
Hani yang baru terbangun meraih ponselnya di atas nakas, menyalahkan layar ponsel itu untuk melihat jam! Waktu telah menunjukkan angka tiga Lewat lima belas menit. Wanita itu hanya tidur sejam dan membuat kepalanya terasa begitu pusing.
"Sakit banget." Gumamnya kemudian kembali berbaring, berharap rasa sakit di kepalanya sedikit berkurang.
Lima belas menit berbaring, Hani merasa sedikit lebih baik! Wanita itu kemudian beranjak dari ranjang. Ia ingin membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket.
Begitu ia selesai membersihkan dirinya, Hani merasa lebih baik! Wanita itu pun duduk di sofa, menunggu Lita kembali. Tak lama setelah itu pintu kamarnya terbuka dari luar. " Kamu sudah bangun? Kenapa tidak menghubungiku?" Tanya Lita yang baru saja masuk di ikuti Hana di belakangnya, karena Ela masih tertidur, Lita pun tadi sempat tertidur sedikit, hingga ia telat datang menemui bersyukurnya Hana datang dan membangunkannya.
" Aku baik-baik saja Lita." Sahut Hani, yang di tanya apa yang di jawab apa, membuat Lita memutar bola matanya, Malas." Terserah kamu saja! Kamu sudah makan belum?" Tanya Lita dan Hani menjawab dengan gelengan kepala.
" Nanti saja! Aku belum lapar." Ingin sekali Lita mengetuk kepala sahabatnya itu, bisa-bisanya ia menjawab seperti itu.
" Tidak Hani, kamu harus makan, sebentar lagi mua dan desainer akan datang untuk membantumu bersiap-siap untuk pesta malam ini kamu. Harus makan sekarang." Lita terus mengomel. Gadis itu terkadang bisa menjadi sahabat, assisten, pelindung sekaligus ibu untuk Hani, seperti sekarang ini.
Ia mengambil makanan yang telah di pesankan untuk Hani, menyiarkannya di piring kemudian duduk di atas meja tepat di depan Hani dengan segelas air putih.
Walaupun terlahir dari keluarga kaya dan memiliki kekayaan yang berlimpah, Hani bukanlah orang yang pemilih makanan, mau makan itu mahal, murah, baru di masak atau sudah dingin Hani tetap menikmatinya! Karena wanita itu sadar disini ia masih bisa makan namun di luar sana banyak yang sulit untuk mendapatkannya.
" Buka mulut kamu! Aa." Ucap Lita, sembari menyodorkan sendok berisi makanan itu ke mulut Hani, wanita itupun tidak menolak.
" Kamu juga makan." Ucap Hani, kemudian mengambil sendok dari tangan Lita, kemudian menyuapinya. Mereka berdua pun menghabiskan makanan itu berdua sementara Hana hanya melihat dan diam-diam mengabadikan gambar di mana Hani menyuapi Lita begitu pun sebaliknya. Kemudian membagikan foto itu, ke akun media sosialnya dengan Caption.
Kalian selalu bertanya kepada aku tidak punya sahabat? Karena aku ingin memiliki sahabat seperti mereka. Bukan Manis di depan tapi di belakang menikam.
Begitu Hani dan lita selesai makan! Mua dan desainer yang membantu datang bersama Melly. Hani pun pamit ke kamar mandi untuk sikap gigi sebelum ia didandani.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Malam semakin Larut tamu Undangan yang menghadiri pesta pernikahan itu terus berdatangan. Sepanjang jalannya acara, Nahla tidak terlihat dimana begitu juga dengan Kevin, Asisten Narendra. Mungkin saja ia tengah di tugaskan untuk membawa Nalha pergi sehingga wanita itu tidak perlu sakit hati melihat pernikahan Narendra dan Hani.
Hani yang sudah sangat lelah, karena harus berdiri berjam-jam mengunakan high heels di tambah gaun pengantin yang begitu berat itu. Meminta izin Melly dan Luna untuk kembali ke kamarnya terlebih dulu, namun ia di tahan oleh Narendra. " Norah banget sih, baru pakai high heels segitu doang udah mengeluh lelah! Atau jangan-jangan kamu sengaja ingin mempermalukan aku dengan membiarkan aku duduk sendiri di sini." Tuduh Narendra membuat Hani mengalah dan bertahan sebentar lagi. Wanita itu bahkan melepas high heels-nya. Karena kakinya benar-benar pegal.
