HAANIYA.

HAANIYA.
Do'akan saja



Keesokan paginya Hani terbangun dengan tubuh yang sedikit remuk dan jangan di tanya seberapa pegalnya dia saat ini.


Pasalnya kegiatan panas dan nikmat itu, tidak akan membuat kita merasakan pegal, saat tengah asyik melakukannya, hingga tak terasa lebih dari sekali, Dan selalu menginginkan lagi dan lagi apalagi di momen pertama seperti ini.


" Akkhh Sial, Sakit sekali." Rutuknya saat mencoba untuk bangun.


" Apa yang sakit?" Tanya Narendra, pria itupun ikut terbangun saat merasakan pergerakan Hani.


Hani menggeleng kepalanya, kemudian menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya hingga Kapala. Sungguh dia begitu lelah dan Ingin sekali kembali tidur namun rasa ingin ke bathroom membuatnya mengurungkan niat itu.


Hani pun membuka selimut yang menutupi tubuhnya setelah itu dia mencoba untuk bangun, mengabaikan Narendra yang terus memperhatikannya.


Walaupun seluruh tubuhnya pegal dan area selang-kangannya terasa perih namun Hani tetap beranjak dari tempat tidur itu menuju bathroom walaupun ia harus sedikit tertatih Saat berjalan.


Melihat hal itu Narendra langsung beranjak bangun dan mengangkat tubuh istrinya membawanya ke dalam bathroom.


" Azzam Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku." Pintanya.


Namun Narendra Tidak begitu saja menurutinya. " Aku harus membantu istriku." Ucapannya. " Jangan menolak." Lanjutnya lagi, saat Hani masih mencoba untuk turun.


Hingga pada akhirnya, wanita itu mengalah dan membiarkan apa yang ingin Narendra lakukan.


Begitu berada di dalam bathroom, Narendra mendudukkan Hani di atas closet. Kemudian mengisi bathtub dengan air hangat, kemudian keluar dari bathroom itu, untuk memesan makanan. untuk dia dan Hani yang membutuhkan sarapan saat ini. Setelah selesai, dia kembali masuk lagi kedalam bathroom.


Pagi itu dia dan Hani, berendam untuk merilekskan tubuh mereka, begitu merasa sedikit lebih baik. Mereka kembali mengulang pemain semalam. Satu ronde lagi! Barulah mereka membersihkan tubuh mereka kemudian keluar untuk sarapan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Waktu berlalu dengan begitu cepatnya Tidak terasa sudah dua minggu setelah Hani dan Narendra melakukan penyatuan.


Hubungan mereka pun kian hari kian membaik, baik Narendra maupun Hani tak sungkan untuk menunjukkan perhatian untuk satu sama lain, sekalipun di hadapan keluarga mereka sendiri.


Dan sejak hari itu tiada hari yang mereka lewati tanpa melakukan hubungan intim. Kegiatan itu sudah masuk kategori kebutuhan yang tidak akan mereka lewatkan saat bersama.


Seperti hari ini misalnya, di saat Luna dan Naela sedang menunggu mereka untuk menghadiri pesta pernikahan Kai dan Amna, keduanya masih sempat-sempatnya meluangkan waktu untuk melakukan perbuatan panas itu. Sehingga Hani tidak sempat untuk mengeringkan rambutnya dengan benar mengingat mereka sudah sangat terlambat untuk menghadiri pesta itu.


Luna pun ingin memarahi mereka! Tapi melihat rambut Hani yang sedikit basah, juga senyum cerah putranya, wanita itu hanya bisa mengelus dada tanpa mampu menunjukkan protesnya.


Padahal dia dengan Naela sudah menunggu satu jam lebih. ' Sabar Luna, demi calon cucu.' Ucap wanita itu didalam hatinya. " Sudah siapkan kita pergi sekarang. " Ujarnya lagi , Sengaja tidak ingin memperpanjang masalah. Toh mereka Cuma tamu, datang terus memberikan ucapan selamat. Bukan mempelai yang harus tepat waktu.


" Ayo, sayang jangan hiraukan dia! Salah sendiri jomblo." Bukannya menjawab ucapan sang adik agar dia tidak marah pria itu justru dengan sengaja memanas-manasi Ela sembari menggenggam tangan istrinya, kemudian berjalan melewati Naela begitu saja.


Wanita itu baru tiga hari pulang ke rumah, itupun karena Luna, yang datang langsung menjemputnya ke rumah sakit begitu dia pulang kerja, jika tidak seperti ini, Naela mungkin selamanya akan Betah berada di luar rumah.


" Kamu itu aneh akhir-akhir ini, mau-mau aja ditempel bang Rendra terus. Di kasih apa kamu sama dia." Ucap Ela lagi, wanita itu masih tak habis pikir dengan perubahan Hani.


Sementara Hani sendiri, hanya diam tidak menanggapi! dia malah tersenyum melirik pada suaminya, kemudian mengalihkan pandangannya ke jendela mobil, karena saat ini mereka tengah berada di perjalanan, menuju tempat pernikahan Kai.


Pernikahan itu sengaja di percepat mengingat kondisi Amna yang tengah berbadan dua. Jadi tidak ada alasan untuk menunda-nunda.


Bersyukurnya kedua bela pihak sepakat, pernikahan itu akan di adakan secara sederhana dan resepsi akan mereka lakukan setelah Amna melahirkan.


" Udah jangan banyak tanya! Biarkan saja, harusnya kamu bersyukur hubungan mereka semakin membaik." Sahut Luna. Wanita itu terus membelah anak dan menantunya, hingga membuat Naela memutar bola matanya malas.


" Ya, Ela pasti akan bersyukur untuk mereka tapi kita nggak tahu kedepannya akan seperti apa Ma. Dan aku nggak akan biarkan Abang nyakitin sahabat aku. " Ucap Ela penuh penekanan, sembari menatap tajam kepada Narendra melalui kaca spion.


" Do'akan yang terbaik untuk mereka." Sahut Luna, tanpa dia sadari Narendra dan Hani saling melirik sambil tersenyum simpul dan hanya mereka yang tahu arti senyum itu.


Karena dalam benak mereka! Sudah ada rencana yang tersusun rapi untuk masa depan mereka. Mereka hanya perlu melewati sedikit Rintangan lagi untuk mempertegas hubungan mereka ini.


Mobil yang di kendarai, Narendra pun akhirnya sampai di tempat pesta dan di sana sudah banyak tamu yang hadir. Namun acaranya belum juga di mulai, hingga membuat Narendra bertanya.


Arga yang melihat kedatangan Narendra pun langsung menghampirinya lalu berbisik di telinga pria itu.


" Apa? Kok bisa?" Tanya Narendra tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


" Lihat aja kedalam." Sahut Arga. Narendra pun langsung bergegas masuk kedalam, meninggalkan Hani, Ela dan Luna, yang menatap bingung kepergian mereka.