HAANIYA.

HAANIYA.
Saling memanfaatkan.



Kedatangan Narendra disambut baik di perusahaan Regan saat pria itu mengunjungi, Regan yang merupakan Rekan bisnis sekaligus rival cintanya.


Narendra datang ke perusahan itu, tentu saja untuk urusan pekerjaan, walaupun perusahaan itu telah Narendra serahkan kepada Arga tapi untuk kerja sama perusahaan yang satu ini, masih Narendra yang memegangnya.


Sebab Narendra mempunyai tujuan dengan mengunakan kontrak kerja sama mereka, syukur-Syukur dia terlihat baik di depan Regan, sehingga lelaki itu mempercayainya dan membiarkan dia memasuki daerah teritorial Regan untuk menemukan sang istri tercinta.


Tapi tidak Hanya Narendra, Karena Regan pun memanfaatkan yang sama dengan sengaja bersikap baik untuk memanfaatkan pria itu, Alasan sudah jelas untuk mengetahui keberadaan Hani dan membuat wanita itu membencinya, hingga berpaling hanya untuk Regan seorang.


Keduanya tidak sadar jika mereka saling memanfaatkan satu sama lain untuk tujuan yang sama, Yaitu Haaniya.


" Selamat datang tuan Sanjaya." Sambut Regan sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan Narendra, begitu pria itu melangkah masuk kedalam ruangan kerjanya. " Silahkan duduk." Regan kemudian mempersilakan Narendra duduk.


" Terima kasih." Narendra pun mengangguk kemudian mendaratkan bokongnya tepat di kursi yang berada di hadapan Regan dengan meja kerja sebagai pembatas keduanya.


" Anda sepetinya terlihat baik-baik saja setelah di tinggal." Ucap Regan, Namun Pria terlihat biasa saja dan tidak terpancing dengan ucapan pria di hadapannya itu.


"Maaf, sebaiknya kita langsung membahas pekerjaan saja." Ucap Narendra dan Regan pun mengangguk setuju.


Narendra terlihat biasa saja saat berhadapan dengan Regan, walaupun dia sudah tahu sepak terjangnya seorang Regan itu seperti apa.


Dan keduanya pun mulai membicarakan tentang pekerjaan mereka, tentang bagaimana perkembangan kerja sama itu, sampai pada berapa keuntungan yang mereka dapatkan dan masih banyak pembahasan tentang pekerjaan lainnya.


Karena jika,l sudah berbicara soal pekerjaan, rasanya tidak akan ada habisnya.


Setelah menyelesaikan urusan pekerjaan. Regan mulai menjalankan siasatnya. " Di hotel mana anda menginap?" Tanya Regan membuat Narendra tersenyum sembari mengerutkan keningnya, " Anda jangan salah paham, saya hanya ingin memberi anda mainan untuk bersenang-senang selama anda berada disini." Lanjutnya lagi.


Narendra tentunya Paham, mainan ya Dimaksud oleh Regan."Terima kasih atas niat baik Anda tuan Regan, tapi saya mempunyai istri dan tidak bermain dengan jala-ng." Tolak Narendra dengan Halus dan tegas.


" Oh sayang sekali. " Sahut Regan, seakan menyesali hal itu.


" Sekali lagi terima kasih atas niat baik Anda, Jika ingin menemui saya datanglah ke hotel.." Walaupun Narendra menolak apa yang di tawarkan oleh Regan tapi pria itu tetap mengatakan Dimana dia tinggal serta memberikan nomor kamarnya. " Kalau begitu saya pamit dulu." Narendra berdiri dari tempat duduknya dan berjalan tanpa kembali dengan Regan sebelum meninggalkan ruangan kerja pria itu.


...\=\=\=\=\=\=\=\=...


Sementara itu di tempat lain. Hani di bawah ke ruang yang sama dengan Elga Dan Begitu dia menginjakkan kakinya di ruangan itu. Hidungnya langsung di Sambut bau amis darah hingga membuat perutnya serasa di aduk-aduk di dalam sana, namun Hani mencoba untuk menahannya.


Wanita itu mengedarkan pandangannya pada seisi ruangan dengan pencahayaan yang begitu minim itu, Dan yang dapat dia lihat hanyalah deretan jeruji besi dengan sekat pembatas seperti penjara pada umumnya. " Masuklah." Pria yang membawa Hani ke ruangan itu langsung mendorong tubuhnya masuk kedalam salah satu jeruji besi yang ada di sana begitu pun dengan Irene.


Kedua wanita itu menempati jeruji besi yang berbeda. "Ahhh Sial." Umpat Hani dalam hatinya seraya mengutuk pelayan-pelayan yang telah membuatnya beradab di mansion itu.


Bagaimana tidak Rencananya, yang telah dia susun dengan rapi terancam berantakan karena ulah, pelayan-pelayan itu.


Hani berjongkok di sudut ruangan untuk menahan perutnya yang semakin bergejolak serta membekap mulutnya sendiri mengunakan telapak tangannya, saat Hidungnya semakin sensitif dengan udara di ruangan itu.


Pengap, bau amis darah yang begitu menyengat dan bau tak sedap entah dari mana datangnya membuat kepalanya pusing dan pada akhirnya ia mengeluarkan isi perutnya.


Penjaga yang melihat hal itu hanya membiarkan saja dan tidak memperdulikannya.


Sedangkan Hani sendiri tengah merasa bingung dengan dirinya, pasalnya dia bukanlah orang yang sensitif dengan bau amis darah atau apapun tapi entah mengapa kali ini dia merasa ada yang aneh dengan Hidungnya.


"Paksa mereka hingga mengakui semuanya, lakukan seperti yang kalian lakukan pada wanita itu." Ucap pria yang membawa Hani tadi terdengar jelas di telinga Hani, membuat wanita itu menoleh sebentar kepada mereka kemudian berpindah ke arah yang di tunjuk orang itu.


Dan dari tempatnya Hani bisa melihat seseorang tengkurap tak berdaya dengan luka di sekujur tubuhnya, melihat itu perutnya semakin bergejolak ia kembali mengeluarkan isi perutnya lagi.