
" Dok." Narendra terlihat begitu panik saat melihat dokter mengeleng kepalanya.
" Anda tidak perlu khawatir, istri anda baik-baik saja! Dia cuma kelelahan, tapi." Dokter sengaja menjeda ucapannya membuat Narendra semakin khawatir dengan keadaan Hani.
Walaupun Narendra sempat bernapas lega saat mendengar Hani baik-baik saja, tapi mendengar ucapan dokter yang menggantung dan sempat mengeleng kepalanya di awal, membuat pria itu jadi kesal sendiri, sebab perasaannya kembali menjadi semakin tak menentu.
" Kalau istri saya baik-baik saja! Terus apa masuk dari gelengan kepala dokter barusan." Ucap Narendra dengan suara yang sedikit meninggi.
" Maaf pak! tadi kepala saya sedikit pusing." Jawab sang dokter tanpa beban sedikitpun. Padahal Jantung Narendra sudah hampir meloncat keluar dari tempatnya dan pikiran buruk yang sudah memenuhi kepalanya.
"Dari hasil pemeriksaan, dugaan saya istri anda sedang mengandung saat ini, hanya saja terdapat memar di kulit perut bagian bawah istri anda dan hal ini juga yang membuat istri Anda terus merasa kesakitan! Saya pribadi belum bisa menyimpulkan apapun dengan keadaan janin itu saat ini, karena kami harus melakukan USG terlebih dulu untuk mengecek keadaan janin di dalam kandungan istri anda." Jelas sang dokter membuat Narendra terdiam.
Di satu sisi pria itu bahagia dengan berita kehamilan Hani, disisi lain dia juga takut terjadi sesuatu kepada Hani dan calon anak mereka.
" Tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya dan calon anak kami, Dok." Pinta Narendra penuh harap.
" Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk menolong istri anda." Balas sang dokter.
Narendra pun hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya lemah, karena dia tidak tahu harus merespon seperti apa! pria juga tengah tengelam dalam pertanyaan, apa yang terjadi kepada Hani sebelum dia bertemu wanita itu.
" Baik pak! Selamat ya atas kehamilan istri anda." Ucap Sang dokter sembari mengulurkan tangannya kepada Narendra.
Sementara Pria itu masih belum sadar dengan apa yang di ucapkan dokter barusan. Karena pikirannya saat ini sedang mengingat-ingat apa yang ia lewatkan, sehingga perut istrinya bisa memar, apa Hani di pukuli, di ancam atau apa pun itu.
Hal itulah yang mempengaruhi pikiran Narendra sampai pria itu mengabaikan ucapan sang dokter.
" Pak anda baik-baik saja?" Tanya sang dokter sembari melambaikan tangannya di depan Narendra, karena pria itu tidak kunjung membalas uluran tangannya.
Setelah itu dokter pun menjelaskan tidak apa yang harus mereka lakukan serta membutuhkan persetujuan Narendra, pria itupun setuju selama itu yang terbaik untuk Hani dan calon anak mereka.
Selesai berbicara dengan dokter, Narendra kembali keluar dan di sana, keluarganya maupun keluarga Hani sudah bergabung bersama Kami dan Ela.
Lita sendiri masih berada di dalam ruangan itu untuk membersihkan wajah Hani.
" Apa yang terjadi?"
" Kamu menemukan dia dimana?"
" Dia baik-baik saja kan."
" Kenapa bisa sampai seperti ini?
Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang di tanyakan keluarga mereka hingga membuat Narendra pusing.
Dia bahkan bingung harus menjawab pertanyaan yang mana terlebih dulu.
" Ren apa kata dokter?" Tanya Kai, Setelah mereka semua diam.
" Hani Hamil, Tapi dokter masih harus melakukan pemeriksaan untuk kandungannya, untuk memastikan hal itu." Jawab Narendra tanpa mengatakan keadaan Hani yang sebenarnya.
" Mel, akhirnya punya cucu kita." Ucap Luna dengan girangnya. Kedua Wanita paruh itu saling berpelukan karena sebentar lagi mereka akan menjadi nenek.
" Aku juga senang banget dengarnya! Semoga Hani dan calon cucu kita, sehat sampai lahiran nanti." Sahut Melly dan mereka semua pun kompak mengamini hal itu.