HAANIYA.

HAANIYA.
Harus melakukan sesuatu!



"Kenapa wajah kamu di tekuk gitu." Tanya Luna begitu anak dan menantunya bergabung bersama mereka di ruang makan.


Wanita itu tidak tahu, jika dia baru saja menganggu usaha anaknya untuk mendapatkan kenikmatan, yang dia inginkan selama ini.


"Maaf ma, kita telat." Ucap Hani, tak ingin menjawab pertanyaan Luna yang sengaja di tanyakan kepada Narendra, wanita itu memilih untuk duduk di tempatnya, Sementara sang suami masih menatap tak suka kepada Luna, wanita yang telah melahirkannya itu.


"Nggak papa sayang, mama tahu pasti di sengaja menyulitkan kamu lagi kan?" Sahut Luna. Padahal yang dia persulit adalah anaknya. " Kamu juga, ngapain cuma berdiri disitu."Bentak Luna kepada putranya itu. Ia bahkan membalas tatapan Narendra tak kalah tajamnya.


"Jika mama terus seperti ini, Hari ini juga aku akan membawa istriku pindah dari sini." Sahut Narendra tiba-tiba, membuat Luna bingung, bahkan putranya itu tidak kunjung duduk seperti yang di minta Luna.


Salahkah seorang ibu memperhatikan putranya, kalau pun salah, terletak dimana kesalahan dia. Dia hanya meminta mereka turun untuk sarapan bersama dan meminta Narendra untuk duduk di tempatnya. Kenapa wajah putranya itu terlihat kesal kepadanya seakan di telah melakukan kesalahan besar kepadanya.


"Azzam duduk." Haaniya yang melihat wajah bingung Luna serta mengerti kekesalan Narendra langsung menarik tangan Narendra untuk duduk di tempatnya, Sehingga tidak menambah beban pemikiran mama mertuanya. Narendra pun menuruti Hani, ia dengan malas duduk di tempatnya. Kepala atas dan bawahnya yang terus berdenyut membuat moodnya menjadi buruk pagi itu, sangat buruk malah.


" Tau nih, bang Rendra, cuma di suruh sarapan aja susah. Pakai marah segala." Sahut Nayna.


"Eh anak kecil tahu apa kamu?" Bentak Narendra. Pria itu terlihat seperti wanita yang sedang datang bulan, di senggol sedikit aja langsung ngegas.


" Rendra apa-apa sih kamu."Reval pun ikut membentak putranya itu. Karena Narendra sudah sangat keterlaluan, masa cuma karena di desak buat sarapan dia sampai segitunya, marah-marah nggak jelas kepada semua orang.


Narendra yang benar-benar dalam mood yang buruk langsung beranjak dari tempat duduknya. Tanpa berkata-kata lagi. Bahkan teriakkan Luna yang memanggil-mangli namanya di belakang sana tidak ia pedulikan sama sekali.


Melihat hal itu, Hani pun pamit kepada kedua mertuanya untuk menyusul Narendra dan begitu ia sampai di luar rumah, mobil Narendra sudah meleset dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumah itu.


Ada perasaan bersalah di hatinya, karena sengaja menahan Narendra untuk menuntaskan hasratnya dengan bersolo karir. Padahal dia tahu jika pria yang berada di tahap Seperti itu benar-benar harus di tuntaskan.


Hani melangkah kembali kedalam rumah mertuanya, wanita itu tidak kembali keruang makan untuk sarapan bersama mertua dan adik iparnya, sebab ia harus mengembalikan mood suaminya itu.


Hani masuk kedalam kamarnya, mengambil ponselnya yang berada di atas nakas kemudian menghubungi, Dino.


" Halo kak!" Ucap Hani begitu panggilan itu terhubung.


" Ya honey, ada apa?" Tanya Dino dari seberang sana.


"Tolong siapkan kamar untukku malam ini." Ucap Hani to the point.


"Kamu akan menginap disini?" Tanya Dino.


"Ya."


" Dengan Lita dan Ela atau sendiri?" Tanya Dino lagi. Karena pria itu tahu, Wanita yang telah ia anggap seperti adiknya sendiri itu, tidak mungkin mengajak seorang pria untuk menemaninya.


