HAANIYA.

HAANIYA.
The End



Sakit yang di rasakan Hani semakin sering dan Ketika rasa sakit itu datang Hani mencengkeram kuat tangan Narendra sembari memejamkan matanya. Ia berusaha menikmati setiap rasa sakit hingga terkadang ia tanpa sadar menitihkan air matanya. "Honey jangan di gigit bibir kamu, nanti luka." Tegur Narendra begitu melihat Hani mengigit bibirnya.


" Tapi sakit Azzam, kenapa mommy belum datang juga." Ucapnya di sela-sela ia menahan rasa sakitnya.


Hingga tanpa sadar Hani pun menitipkan air matanya, ia ingat jika hanya dia dan mamanya seorang diri dulu, lalu siapa yang menggenggam tangannya di saat mamanya kesakitan.


" Sabar ya Honey, mungkin mommy dan yang lainnya masih dijalan, kita tunggu saja." Ucap Narendra, pria itu mengusap Perut Hani dan terus menguatkan dirinya.


Andai Hani Mau cara yang instan, Narendra akan dengan senang Hati mengabulkannya mengingat saat ini ada dua nyawa yang akan lahir tapi Hani menolaknya ketika dokter mengatakan kandungan Hani baik-baik saja dan bisa melahirkan normal karena posisi kedua anaknya bagus.


Tak lama setelahnya, pintu ruangan itu terbuka, Melly Masuk dengan Panik di ikuti Dian dan keluarga Xavier Lainnya.


Hani yang sejak Tadi terus menahan rasanya sakitnya kini. Langsung menangis sembari memeluk tak terhitung berapa banyak kata maaf yang ia lontarkan.


" Jangan sayang, jangan seperti ini, bangun lah." Melly menahan tubuh putrinya itu ketika Hani mencoba untuk berlutut didepannya. " Kamu tidak salah sayang, jangan melakukan hal itu sama mommy. Karena mommy tidak pernah marah sama Hani, mommy sayang sama Hani." Ucap Melly. Wanita itu di bantu Narendra dan Dian menuntun Hani ke tempat tidur.


" Mommy, bagaimana jika Hani tidak bisa_"


"Huusss jangan berbicara seperti itu. Kamu wanita yang kuat, kamu wanita hebat kamu bisa, mommy percaya Hani bisa melewati ini. " Melly terus menguatkan putrinya.


Hingga beberapa jam berlalu, akhirnya kedua Bayi itu lahir dengan proses normal. Keduanya terlahir dalam keadaan sehat tanpa kurang satu apapun. Sayangnya beberapa menit setelah mereka di lahir-kan Hani mengalami pendarahan Hebat hingga perlahan kesadaran Hani pun menghilang di ikuti jeritan Melly, serta Narendra yang memanggil namanya karena mereka yang menemani Hani diruang bersalin.


Narendra menangis memanggil nama Hani berharap wanita itu membuka kedua matanya sembari menepuk pipi Hani yang sudah seputih kapas.


Hatinya sakit di suguhi pemandangan itu, ketakutan dan semua yang buruk-buruk terlihat di kelapa walaupun ia terus mencoba menepisnya. " Honey, kamu sudah janji untuk memulai bersamaku, kamu baru mencintai aku dan kamu belum memeluk mereka, buka mata kamu lagi Honey! Kita kami membutuhkan kamu."Ucap Narendra masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


Sama seperti Narendra Melly pun tidak bisa menahan Tangisnya, hingga mereka yang ada di luar mendengar Hal itu dan ikut menangis, ketika suster yang mengantar kedua bayi itu keluar dan mengatakan apa yang terjadi kepada Hani di dalam.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Lima tahun kemudian...


Tidak terasa waktu berlalu dengan begitu cepatnya, kedua bayi yang di lahir-kan Hani kini telah tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan cerdas, kedua Anak itu tidak sama seperti anak-anak pada umumnya, yang suka berlari dan bermain, mereka lebih suka menghabiskan waktu berdua sembari bermain game dan gemar membaca, walaupun usia mereka baru lima tahu tapi ejaan mereka sudah begitu lancar.


Kedua Anak itu berjenis kelamin laki-laki dan di beri Nama. FARRAS ALRICK SANJAYA yang memilik dan FARRIS AREND SANJAYA. Keduanya biasa di panggil Aren dan Alri.


