
BRUUKK.
Mobil itu tiba-tiba di tabrak dari arah samping, sehingga membuat mobil berputar-putar, hingga menabrak mobil lain dan terserat beberapa meter jauhnya sampai membentur beton pembatas jambatan.
Bersyukurnya, mobil yang mereka curi, memiliki keamanan tingkat tinggi, sehingga keduanya tidak sampai terluka parah. " Honey, kamu baik-baik saja bukan." Tanya sang pria, masih sempat-sempatnya ia mengecek kondisi wanitanya. Padahal sudah jelas ia yang terluka cukup parah disini. Pelipisnya berdarah serta beberapa memar dan goresan di wajahnya. " Apa ini sakit honey?" Tanya sang pria lagi. Mengusap memar di pelipis wanita itu, sesekali meniupnya.
"Aku baik-baik saja! Kamu yang terluka." Wanita itu begitu khawatir saat melihat darah menetes di wajah kekasihnya.
" Honey, aku akan baik-baik saja, selama kamu tidak terluka, karena luka yang aku punya tidak seberapa sakitnya di bandingkan melihatmu terluka, seperti ini ! Aku jauh lebih sakit, untuk itu kamu harus berjanji untuk kembali honey."
" Keenan_"
" Honey, sekali saja! Jangan keras kepala. Kamu marah dan kecewa dengan orang tua mu, tidak begini caranya, honey kamu terlalu jauh melangkah! kembalilah demi aku." Ucap pria itu. Karena wanita yang bersamanya sangat sulit untuk di yakinkan. " Ayo honey, kita harus bergerak sekarang, karena mereka mulai mendekat." Wanita menengok kebelakang, setelah itu keduanya pun segera bergegas keluar dari mobil itu saat melihat beberapa orang berjas hitam berlari kearah mobil mereka.
Dor.. Dor... Dor
Bunyi suara tembak, tak menghentikan langkah sepasang kekasih itu, untuk terus berlari di atas jembatan. Tautan tangan sang pria tidak pernah lepas dari wanitanya, walaupun sudah ada dua peluru yang bersarang di lengan dan pergelangan tangannya.
Namun pada akhirnya langkah sepasang kekasih itu harus berhenti ketika mereka di kepung tepat di pertengahan jembatan, sang pria menarik tubuh wanitanya, kemudian menatap air laut di bawa sana. Berharap nasib baik berpihak pada mereka jika keduanya melompat kebawah.
" Ivanna, kemari-lah sayang! Kita lanjutkan pernikahan kita dan aku akan memaafkan dia." Seorang pria bertuksedo putih bersandar pada Limosin putihnya, yang baru saja berhenti tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Sang wanita yang di panggil ivanna itu, menatap kepada kekasihnya dengan mata yang berkaca-kaca, sembari mengeleng kepalanya kecil, ia begitu takut jika wajahnya di kenali, karena saat ini dia sedang tidak dalam penyamaran. MUA, yang di tugaskan tugaskan untuk meriasnya begitu teliti sehingga ia memaksa untuk melepaskan segala hal yang menempel di wajahnya. Bersyukur sebelum mereka datang untuk membawanya ke altar, Keenan sudah lebih dulu datang.
Kenan memeluk erat tubuh kekasihnya, kemudian menyatukan pelipisnya yang masih meneteskan darah segar itu ke wajah kekasihnya, hingga wajah wanita yang di panggil ivanna itu tidak tidak dapat di kenali.
Setelah itu, Keenan tertawa mengejek pria di hadapannya, " Regan, Regan, Regan. Kamu itu harus menerima kenyataan kalau Ivanna adalah milikku, dah tak akan aku serahkan kepadamu, silahkan kamu cari wanita lain, yang ingin kamu aja bersenang-senang! Tapi tidak dengan wanitaku. Tuan Regan Arvenio Elbarack."
Ucapan pria itu membuat. Regan tersenyum menyeringai kepada keenan sembari mencium unjung pistolnya. " Jika aku tidak dapat memilikinya, maka atau pria manapun di dunia itu tidak akan bisa memilikinya." Pria itu kemudian mengarahkan pistolnya kepada sang wanita dan menembaknya sebanyak tiga kali, namun hal itu tidak membuat sang wanita terluka karena peluru itu telah di halau oleh Kenan dengan tubuhnya.
Hingga peluru-peluru itu langsung menembus da-danya. Tapi tidak membuat sang pria kehilangan kesadaran. Karena di detik berikutnya ia langsung memeluk tubuh wanita itu dan melompat ke air.
"Ivanna_"
"Hani, Haaniya buka mata kamu. Haaniya bangun." Hani pun terbangun dan mendapati wajah khawatir Lita." Masih mimpi yang sama lagi." Tanya Lita sembari menyerahkan segelas air putih kepada Hani, seperti biasanya.
Wanita itupun mengangguk sambil meneguk air itu dalam satu kali tegukan. " Apa Hana melihatku dalam keadaan seperti tadi?" Tanya Hani, menyerahkan gelas bekas minumnya kepada Lita. Gadis itupun, menjawab dengan gelengan kepala.
