
Setelah 1 minggu bertahan dengan sikap Hani yang menyebalkan itu akhirnya Hana terbebas dari sang kakak karena Narendra yang berada di luar kota kini telah kembali.
"Abang, mbak! Hana pulang ya." Pamit Hana kepada sang kakak juga kakak iparnya yang sedang berada di dapur.
"Abang baru sampai masa kamu udah mau balik sih," sahut Narendra sembari mengaduk sup yang sedang dia buat untuk Hani sementara Hani sendiri hanya duduk diam di kursi pantry, sambil mengunyah potongan buah yang beberapa saat lalu di siapkan Narendra untuknya sembari menatap pria itu tanpa berniat membantunya.
" Iya bang, soalnya bunda dari kemarin hubungin Hana terus, buat bantu-bantu bunda di butik, tapi Hana nunggu Abang pulang dulu karena mbak Hani nggak mau di tinggal." Jawabnya berbohong, alasan sebenarnya karena dia takut akan sikap sang kakak.
Lihat saja Narendra yang baru saja sampai bukannya langsung istirahat atau di sambut senyum manis kakaknya itu.
Pria itu justru di sambut rengekan dari Hani serta permintaannya yang ini dan itu, walaupun begitu Abang Iparnya tetap menuruti permintaan mbaknya.
Membuat Hana geleng-geleng kepala, cinta sih cinta tapi tidak sampai harus di perbudak istri juga. Itu menurut pemikiran Hana. Maklumlah kaum jomblo yang belum pernah merasakan drama percintaan.
"Oh gitu.Tapi kamu tunggu sebentar nanti kita makan sama-sama, baru kamu pergi, kebetulan makanannya udah matang ini." Sahut Narendra.
Namun Hana menggeleng kepalanya. " Nggak usah bang, lain kali aja, kalau hana kesini lagi. Soalnya aku udah janjian mau makan sama bunda." Tolak Hana dengan halus dan Narendra pun tidak dapat memaksanya.
Sementara Hani masih tetap diam, seolah tak peduli dengan sekitarnya. " Ya udah ya bang, Hana pergi dulu, Bye."
" Iya hati-hati ya Hana, terima kasih."Ucap Narendra kepada adik iparnya itu.
" Sama-sama bang." Hana pun berbalik untuk meninggalkan pasangan suami istri itu tapi baru saja ia melangkahkan kakinya.
Suara Hani menghentikan langkahnya" Hana tunggu," Ucapannya membuat jantung Hana berdetak tiga kali lebih cepat dari biasanya.
Wanita itu dengan ragu memutar tubuhnya untuk menghadap pada sang kakak yang telah membuat hidupnya tidak tenang selama seminggu terakhir ini.
" Iya mbak! mbak butuh sesuatu." Jawabnya sembari memaksa sudut bibirnya untuk tersenyum dan itu terlihat sangat kaku di mata Hani.
"Nggak! tapi kenapa wajah kamu begitu tegang! Aku tidak akan menahan kamu jika itu yang kamu takut, aku hanya ingin," Hani sengaja mengjeda ucapannya, membuat Hana semakin gelisah. " Aku hanya ingin." Ulangannya lagi sembari memasuk potong buah terakhir kedalam mulutnya.
" Mbak." Panggil Hana, sedangkan Narendra sendiri hanya bisa menggeleng kepalanya tanpa bisa melarang istrinya untuk berhenti mengerjai adik iparnya itu.
Pria itu fokus menyiapkan makanan untuk istrinya dengan sesekali kepada Hani juga Hana.
" Aku hanya ingin mengatakan jika minggu depan ada yang akan mengantarkan mobil Bugatti ke rumah, buat kamu." Hana langsung terdiam dan tak bisa berkata-kata mendengar ucapan kakaknya.
Tidak hanya Hana, bahkan Narendra pun sama terkejutnya, hingga menghentikan aktivitasnya.
" Mbak_" Hana masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
Hana dengan perlahan menghampiri Hani saat Wanita hamil itu meretang-kan tangannya kepada Hana.
Keduanya saling berpelukan. " Terima kasih, maaf sudah merepotkan kamu. Itu hadiah buat kamu." Ucap Hani, sembari melepaskan pelukan mereka lalu mencium kedua pipi adiknya itu. " Pergilah Sebelum aku berubah pikiran dan menahan kamu sampai keponakan kamu lahir." Ancam Hani, membuat gadis itu tertawa.
" Tak masalah dengan begitu aku akan segera kaya." Ucapnya kemudian mencium balik kedua pipi kakaknya. " Terima kasih kembali, mbak Hani yang terbaik, Dah." Gadis itu langsung meninggalkan kakaknya sembari melambaikan tangannya kepada pasangan suami istri itu, bibirnya terus melengkung sepanjang kakinya melangkah meninggalkan apartemen itu.
Mobil yang selalu ia impikan akhirnya dapat dia miliki, wanita itu tidak sebar-bar sang kakak, tapi hobinya yang suka nonton film action, terlebih film ff, membuat ingin memiliki salah satu mobil seperti yang yang ada di film itu, sayang sang mommy tidak pernah berkerja sama untuk mendapatkan keinginan itu, tapi Hani sang kakak mengetahuinya untuk di memberikan mobil itu sebagai hadiah.
Begitu Hana pergi, Hani langsung menghampiri Narendra yang telah selesai menyiapkan makanan untuknya. " Terima kasih."Ucap Hani dengan nada berbisik, kemudian mengecup bibir Narendra.
" Tak masalah Honey, kamu tidak perlu berterima kasih, karena ini sudah tugasku, menjaga dan melayani kamu."Sahut Narendra, membuat bibir wanita hamil itu menyunggingkan senyum termanis, kedua mata mereka saling terkunci mengisyaratkan rasa yang mungkin telah mereka berdua sama-sama sadari.
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Malam itu Hani dan Narendra sedang duduk di ruang tengah menonton TV, atau lebih tepatnya hanya Hani seorang yang melakukan hal itu, sementara Narendra, asyik menatap wajah cantik istrinya yang sedang menikmati es krim rasa coklat yang ia letakkan di atas pangkuannya.
" Honey, kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Narendra sembari mengusap sudut bibir Hani, dimana ada sisa eskrim yang tertinggal di sana, lalu menyicipinya. " Manis."
" Kamu mau." Tawarnya.
Narendra menggeleng kepalanya, sebagai jawaban. Hani pun melanjutkan makan es krimnya.
"Apa kamu membutuhkan sesuatu lagi?" Narendra kembali mengulang pertanyaannya saat tidak mendapatkan jawaban apapun dari istrinya itu.
" Sepertinya aku menginginkan sesuatu." Ucap Hani lalu meletakkan sisa es krimnya di atas meja.
Narendra mengerutkan keningnya, menunggu istrinya itu mengatakan apa yang dia inginkan, namun wanita itu tak kunjung mengatakan apa yang dia inginkan.
...\=\=\=\=...
Assalamualaikum... maaf semuanya. aku libur lama. tapi bukan mauku libur lama! kemarin itu ponsel aku rusak jadi nggak bisa update.🙏🙏🙏
Lita pun belum bisa publish karena akan harus buat kerangka yang baru dulu. 🙏🙏