
" Tunggu." Ucap seseorang dari belakang sana membuat langkah keduanya terhenti.
Narendra dan Hani pun saling menatap sesaat, sebelum Narendra menengok kebelakang untuk melihat siapa yang sudah menahan mereka. " Maaf tuan, tuan Regan berpesan jika tuan ingin pulang kami harus mengantar tuan sampai di hotel dan akan kembali bersama wanita itu." Ucap salah satu anak buah Regan, membuat keduanya kompak mendesah pendek.
" Apa saya tidak bisa bersamanya lebih lama lagi?" Tanya Narendra.
" Tidak tuan, semua pelayan di mansion ini, hanya boleh di nikmati di sini! Tidak untuk di bawah pulang tapi berhubungan keadaan anda sedang tidak baik-baik saja, kami mengizinkan dia untuk ikut dengan anda." Jelas Asisten Regan, membuat Marah.
Bagaimana tidak marah susah payah dia mencari Istrinya dan begitu bertemu mereka ingin mengambilnya lagi, coba saja. ' dan apa tadi mereka bilang, pelayan rumah ini hanya untuk di nikmati di sini bukan untuk di bawa pulang, memang istrinya wanita apaan?' gumam Narendra dalam hatinya dengan tangan yang terkenal.
Melihat itu, Hani langsung menahan tangan Narendra dengan menariknya untuk menunduk Setelah itu Hani memberanikan diri membenamkan ciumannya pada leher suaminya itu sembari berbisik " Jangan terpancing, paling tidak kita harus menahan emosi kita sampai bisa keluar dari sini terlebih dulu, karena Lebih mudah untuk kita mengurus mereka di luar.
Narendra pun mengikuti saran Haaniya. " Hmm, cepatlah kepalaku semakin pusing." Titah Narendra, sebagai jawaban jika dia setuju anak buah Regan untuk ikut mengantar mereka.
Mereka pun bergegas keluar dari Mansion itu menuju mobil Limousin milik Regan yang tadi di gunakan untuk mengantar Narendra dan Regan ke mansion itu.
Awalnya Narendra ingin protes dan meminta di antara dengan mobil lain, tapi sekali lagi Hani menahannya untuk tidak membuang-buang waktu dengan melakukan hal itu, karena bagi Hani yang terpenting itu mereka bisa keluar dari mansion ini.
Anak buah Regan membuka pintu mobil itu untuk Narendra, Setelah Hani dan Narendra masuk ke dalam mobil, Pria itu kembali menutup pintu mobil sebelum ikut bergabung bersama sang supir di depan.
Mobil itupun bergerak dengan perlahan meninggalkan halaman mansion itu dan Hani sengaja membuka kaca mobil itu untuk memastikan mereka telah benar-benar meninggalkan mansion Regan.
Setelah melewati pintu gerbang mansion itu, Hani kembali menutup kaca mobil itu dan berpindah duduknya di atas pangkuan Narendra. " Kita sudah berada di luar, sekarang kita bisa bersenang-senang tanpa ada yang melihat." Ucap Narendra, namun Hani justru mengeleng kepalanya.
" Kenapa kamu begitu takut, Hmm! Ada aku disini."
" Aku tahu kamu bisa melindungi aku, tapi aku tidak ingin membahayakan nyawa kita berdua dan aku berani bertaruh dalam satu atau dua jam kedepan, Regan akan menyusul kita." Ucap Hani.
"Kamu membuat aku cemburu sayang! Kamu tahu, aku tidak suka kamu lebih mengenal pria itu ketimbang aku suami kamu." Ucapnya.
Plak.
Hani langsung menampar pundak Narendra membuat pria itu mengadu kesakitan, " Yang, kenapa kamu pukul aku?" Tanya Narendra.
"Karena kamu bodoh, bisa-bisanya cemburu di waktu yang tepat. Dengar ya Azzam, sebelum bertindak lebih jauh kamu harus mengenali siapa musuh kamu! Tidak hanya asal datang seperti ini." Jawab Hani sembari mengatai suaminya itu lagi.
" Iya-iya maaf, nanti kedepannya aku akan lebih berhati-hati."
...\=\=\=\=\=\=\=\=...
Disaat mobil Limosin itu telah jauh membawa Hani dan Narendra pergi, Di kamarnya Regan masih berendam di dalam bathtub sambil menikmati segelas anggur terbaik yang dia punya.
Lelaki itu memejamkan matanya, mengingat kembali wajah Haaniya. " Sebentar lagi kamu akan menjadi milikku dan pria tidak berguna itu akan aku tendang keluar dari hidupmu." Gumamnya dengan kedua mata yang terpejam. " Aahh, Ivanna, Haaniya atau siapapun nama kamu! Kamu harus menjadi milikku." lanjutnya lagi dengan khayalan yang masih tentang Haaniya, Haaniya dan Haaniya.