" Hana sudah bangun sejak pagi, hari ini kan, hari pertamanya ospek."
" Oh gitu! Syukurlah."
" Tamu siapa! Aku tidak merasa mengundang seseorang." Tanya Hani.
" Bukan tamu kamu sih, mereka adalah sahabat-sahabatnya mommy dan Daddy kamu, katanya sih mereka ingin melihat kamu. Ela juga ada di bawah, tapi aku sengaja meminta bunda untuk tetap menahannya di bawah sampai kamu bangun, dengan alasan jet lag." Jelas Lita. Hani pun hanya merespon dengan anggukan kepala.
" Terima kasih! Kamu sudah mengerti aku sejauh ini, Lita." Ucap Hani sembari beranjak dari tempat tidurnya.
" Jangan berlebihan Hani, ini tidak seberapa dengan apa yang kamu lakukan kepadaku dan mommy! Harusnya akulah yang berterima kasih bukan kamu." Ujar Lita. Karena tanpa usaha Hani, mungkin sampai detik ini ia dan mamanya masih berada di tempat seperti itu.
Walaupun mereka masih bergelut dengan dunia malam, tapi Hani membuat keberadaan mommy-nya dan para wanita-wanita yang sudah terlalu nyaman dengan dunia mereka lebih bisa di manusiakan, tidak ada penyiksaan dan kekerasan lagi seperti dulu. Bahkan Hani memberi mereka pilihan untuk tetap atau menjadi lebih baik, sesuai keinginan mereka.
Di luar sana semua orang sibuk, memperkerjakan, mereka yang terampil dan memiliki pendidikan tinggi. Sementara Hani justru merangkul mereka yang membutuhkan pekerjaan dan melatih mereka menjadi orang-orang terbaiknya! Semua itu tanpa campuran tangan orang tuanya, bahkan Lita berani bertaruh. Orang tuanya akan langsung pingsan jika tahu siapa Hani.
" Mulai deh! Kebiasaan." Keluh Hani, gadis itu tak suka jika Lita mengungkit kebaikannya, sekali pun itu benar adanya. " Mending, kamu hubungi kak Dino! Katakan Siang ini aku akan ke hotel untuk meeting. Hubungi mommy juga. Entar malam jam tujuh kita kesana." lanjutnya seraya melangkah masuk kedalam kamar mandi.
" Kamu yakin mau langsung kerja! Kita baru tiba loh belum juga istirahat, masih jet lag ini aku."
" Ya udah kamu hubungi kak Dino dan mommy aja! Nanti aku dan Ela yang ke tempat mommy, kamu istirahat aja. Soal hotel kan ada kak Dino yang temani aku." Ucap Hani, sebelum ia menutup pintu kamar mandi.
...\=\=\=\=\=\=...
Di dalam kamar mandi, Hani terus memikirkan tentang mimpi-mimpinya Dia kini sudah berada di tengah-tengah keluarganya seperti keinginan pria itu! Tapi kenapa ia masih sering memimpikan kejadian-kejadian kelam itu. " Kenapa takdirku sangat menyedihkan, Keenan! Aku punya segalanya tapi kenapa aku selalu kesepian! Dan di saat duniaku baru saja berwarna, aku harus di pukul mundur oleh keadaan. Kamu yang aku harapkan untuk membuat hidupku lebih berarti justru membuatku semakin sakit. Kamu ajarkan aku arti cinta sampai pada titik paling tertinggi, dengan mengikhlaskan-mu! Kamu membuat aku jatuh cinta sampai aku jatuh, sejatuh-jatuhnya. kamu yang aku cintai tanpa sengaja dan harus mengikhlaskan-mu dengan terpaksa. Keenan kenapa kamu begitu jahat." Di bawah pancuran air shower, ia kembali menumpahkan kesedihannya dengan menangis dalam diam.
Dia yang terlihat sempurna dan tanpa beban ternyata menyimpan luka yang dalam untuk ia rasakan sendiri, sekejam inikah takdirnya.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Buat yang sering tanya mereka anak siapa aja. oke aku jelaskan.
Melly anaknya tiga. Haaniya, Aiden dan Haanaya.
Luna anaknya tiga. Narendra, Naela dan Nayna.
Dian anaknya dua. Gio dan Abian.
Lita itu sahabat Hani, mamanya itu seorang wanita malam sudah aku jelaskan di berbagai cinta.
Lisa sama Arga bukan sepupu ya! cuma karena Lisa di angkat sebagai anak Dion dan Arga di angka sebagai anak Jayden. karena Jayden dan Dion sepupu. mereka mengajarkan kepada anak-anak mereka kalau mereka itu sepupu. cuma dasarnya anak-anak mereka Badung dan sok ke barat-baratan jadinya gitu.
Udah ya kalau ada pertanyaan lagi. silahkan komen di bawah 🤗