melly.
Baik Haaniya maupun Haiden memilih menjauh dengan cara mereka masing-masing agar tidak semakin terluka.
Haaniya menjauh sebenar-benarnya orang menjauh, sementara Haiden dengan melakukan traveling keliling dunia, jika malas berpergian jauh, pria itu akan mengelilingi kota maupun desa yang ada di Indonesia, sekaligus mengabaikannya dalam lensa kameranya. Aiden bercita-cita menjadi seorang fotografer profesional, tapi posisinya sebagai sang pewaris membuatnya tidak dapat menggapai cita-citanya itu, dan memasukkan kedalam daftar Hobi saja.
Walaupun ada anak bunda Dian, tapi Gio dan Abian memiliki perusahaan masing-masing, Abian adalah pewaris perusahaan Ayah Ken, sementara Gio, memiliki perusahaan peninggalan Ayahnya yang di ambil alih oleh bunda Dian saat perusahaan itu hampir bangkrut.
Semuanya telah mendapatkan jatah masing-masing. Sehingga butik bunda, yang terkenal dan memiliki cabang di mana-mana itu. Di berikan kepada Haaniya, Sang kakak.
Aiden bahkan sempat bertanya, seberapa banyak Harta yang di miliki kakaknya itu, saham dari keluarga suaminya yang bukan kaleng-kaleng. Saham di perusahaan keluarga Xavier! Tabungannya serta pendapatan dari butik bunda, walaupun Butik itu masih bunda yang kelola. Namun pendapatan bersih masuk kepada sang kakak sepenuhnya, Siapa yang tidak akan iri jika mengetahui itu Semua.
Aiden belum tahu saja, selain butik dan sejumlah saham serta tabung yang sang kakak punya, wanita itu adalah pemilik Hotel Grand secret H, juga Pendiri club ekslusif dengan penghasilan yang wow per-harinya.
Selain Harta kekayaannya, Hani juga memiliki ribuan anak panti, wanita itu tidak mendirikan yayasan seperti orang tuanya, ia hanya menjadi donatur terbesar di beberapa panti. Tanpa di ketahui identitasnya. Secret H adalah jejak yang dia tinggalkan Hani. Dan itu hanya di ketahui dua orang, Lita dan Dino. Ela pun mengetahui hal itu tapi tidak sebanyak Lita dan Dino ketahui.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Waktu menunjukkan pukul setengah dua saat Hani terbangun dari tidurnya! Sementara Narendra. Pria itu masih nyaman tertidur sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Hani.
Hani menyingkirkan tangan Narendra dengan perlahan dari tubuh. Setelah itu ia beranjak turun dari tempat tidur. Wanita itu kebelet ingin ke bathroom, sehingga Membuatnya terbangun lebih dulu.
Lelah menggulir layar ponselnya tak jelas, tanpa tahu apa yang harus dia lakukan, wanita itu memilih untuk mengabari kedua sahabatnya, siapa lagi kalau bukan Naela dan Lita.
Hani mengajak Lita dan Naela untuk menemaninya dan Narendra, Menunggu Kai di rumah sakit. Karena wanita itu malas melihat wajah-wajah wanita ular itu. Siapa lagi kalau bisa Lisa cs.
~ Malam ini kalian sibuk nggak?~
Hani sengaja mengirim pesan di grup yang berisi mereka bertiga saja, untuk memudahkannya dan tidak membuatnya mengirim pesan berulang-ulang.
~ Kebetulan aku libur, ada apa? Mau ke club hayuuk, kita party sampai pagi.~
Hani menggeleng-gelengkan kepalanya membaca balas yang di kirim Lita adik iparnya.
~ Nggak aku mau ngajak kalian ke suatu tempat, sekalian temani aku.~ Balas Hani.
~Kemana?~
~ Kemana?~
Lita dan Ela kompak bertanya, membuat bibir Hani melengkung.
~Ada deh! Nanti aku Sherlock ya, oh iya malam ini kita akan nginap di sana, bawa cemilan dan kalau bisa mampir deh buat beli nasi Padang di tempat biasa, lagi pengen makan nasi Padang aku.~
~ Han, bercandanya nggak lucu, masa makan nasi Padangnya malam! Melar aku~ Balas Ela di tambah emot nangis.
~ Tahu nih, kesambet dimana?~
Lita pun sama shock nya dengan Ela, karena mereka masih termasuk golongan orang yang menjaga makannya. Padahal mau sebanyak apapun mereka makan itu nggak akan berpengaruh terhadap badan mereka, tapi tetap saja, mereka ingin menjaga makan.
~ Udah nggak usah banyak protes, aku tunggu ya! Jangan lupa cemilan dan Nasi Padangnya.~
Lita dan Ela pun kompak membalas ~Terserah ~ Tapi dengan emot yang berbeda, Ela emot marah, sementara Lita emot mata keatas.
Membuat Hani hanya tersenyum. Melihat tingkah kedua sahabatnya itu.
" Kamu lagi kirim pesan sama siapa? Sampai senyum-senyum sendiri seperti itu?" Tanya Narendra, membuat Hani terkejut.
Wanita itu terlalu asyik dengan kedua sahabatnya hingga tak menyadari sang suami telah bangun.
" Lita dan Ela." Jawabnya sembari menunjukkan Layar ponselnya kepada Narendra.
Hani melakukan hal itu bukan karena takut Narendra curiga yang tidak-tidak, wanita itu, hanya tidak ingin banyak drama, kalau bisa di selesaikan dengan cepat kenapa tidak.