HAANIYA.

HAANIYA.
Pertanyaan Hani



Setelah melepaskan beban hatinya di bawah pancuran air shower dan merasa lebih baik wanita itu langsung bergegas menyelesaikan mandinya, sebab di luar sana sang bunda-nya terus memanggil-mangli namanya.


" Sebentar bunda." Teriaknya, agar di dengar sang bunda sembari meraih handuk, kemudian melilitkan ke tubuhnya, setelah itu ia kembali meraih handuk yang lebih kecil, guna melilitkan ke rambutnya yang basah. barulah ia melangkah keluar kamar mandi itu.


" Sayang kenapa kamu lama sekali? Bunda panggil-panggil juga, kamu nggak jawab. Kamu buat bunda khawatir tahu nggak." Aku Dian yang sejak tadi bolak-balik kesana-kemari di depan pintu kamar mandi Hani layaknya setrikaan rusak dan kini dapat bernafas lega saat melihat putrinya itu keluar, kamar mandi dalam keadaan baik-baik saja..


" Maafin Hani ya Bun! Hani udah buat bunda kuatir, tadi itu Hani nggak_"


" Udah nggak papa sayang! Bunda cuma mau mastiin kamu baik-baik saja di dalam. Sana ganti baju! nanti kamu masuk angin. Bunda tunggu kamu di bawah ya." Setelah mengatakan hal itu Dian keluar meninggalkan Hani.


Memberikan privasi kepada putrinya itu, mengingat usia Hani sudah tidak kecil lagi. Dimana untuk berpakaian saja harus Melly dan dia yang Carikan, namun waktu berlalu dengan begitu sangat cepat hingga masa-masa itu tidak dapat di ulang kembali.


Setelah bundanya pergi Hani bergegas masuk kedalam walk in closed. Outfit yang ia pilih hari ini sedikit formal karena siang nanti ia ada meeting dengan staf hotelnya.


Setelah memastikan penampilannya di cermin! Hani pun turun kebawah menyusul bundanya, tak lupa membawa tas, sehingga ia tidak perlu bolak-balik, begitu mendapatkan izin untuk pergi ke hotel.


Begitu Hani tiba di ruang tamu Hani, wanita itu sedikit terkejut, saat melihat banyaknya tamu yang datang untuk melihatnya. pemandangan seperti ini bukan sesuatu yang baru untuk Hani karena sewaktu kecil kebiasaan seperti ini sudah menjadi acara rutin dan wajib orang tua mereka.


Namun melihatnya kembali setelah sekian lama, justru membuat Hani merasa tidak nyaman dan ingin segera pergi dari sana! Karena Haaniya yang sekarang sudah nyaman berteman sepinya.


" Kamu Haaniya! Ya Tuhan kamu cantik sekali, Nak kemari-lah sayang izinkan, calon mertua mu ini memeluk kamu dan melihat kamu." Ucap Luna sembari menghampiri Hani kemudian memeluknya. " Tante senang akhirnya kamu kembali juga. " Lanjutnya sambil mengusap punggung Hani.


Kata-kata Luna barusan, bagaikan sebuah tamparan keras yang menyadarkannya. akan perjodohan dia dan Narendra. Sungguh sejak lama dia sudah tidak menginginkan hal itu, tapi dia bingung bagaimana cara menyampaikannya. Sang kakek yang biasa menjadi tempat memohon kini sudah tidak ada.


Tapi Hani pura-pura tak melihatnya dengan memaksa bibirnya untuk tersenyum kepada mereka semua yang ada di sana. Jujur saja ia begitu canggung ketika diajak oleh Luna untuk duduk di tengah-tengah mereka.


Luna, Nurul dan Dina, terus memujinya dan sesekali mengajak bercerita dan Hani pun menjawab seadanya, kadang kalah ia hanya mengangguk dan mengeleng kepalaku saja, jika tak ingin menjawab atau tak punya jawaban atas pertanyaan mereka.


