HAANIYA.

HAANIYA.
Minimal sedikit rasa!



Tepat jam sepuluh malam Hani tiba di hotelnya, wanita itu tidak langsung masuk ke dalam kamar yang telah di siapkan untuk malam panjangnya dengan sang suami.


"Kak Dino belum pulang kan?" Tanya Hani kepada Resepsionis yang bertugas malam itu.


"Sebentar mbak, saya check dulu." Sahut sang resepsionis dengan name tag Liliani itu, kemudian mengambil ganggang telpon untuk menghubungi seseorang.


Wanita yang berprofesi sebagai resepsionis itu sudah tahu siapa wanita di hadapannya ini. Karena sebelum menanda tangani kontrak, mereka sudah di tunjukkan foto Hani, tanpa di beri tahu apa posisinya di hotel itu, mereka hanya di minta untuk menghormati wanita itu tanpa banyak bertanya.


Jika tidak sanggup dan ada yang berani bersikap kurang ajar kepada Hani, maka siap-siaplah untuk berurusan dengan Dino, sekali pun Hani memberi maaf tapi hal itu belum tentu akan berlaku untuk Dino, tidak hanya Dino saja. Karena Lita pun tak kalah tegasnya.


Dan hal itu tidak berlaku untuk sang resepsionis saja! Tapi untuk seluruh pekerja di hotel itu, maupun anak cabang tempat lain.


Sikap Hani yang terlalu baik hati, memang pantas jika, di sandingkan dengan orang yang tidak mengenal ampun seperti Dino.


" Pak Dino masih di ruangannya mbak." Ucap resepsionis itu, memberitahu setelah menutup sambungan teleponnya.


" Terima kasih Lili." Ujar Hani sembari menyuguhkan senyum termanisnya untuk sang resepsionis. Sebelum berlalu pergi dari tempat itu.


"Asli lihat secara langsung jauh lebih cantik ya! Mana ramah banget lagi." Ucap salah satu teman resepsionis Liliani, setelah memastikan punggung Hani telah menghilang dari dari pandangan mereka.


"Iya, aku aja baru sekali ini lihat langsung mbak Hani itu." Liliani pun menyahuti ucapan temannya. " Pasti lelaki yang bersamanya beruntung banget, memiliki istri seperti itu! Udah cantik baik hati. Pokoknya mbak Hani itu paket komplit, cantik luar dalam deh.


Mereka terus saja, memuji-muji bos mereka itu. Hingga menanger hotel yang hendak pulang menegur mereka.


Bukan karena tidak suka mereka membicarakan Hani, tapi sang manager tidak ingin pembicaraan itu terdengar sampai keluar, mengingat banyak orang yang ingin tahu siapa pemilik hotel itu.


Di tempat lain, Haaniya melangkah dengan anggun memasuki ruangan kerja Dino. Walaupun pria itu adalah orang yang dia bayar, tapi sopan santun tetap Hani terapkan di hidupkan. Untuk itu sebelum dia masuk sudah pasti dia akan mengetuk pintu dan menunggu sahutan dari dalam sana.


"Maaf apa aku menganggu, waktu kakak?" Tanya Hani, setelah di izinkan masuk.


"Tidak sama sekali, aku justru sedang menunggu kedatangan kamu." Sahut Dino, pria itu beranjak dari tempat duduknya, menghampiri wanita itu, memeluk dan mencium kedua pipinya.


Setelah itu keduanya memilih untuk duduk di sofa yang masih berada di ruang kerja Dino.


"Kenapa kakak tungguin aku?" Tanya Haaniya.


"Kakak ingin tahu aja alasan kamu! Nggak ada angin, nggak ada hujan tiba-tiba kamu minta di siapkan kamar untuk kamu dan suami kamu itu." Sungut Dino, pria itu terlihat kesal namun tidak dapat melarang Hani dia cukup tahu batas di antara mereka, walaupun terkadang di berpikir untuk melewati batasan itu. Namun sejauh ini dia masih bisa mengendalikan semuanya dengan baik.


"Ya kamu memang tidak salah dan sudah merupakan kewajiban jika seorang istri ingin menyenangkan suaminya! Tapi yang jadi masalahnya kamu cinta nggak sama dia." Tanya Dino tak habis pikir dengan apa yang di rencanakan Haniya.


"Memangnya harus ya! Aku cinta sama dia dulu baru menyenangkan dia gitu. Nggak juga kan, aku ini istrinya, bukan kah sudah seharusnya aku melakukan hal itu, kepada harus dipermasalahkan sih kak. Toh cepat atau lambat kita juga akan melakukannya, kita sama-sama normal." Dino di buat geleng-geleng kepala dengan ucapan Hani.


