
Tidak terasa waktu terus berlalu dengan begitu cepatnya, waktu 6 bulan yang mereka janjikan di awal kini tiba pada penghujungnya.
Keharmonisan mereka, kebersamaan mereka serta cinta yang mereka tunjukkan dalam satu bulan terakhir ini, hilang ketika narendra pulang ke rumah orang dengan menggandeng Nahla.
Saat itu semua keluarga mereka berkumpul di ruang keluarga terkecuali Naela, karena mereka berpikir perjanjian ini telah berakhir mengingat akhir-akhir ini hubungan narendra dan hani terjalin dengan begitu baiknya, kakek Sanjaya sampai meluangkan waktu untuk makan malam bersama anak, menantu, cucu serta cucu menantunya tapi siapa sangka lelaki paruh bayah itu akan di Suguhkan keadaan seperti ini.
Dan kenyataan yang terlihat saat ini membuat semua orang yang ada di ruangan itu kaget dan tidak bisa berkata-kata.
" Narendra! Apa-apaan ini?" Teriak Luna, Namun pria itu terlihat santai memeluk dan mencium Nahla di depan anggota keluarganya. Termasuk Hani sang istri.
" Mah, Aku sudah melakukan peran ku sebagai suami yang baik selama 6 bulan ini dan kini sudah saatnya aku kembali kepada wanita yang aku cintai, sudah terlalu lama aku menyakiti nya hanya untuk membuat kalian semua bahagia. Dan hari ini di depan kalian semua aku akan kembali pada keputusan aku sebelumnya, dimana aku akan menikahi Nahla. " ucap narendra dengan begitu yakin nya sembari menatap satu persatu anggota keluarganya yang ada di ruangan itu.
Sementara hani sendiri hanya bisa tersenyum simpul. Hatinya teriris dengan apa yang di lakukan pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
Baru kemarin pria itu berjanji akan membantunya menghadapi regan tapi nyatanya hari ini semuanya berubah. Dia dengan tidak berperasaan menunjukkan Nahla di depan keluarga Sanjaya dan untuk kedua kalinya padahal hani masih berstatus sebagai istrinya.
Hani sungguh merasa Dejavu, satu hari setelah pernikahan mereka Narendra juga membawa Nahla dan mengatakan anak menikahinya juga mencintai wanita itu dan di hari terakhir perjanjian Mereka, dia kembali melakukan hal yang sama.
"Ma kini saatnya mama menempati janji mama! mama berjanji akan merestui hubungan aku dan Nahla jika sampai pada akhirnya, aku juga tidak bisa mencintai Hani. " Ucap narendra lagi, sementara semua orang diruang itu masih diam, karena mereka tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Tapi kedua orang itu terlalu sombong dengan mengabaikan uluran tangan Hani," Tidak usah ber basa-basi langsung saja bereskan barang-barang kamu dan silahkan pergi dari sini."
" Narendra_"
" Abang_"
Teriak semua orang yang ada di ruangan itu sembari menatap iba kepada Hani. Sedangkan Nahla sendiri! Wanita itu merasa berada di atas awan, karena pada akhirnya Narendra kembali kepadanya.
" Hani, sayang." Panggil Luna, sembari mencoba untuk menahan tangan menantunya.
Tapi Hani justru melepaskan tangan mertuanya itu. " Mah, tolong jangan buat Hani malu lebih dari ini, Hani mohon." Tatapan Wanita itu, sarat akan kekecewaan. Luna pun melepaskan tangannya.
Setelah Luna melepaskan tangannya, Hani langsung berlari ke kamarnya, membereskan semua barang-barang yang dia punya, Nayna yang melihat hal itu langsung menyusul kakak iparnya.
" Mbak Hani! Jangan seperti ini? Kalau kalian punya masalah ngomong baik-baik, aku nggak mau punya kakak ipar lain, selain mbak Hani . Tolong mbak di pikirkan lagi, Kak Ela juga pasti tidak akan terima kalau mbak hani di perlakukan seperti ini. " Nayna terus membujuk Hani, namun Hani tidak mendengarnya, Wanita itu mengambil barang-barangnya yang dirasa penting serta beberapa potong pakaian kemudian keluar dari kamar itu, di ikuti Nayna yang masih memohon untuk dia tidak pergi.
"Sudah! silahkan pintunya di sana." Ucap Narendra lagi. Saat wanita itu berhenti tepat di hadapannya.