HAANIYA.

HAANIYA.
Pesan sang papa.



Setelah dirawat satu Minggu, akhirnya keadaan Narendra mulai membaik dan bisa kembali ke perusahaannya.


Sayangnya, kehadiran Narendra hari ini di perusahaan bukan untuk berkerja seperti biasanya. Pria itu datang ke perusahaan itu untuk mengadakan meeting dengan pemegang saham sekaligus menyerahkan jabatannya kepada Arga sang kakak.


Walaupun keputusan ini di tentang keras oleh sang ayah, Reval dan kakeknya, Sanjaya, Juga Arga sendiri karena kehadirannya di perusahaan Jayden masih sangat di butuhkan. Tapi keputusan Narendra sudah bulat.


Pria itu ingin fokus mencari keberadaan Hani, walaupun pengacara istrinya itu kerap kali datang untuk mendesaknya menandatangani surat permohonan perceraian itu, namun Narendra tidak sekalipun menurutinya, bahkan Aiden sang ipar selalu mendesaknya untuk melepaskan Hani dengan segala macam ancaman hingga keduanya sering berakhir adu kekuatan pun tidak menyurutkan tekad Narendra untuk tetap mempertahankan Hani sebagai istrinya.


Dalam rapat itu semua pemegang saham Hadir, Terkecuali satu orang Haaniya dan Hal ini sudah biasa terjadi. Karena sekalipun Hani belum pernah menghadiri rapat pemegang saham.


Setelah rapat itu berakhir, Reval menghampiri Putranya itu untuk berbicara dengannya.


" Papa tidak akan mencegah kamu nak! Tapi sebelum kamu mencarinya, tanya Hati kamu terlebih dulu apa benar wanita yang kamu inginkan adalah Hani." Ucap Reval kepada putranya itu.


" Ya Aku selalu menginginkan dia." Reval mengangguk kepalanya, paham akan jawab Narendra.


" Jika benar seperti itu! Jangan pernah melibatkan wanita atau pria lain dalam hubungan kalian, Hanya karena ingin lepas dari masalah, selama kita hidup masalah itu akan tetap ada. Yang kalian lakukan itu menghadapinya sama-sama bukan melibatkan orang lain dalam menyelesaikan masalah kalian, bisa saja itu adalah awal dari masalah yang baru." Pesan Reval, seakan paham dengan apa yang di lakukan Narendra kemarin.


Usai berbicara dengan sang papa dan menyerahkan posisinya kepada Arga, Narendra pulang ke rumah. Dia harus bersiap-siap untuk pergi ke Negera yang sama yang dia datangi bersama Kai, beberapa bulan yang lalu.


Karena Hatinya mengatakan jika cintanya ada di sana, walaupun orang kepercayaan dia dan Kai Sudah menyelidiki keberadaan Hani di sana dan mereka tidak menemukan apapun. Tapi Hatinya seolah meyakini jika itu ada di sana.


" Alice, cepatlah jangan sampai kita terlambat, aku belum ingin menjadi sasaran tembak tuan Regan yang berikutnya." Ucap seorang pelayan, sembari berlari kecil mendahului Hani yang masih berjalan santai.


Hingga mereka sambil di depan pintu ruang utama, kemudian Hani dan pelayan lainnya di minta berdiri berjejer di sana untuk menyambut kedatangan Regan.


Hampir setengah jam, mereka berdiri menunggu hingga akhirnya Regan datang juga.


" Selamat malam, selamat datang kembali, tuan ." Ucap Madam Jenny.


" Selamat malam Jenny, terima kasih." Sahut pria itu sembari tersenyum Hangat dan sedikit membungkuk untuk memeluk madam Jenny.


Setelah berbasa-basi sejenak dengan madam Jenny, pria itu melangkah menuju lift, melewati puluhan pelayanan yang berdiri sembari menunduk kepala mereka saat Regan lewat di hadapan mereka.


Begitu Tubuh Regan melangkah masuk kedalam lift, pelayan-pelayan itupun membubarkan diri dan kembali ke paviliun, menyisakan belasan pelayan yang akan melayani Regan untuk makan malam.


" Alice, bagaimana pendapat kamu tentang tuan Regan?" Tanya Irene, salah seorang pelayan yang berjalan beriringan dengan Alice menuju paviliun. " Dia sempurna bukan." Lanjutnya lagi, membuat Hani tersenyum simpul.


" Seandainya, aku bisa menjadi nyonya di mansion ini! Uuhh senang." Wanita itu masih melanjutkan khayalan, sementara Hani hanya menggeleng kepalanya saja. Melihat tingkah wanita itu.


" Oh iya Alice, kira-kira siapa ya, yang akan menjadi nyonya Rumah ini? Pasti dia akan sangat di cintai, seperi di film-film itu." Wanita itu seakan tak ada lelahnya membicarakan Regan, sementara Hani hanya menaikkan kedua bahunya, acuh tak acuh.