"Sebelum, kakak minta maaf, dari ujung rambut sampai ujung kaki kamu, kakak nggak bermaksud untuk memaki kamu atau menghina kamu. Tolong Jangan salah paham, kalau kamu melakukanya hanya karena nafsu, apa bedanya kamu dengan jala-ng di luar sana. Minimal pupuk sedikit rasa di hati kamu untuk melakukan itu semua, agar kamu tidak menyesalinya. Paling tidak, anak yang terlahir dari kalian itu karena rasa cinta walaupun sedikit, bukan karena nafsu."


"Kakak tenang aja aku nggak akan menyesalinya dan aku juga tidak akan hamil anaknya. Dan aku juga tidak peduli orang lain menganggap aku seperti apa. Jala-ng, pembangkang atau apapun itu aku nggak peduli, memangnya kapan aku terlihat baik di mata orang lain, di mata mommy ku sendiri saja aku selalu salah dan egois kok, jadi biarkan seperti itu. Aku pamit ke kamar." Hani langsung beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan itu tanpa peduli, Dino yang terus memanggil-manggil namanya.


"Sial." Umpat Dino, sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak tahu kenapa ia harus se-marah ini.


Sementara itu disisi lain, Haniya langsung masuk ke kamar yang telah di sulap spesial untuknya malam ini. Dengan kelopak mawar yang bertaburan dari langit sampai di atas ranjang. Tumpukan kelopak mawar yang di susun membentuk hati.


Dan masih banyak keindahan lainnya, Haaniya tidak menyangka, walaupun Dino menentang keras keputusannya tapi pria itu tetap meminta pegawai hotelnya untuk mempersembahkan terbaik di atas terbaik, khusus untuknya.


Untuk menunggu kedatangan Narendra, suaminya, Haaniya memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dulu dengan berenang.


Disisi lain, Narendra terus saja marah-marah tidak jelas, tidak terhitung berapa banyak karyawannya yang menjadi sasaran amukannya hari ini. Bahkan Nahla dan Kevin pun kebagian jatah amukan sang bos.


Pria itu seharian fokus untuk berkerja! Bahkan tidak sempat untuk melihat ponselnya. Saat jam kerja berakhir ia tetap memilih lembur mengingat malam ini Hani akan pergi bersama Lita untuk mengecek masalah di clubnya, Hingga KAI datang dan mengajaknya ke club, Haaniya, barulah Narendra beranjak dari tempat duduknya, ia mengambil ponselnya kemudian memasukkan kedalam sakunya begitu saja. Hingga ia tidak membaca pesan dari Hani.


Tepat jam sepuluh malam, ia tiba di club. Kai minta ruang pribadi untuk mereka, sebab hari ini dia sedang marahan dengan kekasihnya. Sehingga pria itu hanya ingin melampiaskan kekesalannya dengan minum sepuasnya malam ini di temani oleh Rendra.


Rendra yang mulai bosan hanya berdua dengan Kairan, memanggil pelayan untuk di panggil kan Haaniya, namun pelayan itu terlihat ragu. Mengingat tidak semua orang yang mengetahui nama pekerja serta pemilik club.


Tapi Narendra berhasil menyakinkan pelayanan itu. " Mbak Hani-nya udah pulang sejam yang lalu. " Jawab pelayan itu membuat Narendra mengerutkan keningnya.


" Pulang? Bukannya dia akan pulang terlambat?" Gumam Narendra tidak percaya begitu saja dengan ucapan pelayan itu.


" Ya kalau anda tidak percaya anda bisa menghubungi mbak Hani untuk menanyakan keberadaannya." Sahut sang pelayan, sembari memberi usul, sementara Kai sudah tidak begitu peduli, karena pria itu sudah mulai mabuk, akibat terlalu banyak minum.


Mendengar saran pelayan itu, Narendra langsung mengeluarkan ponsel dari saku jasnya untuk menghubungi Haniya, tapi satu menit kemudian, pria itu langsung mengumpat kesal. Bagaimana tidak dia baru membaca pesan istrinya itu di saat waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam kurang lima menit.


Tak ingin membuat sang istri menunggu, Narendra langsung menghubungi samna kekasih, Kairan dan memintanya untuk datang, setelah mendengar kata iya dari wanita itu. Narendra langsung bergegas meninggalkan tempat itu untuk menemui Hani.