Satu jam kemudian, tamu pun perlahan mulai berkurang, Luna yang kasian kepada Hani, meminta Narenda untuk mengajak Hani kembali ke kamar terlebih dulu, sisa tamu yang datang biar menjadi urusan mereka.
Hani pun merasa begitu senang, akhirnya ia terlepas dari penyiksaan berkedok pesta pernikahan. Hani dan Narendra pun di atas oleh petugas hotel menuju kamar presidential suite. Dimana mereka akan menghabiskan malam pengantin mereka.
" Silahkan, selamat berbahagia semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah." Ucapan petugas hotel yang mengantar mereka dan meninggalkan kedua pasangan baru itu setelah menutup pintu kamar mereka dari luar.
Begitu mereka tinggal berdua, Narendra tiba-tiba tertawa sembari bertepuk tangan, membuat Hani bingung dengan tingkahnya, apalagi pria itu sembari memanggil namanya dua kali. " Haaniya Dianly Xavier!Apa hebatnya kamu selain bersenang-senang keliling dunia dan merusak hubungan orang lainnya?" Tanya pria itu setelah meredakan tawanya.
Pertanyaan yang baru saja dilontarkan Narendra sungguh menusuk. " Bersenang-senang keliling dunia dan merusak hubungan orang lain?" Tanya Hani, sengaja mengulang perkataan Narendra sembari menautkan alisnya.
" Ya! Katakan?" Semakin bingung Hani. Pasalnya ia tidak merasa pernah merusak hubungan orang lain, kenapa dia harus di tuduh untuk hal itu! Ia pun tidak pernah berkeliling dunia. Dia hanya menetap di beberapa negara untuk menyelesaikan studinya, New Zealand dan Amerika lebih tepatnya. Untuk negara lainnya, ia terpaksa harus berada di sana untuk kepentingan pekerjaannya. " Kenapa Diam? Bingung mau jawab apa! Atau kamu sudah tidak tahan untuk di sentuh olehku."
Hani, langsung memijit pelipisnya! Yang tiba-tiba berdenyut nyeri mendapat tuduh demi tuduhan dari pria yang baru sehari menjadi suaminya. " Tuan Narendra Azzam Sanjaya, yang terhormat! Jangan terlalu menganggap rendah orang lain! Karena tidak semua yang telinga kamu dengar dengan mata melihat, itu benar adanya."
" Hahaha!" Pria itu kembali tertawa." Kamu sedang membelah diri sekarang. "
Hani yang tidak tahan dengan sikap suaminya, melangkah mendekati Narendra! Kemudian menarik kerah tuksedo yang di gunakan pria itu." Apa masalahmu?" Tanyanya, menelisik wajah suaminya.
" Masalahku adalah menikah dengan kamu, masalahku adalah kamu, kamulah sumber masalahku." Tegas pria itu sambil menepis tangan Hani. Kemudian menepuk-nepuk kerah tuksedo-nya seakan jijik dengan sentuhan istrinya itu. " Kamu itu_" Narendra tidak meneruskan kata-katanya karena pintu kamar mereka tiba-tiba di ketuk dengan begitu keras.
" Aku apa? memangnya kamu tahu apa tentang aku?" Tanya Hani, tangannya bergerak untuk menahan langkah Narendra saat ingin membuka pintu itu! Kilatan kemarahan tergambar jelas dari manik indah Hani.
" Berhentilah berpura-pura Haaniya, aku tahu kamu menerima pernikahan ini karena tidak ingin kehilangan harta kamu dan saham yang di janjikan papa dan kakek aku. Aku tahu semuanya Haaniya, bahkan aku tahu semua tentang kamu, karena Lisa sudah menceritakan semuanya kepadaku. Tentang kamu yang tidak suka di atur, itu sebabnya kamu memilih tinggal di asrama, tentang kamu yang suka kebebasan dan memilih tinggal jauh dari orang tua kamu dan semua yang kamu lakukan di luar sana aku mengetahuinya bahkan aku lebih mengenal kamu dari diri kamu sendiri." Ucap pria itu sembari menunjuk-nunjuk wajah Hani.