" Ar, kamu berbuat ulah lagi." Tanya wanita paruh bayah itu ketika kedua cucunya langsung pulang kerumahnya, bukannya ke rumah mereka.


Jika sudah seperti ini Melly bisa menebak jika cucunya itu pasti Menjahili teman mereka di sekolah dan takut untuk pulang ke rumah, jika sudah seperti ini rumahnya atau rumah Luna menjadi tempat pelarian mereka walaupun keduanya lebih senang ke rumah Melly, karena di sana lebih sunyi dan baru mereka berdua cucu keluarga Xavier saat ini.


"Gemmi, Ar tidak melakukan apapun dianya saja yang cengeng, baru di lepas ikat rambutnya sudah menangis, nggak seru." Sahut Aren tidak ingin di salahkan.


" Bukan itu saja kamu juga menjatuhkan anak laki-laki itu hingga hidungnya berdarah." Sahut Al, memberi laporan kepada Nenek mereka, yang suka di panggil Gemmi itu.


" Good boy! Kalau bisa patahkan kakinya. Uncle punya dokter terbaik untuk menyambungkan_"


" AIDEN." Bentak Melly yang tidak suka cucunya di ajari yang tidak-tidak.


" Baik uncle, nanti Ar lakukan jika dia kembali menganggu Al."


" Bagus." Puji Aiden yang tidak menghiraukan teguran Melly. Sementara Melly hanya bisa mengelus dadanya melihat anak dan cucunya.


Walaupun mereka kembar, tapi sifat mereka sangat jauh berbeda, Alrick pendiam dan terkesan introvert sementara Arend suka sekali membuat masalah dan dia akan membuat drama untuk membela dirinya jika ketahuan bersalah belum lagi kebiasaan dia yang suka berkelahi membuat orangtuanya pusing tapi tetap memakluminya.


Sementara itu di ruangan lain, seorang wanita melangkah masuk keruangan kerja Narendra lalu meletakkan tasnya begitu saja di atas meja kerja Narendra hingga membuat pria itu menghentikan kerjaannya. " Honey, ada apa?" Tanya Narendra yang sudah hafal betul wajah istrinya. Dia yakin putra keduanya itu kembali membuat ulah di sekolah mereka.


" Kamu masih bertanya." Sahut wanita itu, ia tidak suka Narendra terlalu memanjakan Arend, setiap dia akan menghukum anak itu, Narendra akan datang untuk menghentikannya.


" Sayang dia hanyalah anak-anak, dia belum mengerti apapun, jangan terlalu keras kepadanya." Ujar Narendra sembari menarik tangan wanita itu, lalu mendudukkan dia ke pangkuannya.


" Kamu memang selalu seperti itu. Jangan terlalu memanjakan mereka."


" Maaf honey, aku tidak bisa melakukan itu, karena aku hanya punya dua anak." Tolak Narendra sembari mencium pipi istrinya.


" Ya sudah kalau begitu, kita berikan mereka adik, aku ingin anak perempuan_"


" Tidak, kita tidak membutuhkan anak lagi, mereka berdua saja sudah cukup." Tolak Narendra dengan tegas, masih terekam jelas di ingatannya Hani yang pendarahan hingga hampir merenggang nyawa, sejak saat itu dia berjanji untuk tidak punya anak lagi, dia tidak ingin melihat Hani dalam keadaan seperti itu untuk kedua kalinya, baginya Alrick dan Arend saja sudah cukup.


Walaupun Hani terus merengek ingin memiliki seorang putri, namun Narendra selalu menolaknya.


" Azzam, hanya satu orang putri ya_"


" Tidak honey, sekali tidak tetap tidak." Tegas Narendra.


" Ck, Menyebalkan sekali." Hani langsung beranjak dari pangkuan Narendra.


" Honey, mau kemana?" Tanya Narendra.


" Pulang."


" Kamu tidak ingin bersenang-senang terlebih dulu?" Tawar Narendra membuat langkah wanita itu terhenti dan berbalik lalu berjalan kearah suaminya.


Tanpa banyak bicara, ia langsung menarik dasi Narendra dan membawanya masuk kedalam ruang pribadi Narendra. Siang itu mereka habiskan untuk bergulat di atas ranjang yang ada di ruangan itu, mencari kepuasan masing-masing.


The End.