HAANIYA.

HAANIYA.
Tidak berguna.



Saat menerima telepon dari asisten Regan, Narendra sudah merasakan jika Regan memiliki maksud tertentu untuk dirinya, Tetapi entah mengapa lelaki itu tetap mengiyakan undangan makan malam dari Regan.


Bukan karena dia ceroboh atau apapun itu, sebab sampai saat ini akal sehatnya masih berpikir dengan baik, namun jauh di lubuk hatinya menginginkan untuk dia pergi ke tempat pria itu.


Dan disinilah dia saat ini, di sebuah mobil Limosin milik Regan sembari duduk berhadapan dengan sang empunya.


Narendra bukan orang yang masuk jajaran pebisnis dunia bawah tapi untuk berhadapan dengan seorang Regan, Narendra tidak perlu takut dia sanggup menghadapi Regan walaupun seorang diri, bukan karena dia meremehkan Regan, tapi dia percayalah musuh yang terlihat lemah dan tidak berdaya itu jauh lebih berbahaya ketimbang dia yang terlihat hebat dan sehebat apapun Regan pasti ada kelemahannya, karena di dunia ini tidak ada yang sempurna tanpa kekurangan serta kuat tanpa kelemahan.


Dia cukup berhati-hati dan fokus dengan tujuannya, selebihnya dia percaya tuhan akan membantunya dengan jalannya sendiri.


" Kamu terlihat keberatan dengan undangan makan malam dariku?" Ucap Regan. Pria itu sengaja berbasa-basi untuk menghidupkan suasana yang terlihat begitu canggung diantara mereka berdua.


" Sepertinya Anda salah menilai saya, tuan Regan! saya tidak keberatan sama sekali! karena jika saya merasa keberatan, saya akan langsung menolak tawaran itu, bukan duduk bersama anda di dalam mobil ini sembari menikmati segelas wine." Sahut Narendra, pria itu mengangkat gelas wine di tangannya kearah Regan kemudian menyesap minuman itu dengan begitu santainya.


"Ya, kamu benar sekali! Mungkin aku yang keliru dan terima kasih sudah menerima undangan makan malam ini, aku harap kedepannya kita bisa menjadi rekan bisnis atau sahabat yang baik." Ujar Regan sambil tersenyum penuh arti.


" Saya pun berharap begitu, tuan." Narendra turut membalas ucapan Regan, dia bahkan ikut tersenyum seperti Regan.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Disisi lain, Hani terus berusaha untuk terlepas dari anak buah Regan, wanita itu awalnya ingin bersikap lemah sesuai penyamarannya saat ini namun membayangkan resikonya dan kemungkinan dia bisa berakhir seperti Elga juga Irene.


Hani pun memutuskan untuk melawan dengan sisa tenaga yang dia punya, bersyukurnya dia menguasai ilmu bela diri yang dia pelajari selama ini dengan baik.


Setelah itu Hani menendang tepat pada lutut mereka dari arah samping dengan gerakan cepat hingga keduanya terduduk namun sedetik kemudian si botak langsung memeluk perut Hani, mengunakan lengan kekarnya dengan begitu kerasnya.


" Akkeehh," wanita itu langsung menjerit kesakitan, kerasnya pukulan itu, membuat tubuh Hani terdorong beberapa langkah kebelakang membentuk jeruji besi kemudian tersungkur ke lantai.


"Dasar wanita sialan," umpat si botak, sembari menarik kakinya yang terasa begitu sakit, lelaki itu ingin memukul Hani lagi, namun niatnya itu ia urungkan saat pintu ruangan tahanan itu di terbuka.


Seorang pria yang tidak lain adalah asisten Regan masuk. " Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian bertindak sampai sejauh ini?" Tanya pria itu ketika melihat Elga dan Irene yang sudah terbujur di lantai dengan keadaan yang sangat mengenaskan, menyisahkan Hani yang Masih terduduk sembari menahan perutnya yang terasa semakin sakit saja setelah terkenal pukulan.


" Maaf tuan! Mereka tidak mau mengaku." Jawab pria botak itu dengan kepala yang menunduk.


" Dasar tidak berguna." Umpat asistennya Regan.


Tadinya pria itu ingin mengunakan salah satu dari mereka bertiga untuk memanfaatkan Narendra, tapi karena kebodohan anak buahnya membuat semua rencannya berantakan! Sementara Narendra dan Regan sudah berada di perjalanan menuju mansion itu.


" Sial, sial! kalian bodoh." pria itu langsung menghajar kedua anak buahnya itu hingga babak belur saking frustasinya, bagaimana tidak! Dia harus memikirkan ulang semuanya serta mencari wanita pengantin untuk menjebak Narendra.


Pria itu berbalik, hendak meninggalkan tempat itu setelah memberi pelajaran kepada kedua anak buahnya! Namun ia mengurungkan langkahnya saat melihat Hani.


Wajah wanita itu terlihat begitu pucat dengan keringat dingin yang membasahi wajahnya.


Sementara Hani sendiri berulang kali mengigit bibir bagian dalamnya untuk mengalihkan rasa sakitnya.