
Hani tidak mengerti, entah kenapa akhir-akhir ini dia sering menunjukkan kelemahannya itu di hadapan Narendra. Dia bahkan sampai menangis tersedu-sedu seperti sekarang ini.
Sesuatu yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Bahkan saat bersama Keenan dulu, dia tidak pernah sampai se-cengeng ini.
Dibilang cinta juga tidak, dibilang percaya atau nyaman juga sulit untuk dia lakukan secepat itu. Tapi mungkin saja hani bersikap se-mellow ini, Kerena dia sudah berada di tahap yang sangat membutuhkan kasih sayang serta perhatian Saja.
" Sudah merasa lebih baik?" Tanya narendra begitu tangisan Hani Reda. Sembari merapikan anak rambut Hani yang berjatuhan menutupi wajah wanita itu, kemudian menyematkan anak rambut itu pada tahun telinga Hani. " Kamu rindu banget ya sama mommy." Tanya narendra, Hani pun dengan cepat mengangguk kepalanya, sebab begitulah perasaannya dia saat ini.
"Ya, kalau boleh memilih aku juga tidak ingin jauh dari mommy, tapi hati aku juga tidak siap tersakiti dengan mommy yang terus sejak menyalahkan aku, terus berpikir bahwa aku akan seperti ini dan seperti itu, untuk kebaikan aku. Bahkan mommy meminta aku mengalah dengan alasan aku lebih baik, aku sudah bisa dan aku telah memiliki semuanya. Tapi mommy lupa, kalau Haaniya ini selain pintar dan baik menurut bunda, dia juga sosok yang egois, sejak kecil mommy sudah sering melihat hal tapi kenapa harus lupa, mommy tau aku nggak suka di kalahkan dalam hal apapun, mommy tahu aku nggak suka terlalu lama dia abaikan, mommy tahu aku nggak suka berbagi milikku dengan orang lain, terkecuali untuk Alasan tertentu. Tapi mommy merubah semuanya semenjak bertemu Daddy dan kedatangan Lisa. Aku benci semua itu." Ucapnya panjang kali lebar, dan saat berbicara seperti ini hani sudah tidak menangis lagi seperti tadi. " Aku bukan wanita hebat. AKu hanya wanita biasa yang juga ingin di sayang, karena aku juga memiliki hati sama seperti wanita lain." Lanjutnya, membuat Narendra tersenyum sembari mengangguk kepalanya.
Narendra terus aja memancing Hani untuk terus berbicara dan mengeluarkan semua unek-unek nya. Tanpa hani Sadari sang mommy yang menjadi topik pembicaraan mereka tengah duduk membelakangi Haaniya.
Wanita itu datang ke rumah sakit itu untuk menemui salah satu teman dokternya. Melly di panggil untuk membicarakan keadaan pasien, salah satu temannya itu dengan harapan, Melly mau membantu menangani pasien itu.
Tentu saja melly dengan senang hati akan membantu teman dokternya itu. Setelah menemui kesepakatan dan rencana untuk tindakan selanjutnya, kepada pasien yang akan mereka tangan bersama itu, keduanya pun memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan mereka di kantin, sekaligus sarapan bersama.
Tapi siapa sangka hal itu justru membuatnya mengetahui isi hati dari Hani, putrinya.
Melly begitu merasa bersalah sekaligus berdosa, karena telah menelantarkan hani selama ini tanpa dia sadari. Wanita itu berpikir dengan kasih sayang yang Hani terima dari Dian, itu sudah lebih dari cukup untuk Hani, karena selama ini hanya tidak pernah mempermasalahkan apapun yang Melly lakukan dan selalu menuruti keinginannya.
Air mata wanita itu jatuh bercucuran tanpa bisa ia cegah, ia ingin menolehkan wajahnya untuk melihat putrinya itu, tapi dia terlalu malu untuk melakukannya. Melly ingin memohon maaf kepada Hani, kalau bisa dia ingin bersujud untuk kelalaiannya sebagai seorang ibu.
Dulu dia sering bertanya kenapa putrinya itu menjauh tapi kini dia telah menemukan jawabannya, semua itu karena dirinya, semua itu karena keegoisan, semuanya karena dia yang tanpa sengaja, mendorong Hani untuk menjauh.
" Sayang, sarapan dulu! Nanti makanannya dingin." Ucap narendra membuat Hani mau tak mau menyudahi tangisannya.
Wanita itu mengangguk kepalanya kemudian, mengusap kedua pipinya, untuk menghapus jejak basah di pipinya, sebelum kembali ke tempat duduknya semula. " Terima kasih." Ucap Hani begitu tulus karena narendra sudah mau mendengar ceritanya, dan mau menjadi sandaran disaat dia membutuhkannya seperti sekarang ini.
" Jangan berterima kasih, apa yang aku lakukan sama itu sudah sewajarnya. Karena aku mencintai kamu Haaniya." Hani tersenyum simpul, kemudian menggeleng kepalanya begitu mendengar ungkapan perasaan suaminya itu.
" Jangan suka mengambil kesempatan dalam kesempitan." Ucapnya penuh Arti, sambil menyendok sarapannya, ke dalam mulutnya.
" Apa yang ku katakan itu dari hati yang paling dalam, bukan untuk memanfaatkan situasi, sayang, aku sungguh-sungguh mencintai kamu." Ucapnya begitu serius tapi tidak dianggap sama sekali oleh Hani.
Hani itu justru sibuk menikmati sarapannya tanpa mau menyahuti ucapan Narendra, karena jika dia membuka mulutnya yang akan keluar dari bibirnya itu pasti. " Kalau kamu mencintaiku, kapan itu terjadi, sebelum mereka menikah, sebelum dia kembali, sebelum dia mengenal Nahla atau sesudah menikah dan masih banyak pertanyaan di benak Hani, hingga wanita itu tidak dapat menerima ungkap cinta Narendra! Ia juga bukan remaja labil yang akan langsung klepek-klepek dengan tiga kata itu.