
Sore itu Hani langsung berangkat ke Bali, setelah mendapat izin dari Narendra, walaupun ia harus melewati sedikit drama yang di ciptakan suaminya! Bahkan untuk mempermudah urusannya, Hani sengaja membawa Ella bersama mereka, padahal wanita itu tidak punya persiapan apapun untuk berangkat kembali, ia bahkan belum izin dan masih jadwal ship saat Lita datang dan menyeretnya untuk ikut ke Bali, tanpa menghiraukan Ela penolakan Ela.
Dan disinilah ketiga gadis itu saat ini, di lobby hotel Grand Secret yang ada di Bali. " Lelah sekali, kalian berdua memang tak berperasaan." Ucap Ela sembari mendaratkan bokongnya pada sofa panjang yang sengaja di letakkan di lobby itu untuk tamu hotel menunggu. " Aku ini sahabat mu Haaniya, aku juga ipar kamu, apa kamu lupa! Kenapa kamu begitu tega kepadaku." lanjut Ella lagi, Sepertinya wanita itu masih sangat nyaman dengan drama yang di buat-buatnya itu. Sementara Haani sendiri hanya memutar kedua bola matanya malas, menanggapi Ela, yang terkesan berlebihan itu.
Sedangkan Lita, sendiri sedang berbicara dengan resepsionis. Karena walaupun hotel itu milik Hani, Namun mereka yang menginap tetap harus tetap mendapatkan perlakukan yang sama, Sepertinya pengunjung pada umumnya, bayar! Nggak ada cerita pemilik hotel nginap gratis di hotelnya sendiri, bukannya pelit atau apa tapi ini bisnisnya! Jika ia sendiri tidak bisa menerapkan itu pada dirinya sendiri bagaimana ia akan berkembang.
"Sudah?" Tanya Hani, saat Lita mendekati mereka, usai berbicara dengan resepsionis dan mengambil kunci kamar yang akan di tempati mereka bertiga selama berada di sana.
" Iya, ayo." Jawab Lita sembari mengangguk kepalanya kemudian mengajak mereka pergi dari sana dengan di bantu pegawai hotel yang membawa koper mereka menuju lift.
Kamar Hani berada di lantai paling atas. Bahkan dilantai itu hanya ada satu kamar yang sengaja Dino siapkan untuk bosnya itu dengan lift khusus yang berhenti tepat di depan Pintu kamar itu. Di dalam kamar itu ada pantry, jacuzzi yang berada di area balkon, sengaja di letakkan di di situ agar Hani bisa berendam sambil melihat pemandangan dari atas dan masih banyak pemandangan mewah lainnya yang disiapkan Dino di dalam kamar hotel khusus untuk pemilik itu dan kamar itu tidak pernah di tempati orang lain selain Lita dan Ella, Dino sendiri kalau berada di Bali, ia akan mengunakan kamar lain, walaupun ia yang mendesain kamar itu untuk Hani dan Hani sendiri yang memintanya untuk tidur disana. Tetapi Dino menolak hal itu, sebab di Tahu tidak akan mengusik area pribadi yang di khususkan untuk Hani.
Untuk itulah selama delapan tahun ini kamar itu tidak pernah di tempati, selalu kosong dan terawat tentunya.
"Wow, sumpah ini keren banget! Aku kaya dari lahir tapi aku tidak memiliki tempat semewah ini." Ucap Lita saat melangkah masuk kedalam kamar itu.
" Ya, ya nikmatilah waktu berlibur mu disini, kamu bisa melakukan apapun sesukamu, karena besok sampai tiga hari ke depan, aku dan Lita akan sedikit sibuk dan tidak bisa menemani kamu." Ujar Hani, membuat Ela membulatkan kedua matanya.
" Apa? Jadi kalian berdua akan meninggalkan aku mati kebosanan di dalam kamar ini seorang diri." Sahut Ela tidak percaya. Sementara Lita dan Hani hanya menunjukkan ekspresi acuh tak acuh." Kalian jahat sekali! ya Tuhan aku menyesal menganggap kalian sebagai sahabatku." Lanjutnya, membuat kedua gadis itu terkekeh, Sebelum meninggalkan Ela.
