
Setibanya di Rooftop, Dion melihat Lita sedang duduk di atas tembok pembatas Rooftop itu dengan kaki yang menggantung bebas ke bawah, wanita itu terlihat enjoy, tak ada perasaan takut sedikitpun. " Anak-anak ini." Gumam Dion perlahan sembari terus mendekati gadis itu.
" Ada apa?" Tanya Lita tanpa melihat kebelakang, untuk mengetahui siapa yang datang.
Insting wanita itu begitu kuat, walaupun dia terlihat santai, tapi dia mengunakan instingnya dengan baik.
"Turunlah, Hani mencari-mu." Ucap Dion.
Wanita itupun berbalik, kemudian melompat turun dari tempat duduknya dan berjalan melewati Dion begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun. Membuat Dion mende-sah panjang sembari melihat punggung Lita.
" Anak itu! Tidak ada sopan-sopan nya." Gumam Dion. Sembari melangkahkan kakinya untuk mengikuti Lita.
Setibanya di depan ruangan Hani, Lita langsung masuk kedalam ruangan itu. Melewati anggota keluarga Sanjaya dan Xavier yang sedang duduk menunggu di izinkan masuk untuk melihat kondisi Hani di dalam sana, paling tidak mereka ingin mengucapkan selamat kepada wanita itu.
Sayangnya Hani tidak ingin di ganggu! Tadi saja setelah Dion pergi Narendra sudah mencoba untuk masuk, namun Hani memintanya keluar dengan alasan dia ingin sendiri, pengecualian untuk Lita.
" Bunda nggak tahu, hal baik apa yang sudah kamu lakukan untuknya! Sehingga dia begitu bergantung padamu, bunda sangat berterima kasih untuk hal itu dan maaf kami harus merepotkan kamu untuk menemaninya. Tolong temani dia ya sayang." Ucap Dian penuh Harap.
Wanita itu sampai takut, jika Hani tidak bertemu dengan Lita entah apa jadinya anak itu.
" Bunda tidak perlu berterima kasih! Dia sahabatku! Dan apa yang aku lakukan ke dia, tidak ada apa-apanya di bandingkan apa yang telah dia lakukan kepada-ku bunda." Sahut Lita sembari tersenyum tulus.
Lisa yang melihat hal itu, melirik sinis kepada Lita." Bilang saja kamu takut kehilangan semua fasilitas mewah yang di berikan Hani. Pake sok-sokan balas Budi segala." Ucap wanita itu dalam hatinya, karena dia tidak ingin menjadi amukan Dian.
Ceklek.
Lita membuka pintu ruang rawat inap Hani, lalu melangkah kedalam ruangan itu. " Han." Panggilnya dengan begitu lembutnya saat melihat Hani sedang memejamkan matanya. " Kamu tidur?" Tanyanya lagi.
Lita pun mengambil botol air mineral yang masih tersegel di atas nakas samping tempat tidur Hani, kemudian membukanya, lalu meletakkan sedotan kedalam botol air kemasan itu, barulah ia membantu Hani untuk minum.
" Terima kasih Ta!"
Lita tersenyum sembari mengangguk kepalanya. " Kamu butuh sesuatu lagi?" Tanya Lita, setelah meletakkan botol air kemasan itu ke tempat semula.
" Iya! Tolong bantu aku untuk duduk." Jawabnya.
Lita pun membantu Hani untuk duduk. Walaupun sebenarnya Hani masih bisa duduk sendiri! Tapi rasa nyeri di perutnya masih sedikit terasa, sehingga wanita itu sedikit berhati-hati.
"Ta duduk sini deh." Hani melipat kedua kakinya, kemudian menepuk sisi kosong di depannya, tepat di atas tempat tidur itu.
Jika sudah seperti itu, Lita tahu sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja! Dia butuh teman cerita dan tempat bersandar juga dan sejauh ini Lita masih jadi tempat ternyamannya.
Lita naik keatas ranjang itu, seperti yang diinginkan Hani . Lita pun duduk bersila didepan Hani.
" Ta, aku takut?" Ucapnya dengan suara yang begitu pelan dan terdengar bergetar, wanita itu hampir menangis.
" Apa yang kamu takutkan?" Tanya Lita sembari mengenggam kedua tangan Hani.
Wanita itu tidak langsung menjawab pertanyaan Lita! Ia mengangkat wajahnya hingga menatap pada sahabatnya itu dan Lita bisa melihat cairan bening yang telah memenuhi kelopak mata sahabatnya.
" Aku takut_" Hani mendongak keatas, untuk menahan laju air matanya, walaupun hal itu sia-sia karena cairan bening itu tetap menetes membasahi kedua pipinya.
Lita memeluk-nya, sembari mengusap punggung Hani. " Aku takut rasa sayangku kepada mereka akan berubah." Ucapnya sembari terisak.