Setelah itu Hani di perkenalkan kepada anak-anak! Mereka, makin terkejut lagi Hani dan ia masih harus memaksakan bibir tersenyum, juga bersikap senatural mungkin.


" Oh iya Bang, Hani-kan lulusan terbaik nih! Kenapa Abang tidak rekrut dia jadi Sekertarisnya Abang aja! Kebetulan kan sekertaris Abang yang satunya kan lagi cuti lahiran." Pria itu langsung menatap tak suka dengan saran dari mamanya apalagi, Nahla juga ikut bersama mereka tadi dan saat ini memasang wajah cemberutnya dan sesekali menggeleng kepalanya, agar Narendra paham jika ia tidak ingin Hani berkerja dengan mereka.


" Ma! Lulusan terbaik bukan berarti saat di lapangan dia bisa! Please deh ma, jangan menambah-nambah pekerjaan aku dan Kevin hanya untuk mengajarkan dia. Lagian kan ada perusahaan om Dion, kenapa dia tidak belajar dulu di sana. Atau paling nggak dia mulai dari mengurus hal kecil seperti yayasan atau sekolah yang kalian punya. Lisa-kan juga gitu, memulai segala sesuatu dari bawah. Kenapa dia nggak! Hanya karena di lulusan terbaik salah satu universitas di luar negeri." Alasannya panjang kali lebar.


Walaupun alasan itu cukup masuk akal, tapi untuk Hani, itu terlalu arogan dan meremehkan dirinya, sehingga tanpa sadar wanita itu tersenyum menyeringai sembari tertawa mengejek, Narendra. " Memangnya apa kehebatan-mu." Hani balik bertanya setelah menguasai perasaannya.


" Serius kamu bertanya kepada aku seperti itu." Ujar Narendra sembari menertawakan balik Hani , sementara Hani sendiri hanya menaikkan kedua bahunya tidak peduli." Catat ini baik-baik di otak kecil kamu." Narendra kemudian menunjuk pelipisnya sendiri, seraya berkata." Sekarang akulah pemimpin di perusahaan papa, "


" Hanya itu! apa hebatnya? Kamu hanya melanjutkan apa yang sudah ada! Jika kamu ingin. Menyombongkan diri! Bangunlah usahamu sendiri dan saat kamu berjaya, maka disitulah kamu berhak mempertanyakan kemampuan orang lain tapi ingat untuk tidak merendahkan mereka. " Balas Hani membuat Narendra terdiam untuk beberapa saat. Karena pada kenyataannya ia hanya meneruskan apa yang sudah ada. " Om, Tante! Hani mohon izin ada yang harus Hani lakukan." Wanita itu pamit kepada mereka yang ada di sana karena cacing di perutnya sudah mulai berdemo minta di isi dan bersyukurnya, Ia tidak tahan.


Hani pun pergi ke dapur, mencari sesuatu yang bisa ia makan! Tanpa ia sadari, nahla mengikutinya dari belakang. Wanita itu ingin memberikan pelajaran kepada Hani dengan menjambak rambutnya, tapi belum sempat Nahla melakukannya. Hani sudah berputar, mengangkat kaki kanannya keatas, kemudian meletakkan kakinya di atas dada wanita itu dan mendorongnya pelan kebelakang hingga mentok di dinding, posisi Kaki hani seperti angka tujuh, sebelah kiri di lantai dan kanan tetap di da-da Nahla.


" Jika hanya ingin bermain-main carilah lawan yang sepadan ya cantik! Atau paling nggak kenal kenali dulu siapa lawan. " Usai mengatakan hal itu. Hani langsung menurunkan kakinya, kemudian meninggalkan Nahla dengan rasa keterkejutannya.


Karena Hani yang begitu tenang bisa beladiri! juga membalas serangan sebelum ia mengambil ancang-ancang. " Kali ini kamu menang! tapi lain kali, aku akan menghilangkan wajah sombong mu itu." Ucap Nahla sambil mengepalkan tangannya, setelah itu ia kembali keruang keluarga, bergabung dengan yang lain.