"Tidak keduanya, kamar itu aku pesan untuk aku dan Narendra, kakak tahukan apa yang harus kakak lakukan?" Sahut Haaniya, wanita itu tidak perlu banyak bicara untuk menjelaskan apa yang akan mereka lakukan, karena Haaniya yakin, Dino pasti sudah paham dengan ucapannya.


" Terima kasih, aku tutup ya kak ada yang harus aku lakukan."


Begitu mendapat jawaban dari Dino, Hani langsung mengakhiri panggilan itu, kemudian mengirim pesan kepada Narendra.


~Malam ini, jam dua belas aku tunggu di Hotel Grand Secret H, Kamu bisa bertanya kepada Resepsionis, kamar yang di booking atas namaku.~


Begitu pesan itu terkirim, Narendra tidak langsung melihatnya, pria itu mungkin masih berada di jalan.




Siang Harinya, Haaniya mengajak Lita untuk melakukan perawatan di sebuah klinik kecantikan yang cukup terkenal.


Lita tentu saja setuju dan tidak akan menolak, bukan karena dia suka melakukan hal itu tapi dia tidak dapat menolak permintaan Haaniya.


Karena tanpa wanita itu, mungkin nasib dia, ibunya serta puluhan pekerjaan malam yang Hani bebaskan dari rumah bordil dimana ia tumbuh itu. Mungkin saja hidup mereka tidak akan seenak Sekarang.


Bahkan mereka di berikan pilihan oleh Haaniya, ini tetap dengan pekerjaan mereka atau mencoba pekerjaan baru. Awalnya tiga puluh persen dari mereka saja yang ingin mencoba pekerjaan baru dan sisinya terlalu mencintai pekerjaan hina itu, tapi semakin kesini. Hanya tersisa dua puluh persen saja. Karena sisanya memilih menjalani hidupnya dengan sebagai mana mestinya, banyak dari mereka yang sudah menikah karena cinta satu malam dan yang lain masih memilih sendiri dengan pekerjaan yang baru.


Dan hebatnya dia, walaupun dia menghilang tanpa kabar, ia tetap memastikan para pekerja di clubnya mendapatkan jaminan keamanan dan kesejahteraan. Tanpa pengecualian.


"Apa mommy Sudah ngomong sama kamu? Minggu depan dia akan keluar dari club." Ucap Lita sembari menikmati pijatan di tumbuhnya.


" Ya, papi kamu mengajaknya untuk tinggal bersama." sahut Hani membuat mata Lita yang sedang tertutup langsung terbuka.


Jelas sekali wanita itu tidak suka Hani menyebut laki-laki itu sebagai papinya. Sikap sang papi nya yang lemah dan tidak bisa bertanggung jawab membuat hidupnya bersama sang mommy seperti ini. Bersyukurnya ia bertemu dengan Hani. " Dia bukan orang tuaku Haniya. " Nada suara Lita begitu dingin. Membuat Hani ingin tertawa.


" Tapi kenyataannya memang seperti itu. Lagian kamu ada karena rasa cinta mereka."


"Itu bukan cinta tapi Nafsu, lagian aku heran sama mami, udah di sakiti dan di campakkan masih aja mau kembali kepada pria seperti itu. " Ucap Lita tak habis pikir dengan sikap sang mommy.


"Itulah cinta Lita sayang, mungkin sekarang kamu tidak akan mengerti tapi suatu saat kamu pasti akan mengerti. Karena cinta membuat orang sanggup menerima dan memaafkan."


"Ciih kamu telah berlebihan. " Desis Lita, membuat Hani tersenyum.


Siang itu keduanya menghabiskan waktu untuk memanjakan tubuh mereka, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, mulai dari bagian terluar sampai bagian terdalam.


Selesai perawatan, Hani dan lita langsung menuju club untuk menyelesaikan pekerjaan mereka, karena malam itu Hani juga harus memilih orang baru untuk mengantikan mommy Mayang. Dan pilihannya jatuh pada Bianca orang kepercayaannya dan mommy Mayang.


Selesai dengan urusannya di club Hani langsung menuju Hotel dimana ia akan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Narendra suaminya.