
Setelah mereka semua pergi, Hani masih terdiam sembari menatap wajah suaminya. " Mengapa kamu ada disini?" Tanya Hani, namun pertanyaan itu hanya berani ia tanyakan di dalam hatinya.
Tok... Tok... Tok..
Pintu kamar itu di ketuk dari luar, membuat Hani langsung membuang pandangannya kearah pintu itu.
" Cepatlah! Jangan diam saja." Suara intrupsi dari dari luar sana, membuat Hani menelisik setiap sudut ruangan itu dan sialnya dia baru tersadar jika ruangan itu terpasang beberapa kamera di tempat-tempat yang pas untuk mendapatkan gambar mereka seperti yang Regan inginkan.
" Sial, mereka pikir aku wanita apaan? Artis film dewasa." Gumam Hani begitu pelan. Walaupun protes namun wanita itu tetap mendekati Narendra yang sedang pingsan kemudian melepaskan kancing kemeja yang pria itu gunakan.
" Azzam." Hani menunduk dan berbisik di telinga pria itu! Berharap suaminya itu segera tersadar namun, Narendra tak kunjung sadar. Membuat Hani semakin kesal saja.
Setidaknya jika pria itu bangun! Dia tidak perlu berkerja keras seperti ini, cukup berbaring dan pria itu yang akan melakukan sisanya, itupun jika Narendra menyadari kalau dia adalah Haaniya istrinya.
Kancing kemeja yang di gunakan Narendra kini telah terlepas semuanya, namun Hani sedikit kesulitan melepaskan kemeja itu dari tubuh Narendra. " Azzam bangun." Hani menepuk-nepuk pipi suaminya dengan begitu kerasnya hingga membuat pria itu terbangun, sembari menahan kepalanya yang terasa ingin pecah.
" Siapa kamu?" Tanya Narendra.
" Aku istri kamu." Jawab Hani, wanita itu tidak ingin menutupi identitasnya lagi dia ingin segera keluar dari tempat mengerikan ini, sementara Narendra mengerutkan keningnya bingung sebab wanita dihadapannya itu mengaku sebagai istrinya.
" Istriku? Jangan gila kamu! Istri aku wanita baik-baik dia tidak akan mungkin menggoda pria yang bukan suaminya." Ucap Narendra sembari mendorong tubuh wanita itu untuk menjauh darinya mengunakan satu tangannya, karena tangan satunya sedang meremas rambutnya.
Mendengar itu Hani langsung merotasikan kedua matanya malas, wanita itu tidak tersipu sedikitpun dengan pujian Narendra. "Azzam, dengar aku! Lakukan sesuatu agar kita keluar dari sini." Pintanya sembari menatap penuh harap.
Hani kini sudah tidak peduli dengan Regan dan dendamnya untuk pria, tujuannya saat ini cuma satu, keluar dari tempat itu. Hani tidak ingin mengorbankan siapapun lagi cukup Irene dan ayah yang menderita karena kebodohannya.
" Siapa kamu?" Tanya Narendra," Kenapa kamu tahu namaku. " Pria itu masih saja bertanya dan tidak percaya dengan wanita di sampingnya itu.
Membuat Hani mende-sah panjang, Hani pun mendekatinya kemudian duduk di atas pangkuan Narendra, tidak peduli Narendra yang terus menolaknya dengan mendorong tubuhnya untuk menjauh.
" Kamu?"
" Ya! Aku Haaniya Dianly Xavier! Bukan Sanjaya lagi, karena suamiku bodoh." umpatnya sembari mendorong tubuh Narendra untuk menjauh darinya. Namun pria itu segera menahan tangan Hani, kemudian melihat kalung yang masih wanita itu gunakan, kalung yang terlihat biasa dan tidak berharga sama sekali namun, mainan kalung yang Hani gunakan adalah cincin pernikahannya dengan Narendra.
"Kamu mengatai aku." Marah Narendra, awalnya dia senang bertemu Hani tapi sedetik kemudian ia langsung tidak suka di Katai bodoh oleh istrinya sendiri.
" Terus menurut kamu aku harus muji-muji kamu karena sudah ada disini gitu? apalagi dengan kamu yang seperti ini, kamu mikir nggak sih?" Ujar Hani, wanita itu begitu sangat menghawatirkan keadaan Narendra sampai ia lupa tujuannya ada di kamar ini tuh apa.
" Maaf aku salah_"
" Sudahlah kita bicarakan itu nanti, Sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana cara kita untuk keluar dari tempat ini." Sela Hani sembari menengelemkan wajahnya pada ceruk leher Narendra membuat gairah Narendra semakin meningkat saja. " Hati-hati di ruangan ini banyak kamera tersembunyi," posisi keduanya yang begitu intim membuat keduanya mudah untuk berbicara kepada satu sama lain.
" Jangan seperti ini, kamu membuat aku tidak tahan, sayang." Ucap Narendra dengan suara yang terdengar serak, sebab panas di tubuhnya semakin menjadi.
" Kamu harus menahannya." Desak Hani. " Ini hanya sementara Azzam sampai kita keluar dari sini, Setelah itu aku akan membantumu." Lanjutnya.
Dengan berat Hati Narendra mengangguk kepalanya, pria itu kemudian beranjak dari ranjang sembari menarik Hani untuk ikut berdiri.
"Bantu aku keluar." Ucapnya, Hani pun menyiapkannya. Wanita itu kemudian memapah Narendra sampai ke depan pintu tanpa merapikan bajunya yang telah dia buka tadi.
Dengan ragu-ragu Hani memutar Handle pintu itu dan begitu pintu itu terbuka! mereka langsung mendapati beberapa Anak buah Regan sedang berdiri di depan pintu begitu juga dengan sang asisten.
" Dimana tuan mu! katakan padanya, aku akan pulang sekarang." Ucap Narendra kepada Asisten Regan.
Pria itu terlihat Ragu untuk mengiyakan ucapan Narendra namun tidak dapat menolaknya juga. " Ayo kita pergi. Oh iya besok tolong jemput wanita ini ditempat aku menginap dan sampaikan terima kasihku, kepada tuan mu." Ucap Narendra lagi, Setelah itu ia melewati asisten Regan begitu saja.
" Tunggu." Ucap seseorang dari belakang sana membuat langkah keduanya terhenti.