Hani yang melangkah masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Sementara Lita memesan makanan malam mereka. Ella sendiri memilih berbaring di sofa.
Sebab dia begitu lelah! Bayangkan saja, dia sedang berkerja! Tiba-tiba Lita datang mengajaknya untuk ngopi sebentar di cafe, nanti dia akan di antara kembali tinggal beberapa jam lagi waktu sip habis, untung saja Lita mendesaknya untuk membawa tasnya kalau tidak, sudah di pastikan ia kembali hanya membawa diri saja. Walaupun kenyataannya juga seperti itu.
Saat wanita itu tengah bersantai sambil meluruskan punggungnya yang pegal. Ponsel dalam tasnya tiba-tiba berdering. Awalnya ia membiarkan tetapi ponselnya itu terus berdering membuat ia mau tak mau, harus beranjak dari tempat ternyamannya untuk mengecek siapa yang telah menganggu kesenangannya.
"Kakak ipar kamu mana?" Tanya Orang yang menelponnya, siapa lagi kalau bukan Narendra. Wajah pria itu terlihat kesal diseberang sana, karena saat ini ia tengah melakukan panggilan video, untuk melihat wajah Hani, karena sudah lewat dua tiga menit dari waktu yang telah dia sepakati dengan Hani.
" Haaniya, sedang mandi! Bang Rendra bisa menghubunginya lagi nanti! Jangan khawatir aku akan mengingatkan dia untuk menghubungi Abang." Sahut Ella Sebelum mengakhiri panggilan itu begitu saja tanpa menunggu jawaban sang kakak. Bersamaan dengan Hani yang keluar dari kamar mandi. Wanita itu hanya melilitkan handuk di tubuh dan satu lagi di kepalanya. "Syukurlah kamu sudah selesai, cepat hubungi suami kamu itu! Dia baru saja menelpon aku menanyakan keberadaan kamu! Menganggu saja." Ucap Ella, setelah itu ia kembali berbaring di tempat semula.
Sedangkan Hani, langsung mencari ponselnya dalam tasnya, kemudian menghubungi Narendra, begitu melihat banyaknya panggilan tak terjawab dari pria itu. Hani sampai bingung, apa pria itu tidak berkerja dan hanya melihat waktu saja.
" Hallo_"
" Maaf! Aku tidak bermaksud mengingkari ucapan aku! Tapi kita baru saja sampai di hotel dan aku tidak sempat menghubungi kamu karena tubuhku sudah sangat lengket." Selah Hani, sebelum Narendra menyelesaikan ucapannya.
" Baiklah, untuk kali ini aku terima alasan kamu! Kamu sedang apa sekarang." Sahut Narendra dari seberang sana, sekaligus bertanya.
" Aku baru habis mandi, Sekarang mau ganti baju! Nanti malam aku telpon lagi." Sama seperti Naela, Hani pun langsung mengakhiri panggilan itu secara sepihak, wanita itu tidak tahu disana Narendra begitu kesal karena apa yang dia lakukan.
Belum ada lima menit ia mendengar suara istrinya, kini panggilan itu sudah harus berakhir. Sungguh beruntung bukan, ia di kelilingi wanita-wanita angkuh seperti mereka, tidak sang mama, kedua adik perempuannya, sepupu dan kini istrinya. Sungguh baik tuhan padanya sehingga membuat ia di kelilingi wanita-wanita seperti itu.
" Kenapa tuh muka kesal banget! Nggak di kasih jatah Sebelum pergi ya." Goda Kevin yang baru saja masuk kedalam ruang kerja Narendra dan sukses membuat pulpen yang ada di atas meja itu melayang kepadanya.
Keduanya saat ini masih berada di kantor, karena Narendra ingin menyelesaikan pekerjaannya untuk menyusul Haniya. Sehingga ia memutuskan untuk mengajak Sahabatnya itu lembur, awalnya Kevin menolak tapi Narendra mengancam akan menceritakan rahasianya, sehingga pria itu pun mengalah. Siapa lah dia di hadapan atasan sekaligus sahabatnya itu.